Arsip untuk Desember, 2008

Proyek senjata biologi NAMRU-2

Posted in NUBIKA PASIF on Desember 31, 2008 by zeniad

US NAMRU-2Tiga puluh tahun lebih NAMRU-2 telah bekerja di Indonesia. Selama itu pula nggak banyak yang mempersoalkannya. Padahal sejak mulai beroperasi pada tahun 1968 banyak ‘kekayaan’ Indonesia yang ‘dicuri’ oleh lembaga penelitian militer asal Amerika Serikat itu. Melalui kajian dan penelitiannya, pastilah banyak rahasia Indonesia yang terbongkar.Sayangnya nggak banyak pula orang yang tahu bahwa NAMRU-2 sangat berbahaya bagi keamanan Indonesia. Selama ini orang-orang Amerika bersama paspor diplomatik yang disakukannya bisa dengan leluasa mengimpor-ekspor berbagai macam spesimen virus, bakteri, protozoa dan sejenisnya dari dan ke Indonesia. Sementara Indonesia, hanya jadi ajang keculasan mereka.

NAMRU-2 singkatan dari Naval Medical Research Unit Two, yaitu sebuah lembaga riset yang bernaung dibawah Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Mereka melakukan penelitian tentang penyakit-penyakit menular, seperti malaria, HIV, AIDS, dsb. Pengelolanya adalah Angkatan Laut dan militer AS yang personelnya berjumlah kurang lebih 19 orang, mereka semua memiliki paspor diplomatik. Padahal seharusnya hanya dua orang atau satu saja yang boleh memiliki paspor diplomatik, direktur beserta wakilnya. Entah kenapa bisa begitu, Amerika memang jago berdiplomasi.


Kru Angkatan Laut yang bekerja di NAMRU-2

Inilah yang agak aneh dan bikin curiga. Masa bidang keahliannya di Angkatan Laut, militer, tapi malah concern terhadap penyakit-penyakit menular. Hal ini seharusnya ditangani oleh orang-orang yang relevan di bidangnya. Tapi, kalau kita lihat sepertinya mereka membajak WHO deh. Anehnya lagi, mereka meminta paspor diplomatik. Untuk apa tok? Apa urusannya dengan peneliti? Orang yang ngambil kuliah di jurusan ilmu politik dan hubungan internasional tahu apa itu cover diplomatik. Itu berarti mereka meminta suatu fasilitas yang mereka inginkan untuk membawa masuk dan keluar segala sesuatu ke negara ini tanpa intervensi dari aparat Indonesia.

Jelaslah yang namanya koper, tas dan bagasi nggak boleh diutak-atik oleh sembarang orang, tapi kalau aparat berwenang yang berhak memeriksa demi alasan keamanan nggak boleh ngutak-atik juga, pantaslah kalau kita makin curiga bergiga-giga. Apalagi sampel yang mereka teliti selalu tentang penyakit-penyakit menular, kenapa nggak penyakit degeneratif semisal, kanker, jantung, dll. Karena untuk membuat senjata biologi, dibutuhkanlah sampel-sampel dari penyakit menular bukan penyakit degeneratif.

Mungkin itu alasan untuk meng-cover incoming dan outgoing hasil riset mereka dalam tas-tas diplomatik. Ada sesuatu yang mereka kerjakan secara sembunyi-sembunyi dan tidak boleh diketahui oleh publik – TOP SECRET.

 


Lalu untuk apa mereka ada di Indonesia?  Keberadaan mereka pada awalnya memang memberi manfaat, tapi itu dulu waktu wabah pes atau dikenal dengan bubonic plague yang melanda wilayah Boyolali, Jawa Tengah pada tahun 1968. Karena dinilai sukses, bantuan itu lalu diangkat menjadi sebuah kerjasama permanen yang dituangkan dalam sebuah MoU dan diteken bersama oleh Dubes AS dengan Menkes RI pada 16 Januari 1970.

Mereka berdalih terus meneliti tentang penyakit malaria, DBD, hepatitis, diare, PMS, AIDS dan berbagai penyakit tropis yang khas di Indonesia. Karena menurut mereka Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat menarik untuk diteliti. Katanya memang banyak membantu program pemberantasan penyakit malaria dan TBC. Mereka bekerja di Direktorat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Depkes. P2M ini fokusnya adalah TBC. Jadi memang ada manfaatnya. Tapi yang jadi persoalan adalah kuman-kuman (bakteri, virus dan protozoa) itu diteliti oleh mereka kemudian dibawa keluar-masuk dari Indonesia. Entah untuk apa? Kita tidak tahu. Karena nggak semua orang punya akses, inilah persoalan yang paling urgen.
Sedangkan kerugiannya jelas, Indonesia dikadalin. Ini ilmu kadal namanya. Kita diberi sedikit bantuan yang sifatnya nggak terlalu esensial. Lipstick Aid, sifatnya kosmetik, temporer nggak permanen. Tapi mereka dapat untung luar biasa dari belajar mengenai penyakit menular ini. Dan yang menjadi pertanyaan adalah buat apa dipelajari kalau penyakit menular ini tidak ada di negara mereka? Padahal mereka juga tidak kena. Kalau kita pikir gampang-gampang dari segi ekonomi, tampaknya mereka bikin vaksin dari hasil penelitian itu kemudian dijual sama orang lain. Jelas tidak etis, bahkan tidak manusiawi, jual vaksin dari penderitaan orang banyak.
Hal ini pernah terbukti di negara Taiwan, Mesir, Filipina dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Tapi eksistensi NAMRU-2 di negara tetangga tersebut sudah ditutup. Sementara di Indonesia saja yang sudah kelamaan 30 tahun. Eh malah mau diperpanjang lagi.

Senjata Perang Paling Dahsyat NAMRU-2 memiliki kepentingan untuk mempelajari penyakit-penyakit menular yang ganas di Indonesia. Mereka mengambil spesimen, kemudian diproses, dibiakkan, dibenihkan (seed), diperbanyak (multiply) dan seterusnya untuk dibuat vaksin-vaksin. Di Indonesia tentu nggak ada laboratorium secanggih itu, mungkin hanya teknologi penyimpanan saja. Sementara itu pembuatan senjata biologi pasti dilakukan di suatu tempat di luar Indonesia. Sedangkan di sini mereka mungkin memanfaatkannya untuk pengiriman bahan atau spesimen. Nggak heran kalau mereka meminta kekebalan diplomatik.
Disamping melakukan penelitian tersebut mereka juga mengamati letak geografis, angin, cuaca, alur laut, dls yang alasannya karena bersangkut-paut dengan penyebaran dan cara menghentikan penyebaran. Padahal bisa jadi mereka melakukan tindakan tersebut untuk memetakan daerah-daerah yang cocok untuk perang kuman. Kalau militer yang melakukan ini pasti itu untuk kepentingan militer jua. Yang paling penting adalah keluar-masuknya spesimen. Karena bagi mereka penting sekali untuk mengambil spesimen, memeliharanya sebentar, kemudian mendepositkannya ke laboratorium intensif mereka.


Dari segi militer, contohnya malaria. Kalau mereka bisa merekayasa, penyakit tersebut makin lama makin ganas. Tentu ini tidak bisa dikendalikan dengan obat biasa. Sedang mereka bisa bikin vaksin anti-malaria. Nah, kalau seandainya mereka menghadapi perang gerilya dengan negara yang tidak suka dengan dominasinya, mereka nggak perlu turun ke hutan. Cukup sebarkan saja nyamuk modifikasi yang lebih ganas. Niscaya gerilyawan mati karena kena malaria tropicana.

Senjata biologi atau laboratorium biologi lebih berbahaya dari nuklir. Kalau mereka bisa membuat senjata biologi yang negara lain nggak bisa menandingi, maka tentaranya dapat diberi kekebalan dengan vaksin yang telah mereka miliki. Dan mereka bisa masuk dengan aman ke daerah yang sudah mereka tebarkan virus atau bakteri tersebut.

Andaikan senjata biologi ini dibuat seperti bom atom yang meluluh-lantakkan Hiroshima kemudian diluncurkan ke tanah, niscaya semua makhluk hidup yang berada dalam radius 500 KM lebih dari titik peledakan akan tewas seketika. Belum lagi dampak dari bom tersebut. Bener-bener senjata perang paling dahsyat, mengerikan.
Jangan lupakan juga ada senjata kimia, seperti nuklir. Selain laboratorium biologi, negara-negara besar pasti mempunyai laboratorium senjata-senjata kimia. Tujuannya jelas, karena mereka ingin mengumpulkan kekuatan sebanyak mungkin dan implikasinya adalah mereka dapat melakukan dominasi terhadap dunia baik di bidang politik, ekonomi, keamanan, kebudayaan, hukum, dsb. Intinya adalah kekuasaan. Menekan suatu negara untuk dieksplorasi, celakanya negara dunia ketiga tidak boleh melakukan penguatan (empowering). Hal itu dimaksudkan agar tetap terjajah oleh mereka, meskipun secara de jure merdeka.


Bagaimana sikap pemerintah Indonesia?

Banyak orang yang tidak menyadari, dari kalangan pemerintah sampai ilmuwan pun tidak banyak yang menyadari. Bukannya nggak tahu, mereka tahu ini ada persoalan. Tapi maklumlah orang Indonesia, mereka belum melihat ada sesuatu yang membahayakan kalau belum ada kejadian. Mereka pikir aman-aman saja tho. Kalau misalnya laboratorium itu bocor lalu virusnya bertebaran di udara dan keluarga presiden kemudian kena, baru deh mikir. Kadang-kadang diantara mereka merasa hepi dimasukkan ke dalam derajat sosial sebagai peneliti tingkat internasional. Inilah repotnya bangsa kita.

Orang-orang yang punya otoritas untuk menghentikan ini tengok-tengok dulu lihat-lihat kiri-kanan, kalau ada orang lain semangat, baru mereka ikutan semangat. Mereka tahu bahayanya, tapi untuk maju ke depan sebagai pelopor mereka nggak punya keberanian.

Sikap pemerintah saat ini tampaknya lemah. Mereka nggak punya nyali jika berhadapan dengan kekuatan besar. Para elite ini eksis secara sosial, kekuasaan maupun kekayaan. Untuk bisa eksis dalam tiga hal ini mereka butuh jaringan. Mereka tidak percaya dengan bangsa sendiri maupun dengan negara-negara yang nggak Super Power. Mereka hanya mau membangun jaringan dengan negara digdaya sehingga mau menjadi goyim-nya.

Nah, disinilah pentingnya kemauan. Kemauan politik dari seorang leader. Sebenernya, ahli-ahli Indonesia itu cakap-cakap kok. Kita butuh seorang pemimpin yang mempunyai visi jelas dalam me-manage negara ini. Kalau leadernya hanya sekadar mengejar 5 tahun berikutnya, 5 tahun berikutnya lagi, jelas ya pabaliut lah.
Setiap Tindakan Pasti Ada Tujuan

Ketertutupan NAMRU-2, permintaan kekebalan diplomatik yang berlebihan serta sikap pemerintah Amerika yang ngotot mempertahankan laboratorium itu sangatlah mencurigakan. Apalagi, mereka dalam status membantu. Selain dugaan kegiatan intelijen, mereka pun disinyalir telah mencuri kekayaan alam, sumber daya hayati serta spesimen biologis yang menyangkut bibit penyakit, hama, bakteri, dan virus. Bukan tak mungkin mereka mengembangkan semua spesimen biologis tersebut menjadi senjata biologi.


Sebagai langkah preventif, sebaiknya operasi NAMRU-2 di Indonesia harus ditutup. Sebab manfaatnya kini sangat meragukan. Bahkan madorotnya yang lebih banyak. Kerja sama Indonesia dengan Amerika dalam persoalan ini harus dihentikan. Bangsa kita harus melakukan sendiri penelitian-penelitian tersebut agar aman dan terbebas dari jeratan kaum kapitalis.

Kita curiga sekarang ini banyak virus berkembang-biak karena ulah mereka. Virus AIDS, HIV, flu burung, antrax, chikungunya, dsb. Dulu virus-virus ini nggak pernah ada. Tiba-tiba sekarang ini menjadi banyak. Jelas aneh. Jangan-jangan ini memang sengaja untuk menghancurkan bangsa kita yang mayoritas penduduknya Muslim. Tahu kan Amerika itu selalu alergi terhadap Islam.

Kenapa? Karena Amerika tahu bahwa Islam itu suatu ajaran yang komprehensif. Kalau dipraktekkan secara komprehensif, mereka tak berdaya melawan. Kalau ada yang bilang, nggak ada tuh Islam mengatur soal politik dan hukum. Wah itu sudah kacau-balau namanya. Cara berpikir seperti itu merupakan hasil dari penjajahan negara barat.

Oleh karena itu, ke depannya kalau tatanan dunia nggak bisa berubah ke arah yang lebih baik, kita sebagai umat Muslim sebaiknya belajar atau minimal mengetahui tentang bahaya senjata biologi. Ini sebagai bentuk persiapan. Dalam Islam ada yang namanya i’da’. Kalau tidak bisa dikendalikan, negara besar culas, Indonesia harus bersiap-siap karena ini menyangkut dominasi suatu negara terhadap negara lain.

Indonesia, Konvensi Ottawa dan Ranjau Darat

Posted in RINTANGAN on Desember 31, 2008 by zeniad

ranjau

“AWAS…!!!” Betapa terkejutnya ketika tiba-tiba badan Kompas ditarik ke belakang dengan begitu kencang. “Lihat, beberapa inci lagi kakimu menginjak ini,” kata seorang petugas sambil menunjukkan sebuah ranjau darat antipersonel yang berada hanya beberapa inci dari ujung kaki.

Bila benar-benar terinjak dan meledak, minimal satu kaki akan melayang, begitu kata mereka. Masih jelas terbayang peristiwa beberapa waktu lalu itu, ketika Kompas bergabung dengan Cambodian Mines Active Center (CMAC) atau Pusat Ranjau Aktif Kamboja, dalam upaya membersihkan ranjau darat di Battambang, Kamboja.

Kekhawatiran menginjak ranjau di Kamboja memang begitu tinggi. Setelah mengalami serentetan pertikaian, di Kamboja setidaknya tertanam sekitar enam juta ranjau yang tersebar di seluruh wilayah negeri berbentuk mangkuk tersebut.

Lebih parah lagi, penanaman ranjau di Kamboja tidak mengikuti aturan konvensi, karena sebagian besar ditanam secara acak oleh penduduk sipil. Fungsi ranjau pun bukan semata-mata untuk kepentingan militer dalam menghalangi atau menghalau musuh, tetapi kadang bahkan digunakan untuk melindungi sawah dan ternak. Kondisi ini semakin menyulitkan pembersihan ranjau.

Untuk lebih mendalami masalah itu, awal minggu lalu, Departemen Luar Negeri (Deplu), tepatnya Direktorat Organisasi Internasional (OI) mengadakan seminar tentang ranjau darat antipersonel yang lebih dikenal dengan sebutan APL (Anti Personel Landmines). Selain para diplomat, seminar juga melibatkan pihak militer dan para akademisi. Diharapkan seminar ini mampu memberi masukan perlunya Indonesia meratifikasi konvensi yang secara menyeluruh melarang ranjau darat antipersonel tersebut.

“Aduh, keringat saya segede-gede jagung,” komentar seorang peserta seminar yang juga pernah bertugas di Kamboja. Ia bercerita, saat berjalan menelusuri suatu wilayah, kakinya menginjak sesuatu yang berbunyi mirip logam. “Dan ternyata itu ranjau antitank,” ujarnya.

***

INDONESIA memang tidak terkait secara langsung dengan masalah penggunaan ranjau darat. Selama ini, Indonesia tidak pernah menggunakan ranjau, dalam setiap konflik yang ada, misalnya, dulu di Timor Timur, lalu Aceh, Irian Jaya, maupun Maluku.

Namun, pada tanggal 4 Desember 1997, Indonesia menandatangani Konvensi Ottawa yang pada prinsipnya melarang ranjau darat secara total. Keputusan itu lebih didasari pada komitmen Indonesia pada tujuan pokok Konvensi, yaitu mengakhiri penderitaan dan korban akibat penggunaan ranjau darat antipersonel, terutama rakyat sipil. Selain itu, Indonesia mendukung sepenuhnya kenyataan penggunaan ranjau darat antipersonel telah menghambat usaha pembangunan ekonomi dan rekonstruksi. Penggunaan ranjau juga menghalangi kembalinya para pengungsi ke wilayah mereka karena khawatir wilayahnya masih dipenuhi ranjau. Yang lebih parah, penggunaan ranjau darat ini menimbulkan akibat buruk selama bertahun-tahun, bahkan jauh setelah konflik bersenjata berakhir.

Langkah Indonesia itu bisa dimengerti, karena setiap tahun, ranjau antipersonel melukai setidaknya 26.000 orang. Sebanyak 90 persen di antaranya adalah penduduk sipil dan hanya 10 persen personel militer. PBB memperkirakan, diperlukan 1.000 tahun untuk membersihkan 110 juta ranjau yang diduga sekarang tertanam di seluruh muka Bumi. Itu pun dengan asumsi tidak ada ranjau baru. Untuk setiap 5.000 ranjau yang dibersihkan, diperkirakan ada seorang pembersih tewas dan dua luka-luka.

Repotnya, dalam waktu 25 tahun terakhir, ranjau darat yang diproduksi tercatat mencapai 255 juta. Sebanyak 190 juta di antaranya adalah ranjau darat antipersonel, yang sangat rentan terhadap beban. Ia akan langsung meledak, meski hanya mendapat beban 2,5 kilogram sekalipun. Jumlah ranjau itu diproduksi oleh sekitar 100 perusahaan yang tersebar di 55 negara. Produksi ranjau mencapai 360 jenis dengan harga sangat murah, yaitu antara satu dollar AS hingga 10 dollar AS, tergantung tingkat kecanggihannya.

Dari jumlah itu, diperkirakan antara 85 juta hingga 110 juta telah tertanam di seluruh muka Bumi, dengan tempat terparah di Afganistan, Angola, Kamboja, Mozambik, dan bekas Yugoslavia. Kondisi itu diperparah dengan kenyataan telah ditanamnya dua juta ranjau APL baru.

Demi alasan kemanusiaan, Indonesia mendukung upaya pembersihan ranjau darat (demining) dan rehabilitasi korban ranjau darat di beberapa wilayah. Bahkan tahun 1996, setahun sebelum dilanda krisis moneter, Indonesia masih mampu menyumbangkan 40.000 dollar AS untuk pembersihan ranjau di Kamboja. Meski baru menandatangani, namun Indonesia telah ikut berperan aktif dalam setiap pertemuan konferensi negara-negara yang telah meratifikasi Konvensi Ottawa.

Persoalannya, hingga saat ini Indonesia belum meratifikasi Konvensi tersebut. Konvensi itu sendiri terbuka untuk ditandatangani tanggal 3 Desember 1997 dan diberlakukan sejak tanggal 1 Maret 1999. Hingga tanggal 10 Oktober 2001, Konvensi itu telah ditandatangani 142 negara dan diratifikasi 122 negara.

Dari 142 negara penanda tangan itu, justru negara-negara produsen dan pengguna ranjau darat terbesar belum bersedia menandatangani. Misalnya, Amerika Serikat, Rusia, Cina, India, Pakistan, Kuba, Korea Selatan, dan Korea Utara, serta negara-negara ASEAN seperti Singapura, Laos, Vietnam, dan Myanmar. Indonesia dan Brunei Darussalam merupakan negara yang telah menandatangani, sedang Kamboja, Malaysia, Thailand, dan Filipina adalah negara-negara ASEAN yang telah meratifikasi.

Pada prinsipnya, Konvensi Ottawa berisi larangan mutlak pada penggunaan, produksi, simpanan, ekspor, dan transfer ranjau darat antipersonel. Dan meratifikasi Konvensi Ottawa, berarti harus bersedia melaksanakan kewajiban yang ditimbulkan. Karena, negara yang sudah meratifikasi Konvensi Ottawa atau yang disebut negara pihak, harus patuh dan setia pada ketentuan Konvensi.

Yaitu, negara pihak harus menyerahkan piagam ratifikasi kepada Sekretaris Jenderal PBB sebagai pihak depositor. Setelah itu, negara pihak tidak diperkenankan menggunakan, mengembangkan, memproduksi, menyimpan, mentransfer, atau membantu pihak lain untuk melakukan hal-hal tersebut.

Setiap negara pihak harus menghancurkan seluruh simpanan ranjaunya dalam waktu empat tahun sejak meratifikasi Konvensi tersebut, kecuali untuk sejumlah ranjau yang boleh disimpan guna mengembangkan dan melatih teknik mendeteksi, membersihkan, atau menghancurkan ranjau. Negara pihak harus menghancurkan seluruh ranjau yang ada di wilayahnya atau masih menjadi wilayah yurisdiksinya dalam waktu 10 tahun.

Negara pihak juga berkewajiban mengambil langkah seperlunya untuk melindungi pihak sipil sampai tugas pembersihan ranjau selesai dilakukan. Namun untuk negara pihak yang di wilayahnya terdapat banyak ranjau, berhak meminta bantuan negara pihak lain untuk membersihkan ranjau bila negara tersebut tidak mampu melakukan. Kecuali itu, negara pihak harus membuat laporan tahunan tentang upaya yang dilakukan dalam melaksanakan kewajibannya.

***

DENGAN menandatangani Konvensi Ottawa, Indonesia memang secara otomatis hanya menghadapi implikasi yang terbatas pada ikatan moral pada prinsip dan tujuan Konvensi, yaitu mengakhiri penderitaan dan korban akibat penggunaan ranjau darat antipersonel, terutama rakyat sipil.

Namun, Indonesia tetap perlu meratifikasi, sebagai bentuk pengukuhan dari komitmen suatu negara dalam melaksanakan kewajiban Konvensi secara lebih bertanggung jawab. Selain itu, juga memperkuat ikatan moral yang telah dimiliki sebelumnya terhadap semangat Konvensi tersebut. Tidak hanya itu, meratifikasi berarti sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam meningkatkan upaya menciptakan perdamaian dunia.

Walau begitu, ratifikasi memiliki dampak positif maupun negatif. Ditinjau dari segi politis dan substansial, dampak negatif yang ditimbulkan setelah ratifikasi bagi Indonesia adalah keterikatan untuk melaksanakan seluruh kewajiban yang ditetapkan Konvensi, termasuk menghancurkan seluruh ranjau darat antipersonel yang dimiliki, serta memberi klarifikasi bila ada permintaan dari sesama negara pihak untuk memastikan kepatuhan Indonesia.

Harus diakui, menghancurkan ranjau ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dalam catatan Kompas, estimasi PBB untuk menghancurkan satu ranjau memerlukan biaya puluhan kali lipat dari harga ranjau itu sendiri.

Meski tidak pernah digunakan dalam konflik internal, namun Indonesia memiliki sejumlah ranjau yang seluruhnya aktif. Angka yang pernah disebutkan selama ini mencapai 15.000 ranjau. Jumlah yang terlalu kecil dibanding dengan luas wilayah Indonesia yang terdiri dari 17.580 pulau. Karena itu, bisa pula dikatakan, angka itu tidak menghalangi upaya RI untuk meratifikasi Konvensi.

Dampak negatif lain, Indonesia tidak dapat menggunakan ranjau antipersonel sebagai salah satu senjata dalam sistem pertahanan nasional. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17.580 pulau dan seribu di antaranya berpenghuni. Sementara dari segi pertahanan, ranjau merupakan salah satu senjata yang paling strategis dan murah dalam menggiring musuh.

“Terutama karena kita ini memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Hampir semua pantai bisa didarati amfibi. Kalau dijaga dengan personel dan senjata butuh berapa banyak? Nah, ranjau merupakan salah satu bentuk rintangan buatan untuk menghalangi musuh,” kata salah satu peserta. Namun, kenyataannya, hingga saat ini, Indonesia tidak pernah sampai menggunakan ranjau untuk mengatasi segala persoalan yang ada, bahkan untuk mempertahankan wilayahnya.

Selain itu, Indonesia tidak diizinkan merancang, memproduksi, atau menimbun ranjau antipersonel, kecuali sejumlah kecil untuk kepentingan pelatihan militer. Harus diakui, dalam konferensi ketiga di Managua, Nikaragua, 18-21 September 2001, masih terjadi perdebatan tentang jumlah yang diizinkan untuk pelatihan tersebut. Dengan kata lain, belum tercapai kata sepakat tentang jumlah minimal yang diizinkan. Swedia menghendaki jumlah minimum yang bisa disimpan adalah 11.120, Brasil meminta 16.500, dan Italia 8.000, lalu Argentina yang semula mengatakan 3.049 beralih menjadi 13.025 ranjau antipersonel.

Selain dampak negatif, dengan meratifikasi, Indonesia pun juga akan memperoleh dampak positif. Antara lain, citra Indonesia sebagai salah satu pendukung perlindungan nilai-nilai kemanusiaan akan meningkat. Indonesia pun ikut menciptakan saling percaya di kalangan negara-negara pihak, terutama di kawasan, memperoleh akses informasi yang berhubungan dengan teknologi penyapuan ranjau dan teknologi lain yang berhubungan dengan kepentingan kemanusiaan.

Keuntungan lain, sistem hukum nasional Indonesia akan semakin kuat, karena harus membentuk peraturan perundangan baru mengenai hukuman bagi orang atau warga negara Indonesia yang terlibat dalam kegiatan yang tidak sesuai dengan ketentuan Konvensi Ottawa.

Walau begitu, ratifikasi itu tetap harus dikaji dari empat sudut pandang, yaitu politik luar negeri (diplomasi), politik dalam negeri, dalam arti dukungan dari seluruh masyarakat, hukum, dan operasional. Dari sudut pandangan politik luar negeri, Indonesia perlu menegaskan landasan pemikiran dan keputusan ratifikasi adalah kerangka pertimbangan kemanusiaan.

Sedang dalam kerangka regional, Indonesia perlu memperhatikan citranya sebagai negara yang konsisten memajukan upaya membina saling percaya, menciptakan stabilitas dan perdamaian untuk kepentingan pembangunan, serta kesejahteraan rakyat. Dalam kaitan ini, perlu pula mengkaji posisi negara-negara ASEAN dan ARF terhadap ranjau antipersonel (APL). Bahkan perlu pula menjajaki kemungkinan mengembangkan gagasan ASEAN APL-free zone.

Selain itu, ratifikasi tidak boleh melemahkan keandalan Indonesia dalam memperkuat pertahanan nasionalnya. Untuk itu, perlu diimbangi dengan meningkatkan kemampuan alternatif, terutama dalam menunjang ketahanan dana pertahanan strategis.

Dalam hal ini, Indonesia berkepentingan membuat norma-norma konvensi menjadi komitmen yang juga dianut oleh negara-negara di kawasan. Terutama karena ada kebutuhan bekerja sama dalam mencegah ranjau antipersonel menjadi perdagangan gelap atau jatuh ke tangan separatis.

Terlepas dari persoalan yang masih tersimpan, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak segera meratifikasi. Sekarang atau nanti setelah sama sekali terlambat.

sumber : http://www.kompas.com

 

 

Morolipi, Mobil Robot Militer Masa Depan Buatan Dalam Negeri

Posted in JIHANDAK on Desember 31, 2008 by zeniad

morolipi

JAKARTA : Mobil robot penjinak bom (Moro)-V.1 produk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditargetkan pada 2009 sudah mampu membantu tugas militer. Kendati, pada awalnya Morolipi hanya ditargetkan membantu tugas pasukan Gegana dalam mendeteksi dan menjinakkan bom.

“ Paling tidak, ditargetkan pada 2009 mendatang, prototipe robot yang awalnya hanya ditujukan untuk membantu tugas pasukan Gegana dalam mendeteksi dan menjinakkan bom itu bisa membantu tugas militer. Karena target utama penggunaan mobil robot ini untuk kepentingan pertahanan dan keamanan. Jadi, mobil ini harus mampu menjalankan beberapa fungsi pertahanan dan keamanan guna membantu tugas militer,” ujar Dr Eng Estiko Rijanto, peneliti Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik (Telimek) LIPI.

Estiko Rijanto menjelaskan, bak mobil robot yang digunakan oleh militer Amerika Serikat (AS) dalam invasi ke Irak, Morolipi juga akan diinovasi guna menjalankan fungsi yang sama. Meskipun untuk mencapai tahap ini, dibutuh kreasi dan keseriusan untuk mewujudkannya, termasuk pendanaan. “Pada 2008 mendatang, penelitian dan inovasi terhadap robot ini akan dilanjutkan kembali setelah pada 2007 ini sempat terhenti karena terkendala pendanaan,” ujarnya.

Hal menarik, Morolipi tidak sekadar bisa berjalan di atas tanah datar saja, tapi dapat naik-turun tangga. Nantinya, mobil robot ini disiapkan sebagai salah satu peralatan militer, sebagai mobil robot yang maju di garda depan kancah pertempuran, robot pengintai, bahkan untuk membantu pasukan anti huru-hara mengatasi kerusuhan. “Inovasi dan kreasi baru sedang disiapkan oleh para peneliti untuk semakin menyempurnakan kinerja mobil robot yang dioperasikan menggunakan joystick ini,” ujarnya.

Terkait masalah harga, Estiko menjamin mobil robot ini bisa lebih murah hingga 50% dibanding mobil robot penjinak bom impor yang kini mencapai harga sekitar Rp1 miliar per unit. “Diupayakan semua onderdil yang dibutuhkan untuk merakit mobil robot yang dikendalikan secara jarak jauh ini bisa didapatkan dari produk lokal,” ujarnya. Meskipun untuk beberapa komponen tertentu, pihaknya masih harus mengimpor beberapa onderdil, seperti motor listrik dan sabuk bergigi dua muka.

Morolipi merupakan prototipe mobil robot penjinak bom yang telah dikembangkan LIPI sejak 2004. Mobil robot ini dapat dioperasikan dari jarak jauh memakai kabel untuk menjinakkan bom dengan cara memotong kabel listrik rangkaian pemicu ledakan bom. Operator dapat mengoperasikan mobil robot itu dari jarak maksimal 6 km menggunakan joystick dengan cara melihat gambar di monitor komputer yang dikirim oleh video yang terpasang di mobil tersebut.

Prototipe teknologi itu telah didaftarkan hak kekayaan intelektualnya (HKI) dengan nomor pendaftaran paten P00200500585 (17 Oktober 2005) dan pendaftaran paten P00200600696 (30 November 2006). Namun, lanjut dia, dukungan masih diperlukan untuk melakukan penyempurnaan teknis melalui kegiatan penelitian dan pengembangan selama 1–2 tahun ke depan, agar prototipe mobil tersebut siap ditransfer ke industri swasta dan BUMN atau pengguna lainnya, seperti POLRI dan TNI. Morolipi-V.1 yang sudah berhasil dikembangkan tim peneliti LIPI memiliki spesifikasi lebar 1 x 1 meter dengan tinggi 90 cm dan berat 80–100 kg. Mobil robot ini memiliki dua ruas lengan yang dapat berputar bebas ke lima arah sehingga bisa menekuk. Masing-masing ruas lengan panjang 70 cm dan bisa bergerak 360 derajat.

Tinggi Morolipi-V.1 ini mencapai 1,5 meter, dan didukung elemen- elemen kerja berupa artikulator, pengontrol artikulator, kamera biasa, dan inframerah yang akan mengirimkan gambar lapangan secara nirkabel ke operator melalui layar komputer serta gripper sebagai alat penjepit dan pemotong kabel.

Rangkaian elektronik penggerak mulai kontak dengan roda penggerak, lengan, kopling elektronika mekanisme melewati tangga, serta pengontrol supervisor untuk memudahkan pengoperasian. Dalam suatu uji coba Morolipi dapat memotong kabel berukuran 2 mm yang mengalirkan arus listrik itu sebelum sampai ke bahan peledak.

Kecepatan robot itu menjinakkan bom sangat tergantung dari kecepatan operator mengendalikannya. Bahan bakar yang digunakan untuk menggerakkan robot, yaitu aki listrik. Selain memiliki empat roda vespa delapan inci, robot itu juga dilengkapi sabuk roda, yang membantu robot itu menaiki tangga tanpa harus terpeleset. Kecepatan geraknya sama seperti kecepatan jalan manusia, yaitu 3 meter per detik. “Dari jarak 6 km, robot penjinak bom itu bisa dioperasikan. Jarak tersebut cukup aman untuk menjinakkan bom,” ujarnya.

 

Sumber   http://www.technologyindonesia.com

PENJERNIHAN AIR DENGAN CARA PENYARINGAN I

Posted in PERBEKALAN AIR & LISTRIK on Desember 31, 2008 by zeniad

1.                  PENDAHULUAN

            Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri.

Cara penjernihan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. Bahan-bahannya anatara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, arang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain.

 

2.                  URAIAN SINGKAT

            Penjernihan air minum secara sederhana ini merupakan penjernihan air dengan cara penyaringan. Bahan penyaringan yang digunakan adalah pasir dan tempurung kelapa.

 

3.                  BAHAN DAN PERALATAN

a.         2 (dua) drum ijuk

b.         Pipa PVC dengan diameter ¾ inci

c.         Kran air

d.         Pasir

e.         Kerikil

f.          Potongan bata – cat

g.         Gergaji

h.         Parang

i.          Besi

j.          Bor

k.         Kuas

l.          Ember

m.        Cangkul

 

4.                  PEMBUATAN

a.                  Membuat pipa penyaringan lihat Gambar 1. :

1)                  Ambil 2 pipa PVC diameter 0,75 inci dengan panjang 35 cm.

2)                  Pipa PVC dilubangi teratur sepanjang 20 cm.

3)                  Bagian dari pipa yang dilubangi dibalut dengan ijuk kemudian ijuk diikat dengan tali plastik

4)                  Salah satu ujung pipa dibuat ulir.

Pipa Penyaring

b.                  Pemasangan pipa penyaring (lihat Gambar 2.).
Pipa penyaring dipasang pada drum pengendapan dan penyaringan dengan jarak 10 cm dari dasar drum.

c.                  Membuat drum pengendapan (lihat Gambar 2 & 3)

1)                  Buat lubang dengan bor besi 10 cm dari dasar pada dinding drum untuk pipa penyaring.

2)                  Pasang pipa penyaring yang sudah dibalut pada soket yang sudah tersedia (lihat keterangan No. 2)

3)                  Pasang kran

4)                  Buat lubang pada dasar drum dengan tutup.

 

Pemasangan Pipa Penyaring

d.                  Membuat drum penyaring (lihat Gambar 2 dan 3)

1)                  Buat lubang untuk pemasangan pipa penyaring dengan jarak 10 cm dari dasar drum.

2)                  Isi drum berturut-turut dengan krikil setebal 20 cm, ijuk 5 cm, arang 10 cm, ijuk 10 cm dan potongan bata 10 cm.

 

e.                  Penyusunan drum endapan dan penyaringan (lihat Gambar 3)

1)                  Drum pengendapan dan penyaringan disusun bertingkat.

2)                  Kran-kran ditutup dan air diisikan ke dalam drum pengendapan

3)                  Setelah 30 menit air dari drum pengendapan dialirkan ke dalam drum penyaringan.

4)                  Aliran air yang keluar dari drum penyaringan disesuaikan dengan masukan dari drum pengendapan.

Cara Kerja Penyaring Air

 

5.                  KEUNTUNGAN

a.                  Air hasil penyaringan cukup bersih untuk keperluan rumah tangga.

b.                  Membuatnya cukup mudah dan sederhana pemeliharaannya.

c.                  Bahan-bahan yang digunakan mudah didapatkan di daerah pedesaan.

 

6.                  KERUGIAN

a.                  Pemeliharaan memerlukan ketelitian dan cukup memakan waktu seperti :

1)                  Drum pengendapan dan drum penyaring harus dibersihkan, jika aliran air yang keluar kurang lancar. Ijuk, kerikil, potongan bata, pasir dicuci bersih, kemudian dijemur sampai kering.

2)                  Arang tempurung biasanya paling lama 3 bulan sekali harus diganti dengan yang baru.

3)                  Tidak bisa digunakan untuk menyaring air yang mengandung bahan-bahan kimia seperti air buangan dari pabrik, karena cara ini hanya untuk menyaring air keruh, tapi bukan menyaring air yang mengandung zat kimia tertentu.

b.                  Untuk keperluan air minum harus dimasak terlebih dahulu sampai mendidih.

 

Sumber : http://www.iptek.net.id

 

PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN ARANG SEKAM PADI

Posted in PERBEKALAN AIR & LISTRIK on Desember 31, 2008 by zeniad

1.         PENDAHULUAN

Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri.

Cara penjernihan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. Bahan-bahannya anatara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, arang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain.

 

2.         URAIAN SINGKAT

Sekam padi banyak terdapat didaerah pedesaan, namun penggunaan sekam padi belum dimanfaatkan sepenuhnya. Uraian ini adalah salah satu cara memanfaatkan sekam padi untuk memperoleh air bersih yang merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat.

 

3.         BAHAN DAN PERALATAN

a.                  Arang sekam padi

b.                  Kayu bakar

c.                  Sampah-sampah/tanah

d.                  Pipa

e.                  Kerikil

f.                    Kawat ram

g.                  Lumpur

h.                  Drum diameter 40 cm dan tinggi 72 cm

 

4.         PEMBUATAN

a.         Dasar drum dibuat lubang-lubang kecil (diameter 2 mm) dan 4 lubang dengan diameter 3,5 mm. Pada dinding drum diberi 6 lubang berdiameter 3,5 mm. Jarak antara masing-masing lubang 10 cm. Bagian kiri dan kanan drum dipasangi pipa yang panjangnya 15 cm. Pada bagian dasar dari drum diberi kawat ram (lihat Gambar 1).

 

Alat Pembuatan Arang Sekam Padi

b.         Tungku pembakaran :

Tungku pembakaran adalah tungku rumah tangga yang dimodifikasi untuk pengarangan kayu bakar. Lihat Gambar 2.Tungku Pembakaran Sekam Padi

c.         Alat penjernihan air terdiri atas 2 bagian :

1)   Alat pengendapan yang terbuat dari drum.

2)    Alat penyaringan yang dibuat dari gentong. Pada     dasar     gentong diberi kerikil dan arang sekam padi setebal dari 10 sampai 20 cm di atasnya. Di atas arang sekam padi diberi ijuk.

d.         Pembuatan arang sekam padi :

1)         Secara tradisional arang sekam padi dibuat dalam suatu lubang yang berukuran : panjang 50 cm, tinggi 30 cm dan diameter 50 cm, dengan kapasitas 5 kg. Sekam dibakar di atas tungku singer. Sekam yang sudah terbakar ditutup tanah dan diatasnya diberi sampah. Pada salah satu sudut lubang diberi pipa udara.

2)         Cara lain dengan menggunakan drum sebagi tungku pembakaran. Temperatur pada waktu pengarangan 400°-600°C dan lama pengarangan 2,5 jam. Bahan bakar kayu yang digunakan 5 kg, untuk 5 kg sekam padi.

 Alat Penjernihan Air

5.         PENGGUNAAN
Proses penyaringan air :

a          Tahap pertama pengendapan

b.         Tahap kedua penyaringan dengan arang sekam padi kira-kira 10 cm tebalnya. Proses penyaringan ini bekerja selama 6 jam/hari.

 

6.         KEUNTUNGAN

a.      Dapat memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan keluarga

b.                  Pengarangan sekam padi mudah dikerjakan oleh masyarakat pedesaan sendiri.

c.                  Relatif murah

d.                  Hasil penjernihan memenuhi syarat kesehatan.

e.                  Sekam padi mudah diperileh di pedesaan.

 

7.         KERUGIAN
Pembakaran harus sempurna, apabila pembakaran”tidak sempurna” (kekurangan oksigen) arang sekam padi dan abu akan bercampur.

  

Sumber : http://www.iptek.net.id

JEMBATAN MABEY

Posted in PENYEBERANGAN on Desember 31, 2008 by zeniad

Jembatan Standart Mabey merupakan versi terbaru dari jembatan standart Bailey.  Jembatan Bailey dan jembatan Mabey diproduksi oleh perusahaan Mabey and Shore Inc yang berbasis di Inggris. Jembatan Maybe didesain untuk menjawab kebutuhan satuan-satuan Zeni AD Inggris dan AS dalam rangka mendukung kelancaran gerakan satuan yang dibantu yang menggunakan peralatan dan teknologi milter modern sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi. 

 

Pada dasarnya baik jembatan Bailey maupun jembatan Mabey merupakan jenis jembatan pendukung (Logistic support bridge) yang digunakan didaerah komunikasi dan daerah belakang dalam suatu operasi militer. Namun demikian saat ini jembatan Mabey juga dapat digunakan untuk kepentingan – kepentingan  sipil.

Jenis Jembatan Mabey.

 

a. Mabey Universal ®


– Ukuran panel 4,5 x 2,36 m dan merupakan panel yang terkuat saat ini

  Dalam pemasangannya diperlukan alat pembantu.

  Lebar jembatan dapat dibuat  mampu sampai 4 lajur

Universal Panel

 

 Jembatan MabeyJembatan Mabey

 b. Mabey Compact 200®

 

   Ukuran panel Maybe Compact 200 lebih kecil dibandingkan Mabey Universal

  Mabey Compact 200 dapat dipasang secara manual (tanpa menggunakan alat pembantu).

  Lebar jembatan dapat dibuat  mampu sampai 3 lajur

Compact 200 Panel

Jembatan MabeyJembatan Mabey

 

Kiprah Prajurit Zeni Kodam VI Tanjungpura

Posted in DESTRUKSI on Desember 31, 2008 by zeniad

Menaklukkan Jeram dengan Ledakan TNT Oleh Prajurit Zeni Kodam VI Tanjung Pura

KETIKA perhatian masyarakat domestik dan dunia internasional sedang terpusat pada peledakan bom di Legian, Kuta, Bali, di pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim) sebenarnya juga terjadi ledakan yang tidak kurang dahsyatnya. Bahan peledaknya pun TNT (trinitrotoluena) yang mempunyai daya ledak tinggi (high explosive). Berat bahan peledak yang dibutuhkan pun tidak main-main, satu setengah ton untuk 13 lokasi dengan puluhan titik ledakan!

BAYANGKAN, betapa dahsyatnya ledakan yang terjadi. Batu-batu jeram segede gunung saja hancur berkeping-keping. Apalagi sekadar bangunan kafe dan pub sekelas Paddy s Cafe dan Sari Club.

Kalau dalam peledakan bom di Bali polisi terus memburu dan menangkapi pelakunya, tidak demikian dengan pelaku peledakan di Sungai Mentarang dan Sungai Pujungan yang mengalir jernih di pedalaman Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur.

Ya, peledakan di pedalaman Kaltim tersebut memang bukan aksi teror. “Pelakunya” memang prajurit TNI, tetapi tak perlu dicurigai punya motif politik di balik peledakan itu, atau siapa aktor intelektual di belakangnya. Sebab faktanya, peledakan batu-batu jeram di Sungai Mentarang dan Sungai Pujungan itu memang “murni” bermisi sosial, meski dalam skala lokal.

Masyarakat pedalaman Kaltim yang mengandalkan kedua sungai itu untuk sarana transportasi selama ini sering terganggu oleh batu-batu besar yang nongol atau “bersembunyi” di balik aliran air. “Sudah banyak perahu yang hancur akibat menghantam batu di lima jeram Sungai Mentarang,” kata Bentui, motoris (nakhoda) longboat (perahu bermotor dengan badan agak panjang) di pedalaman Malinau.

Masyarakat yang merasa terganggu kemudian meminta bantuan ke Komando Daerah (Kodam) VI/Tanjungpura agar batu-batu jeram itu diledakkan. Permintaan itu dijawab dengan sebuah bakti sosial yang melibatkan tiga puluh prajurit TNI dari Zeni Kodam (Zidam) VI/Tanjungpura dan Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) Kodam VI/Tanjungpura. Selama dua bulan sejak akhir Oktober hingga Desember, mereka berusaha menghancurkan batu-batu jeram (dalam bahasa setempat disebut giram) di kedua sungai utama Malinau.

SUNGAI Mentarang merupakan jalur utama warga Dayak Lundaya yang bermukim di hulu Mentarang sampai Pegunungan Krayan di perbatasan Kaltim-Sabah-Sarawak (Malaysia). Sungai ini melintasi kota kabupaten Malinau dan selanjutnya berhubungan dengan dunia luar ke Tarakan. Sedangkan Sungai Pujungan yang berhulu di Apo Kayan melintas di ibu kota Kabupaten Bulungan, Tanjung Selor.

Sungai Mentarang dengan lebar “hanya” 200-an meter sekurangnya mempunyai lima jeram ganas dengan dinding batu di kanan-kirinya. Salah satunya adalah Jeram Kayan yang baru saja diledakkan para prajurit Kodam VI/Tanjungpura.

Melintasi jeram tidaklah mudah. Saat air tinggi, tidak jarang kapal menghantam batu jeram yang tersembunyi beberapa sentimeter di bawah permukaan air. Sementara pada musim kemarau, motoris harus sangat hati-hati melintasi riam yang berbatu-batu. Tidak hati-hati, perahu bisa menghantam batu di kanan-kiri riam dan terpental-pental.

Kecepatan aliran air di jeram biasanya sangat tinggi karena kemiringan dasar sungai yang tajam atau terjadi penyempitan badan sungai. Sudah begitu, batu-batu besar bertebaran di seluruh badan sungai sehingga alur pelayaran menjadi sangat sempit. Perahu yang menuju ke hulu biasanya harus dihidupkan kedua mesinnya untuk mendapatkan daya dorong besar supaya berhasil “melompat” dengan selamat. Tidak jarang, motoris harus minum bir dulu untuk menambah nyali menaklukkan jeram.

Jika nasib sedang apes, bisa saja mesin tempel di perahu tiba-tiba mati satu atau bahkan keduanya. Kalau sudah begitu, dipastikan perahu akan menghantam batu dan oleng. Paling apes, barang-barang bawaan tumpah berhamburan ke sungai.

Berlayar ke hilir pun sama bahayanya. Kecepatan air yang tinggi menjelang jeram bisa membuat motoris tak mampu lagi menguasai kemudi sehingga perahu terpental-pental menabrak batu. Jika empasannya kuat membentur batu, akibatnya bisa fatal. Susahnya, aliran air sering berubah-ubah tergantung pasang surutnya air. Motoris berpengalaman sekalipun harus pandai-pandai membaca ke mana hendak mengalihkan arah perahu supaya selamat.

Jeram Kayan, misalnya, dipenuhi batu-batu sebesar kepala truk. Begitu pun dengan empat jeram lainnya: Belalau, Lunuq, Kapitan, dan Nilan, atau belasan jeram di Sungai Pujungan.

Satu-satunya cara paling aman lolos dari petaka di jeram hanyalah menyeret perahu ke pinggir dan kemudian berjalan kaki menyusuri pinggir sungai sampai melewati jeram. “Saya terkadang harus menyeret perahu kalau jeram sedang mengamuk. Penumpang dan barang diturunkan. Saya, juru batu, dan penumpang beramai-ramai menarik perahu di atas bebatuan ke tepi sungai,” kata Hendri Paran, motoris asal Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau. Menguras tenaga memang!

Seiring dengan perkembangan zaman, mobilitas warga pedalaman pun meningkat. Akibatnya, tuntutan untuk berlayar secara aman semakin kuat. Jeram-jeram yang dulu mungkin tidak begitu menjadi persoalan serius, kini dianggap “penghambat” kemajuan dan karenanya harus disingkirkan.

UNTUK meledakkan batu-batu jeram, pertama-tama para prajurit TNI harus mengebor batu-batu berukuran besar untuk membuat lubang peledakan. Sedangkan bahan peledaknya sudah disiapkan sebelumnya. Batangan-batangan padat TNT diparut lembut dan kemudian diracik di dalam tabung-tabung paralon sepanjang 20-an cm. Satu tabung berisi 136 gram TNT.

Mengebor batu granit di tengah jeram berarus deras ditambah pusaran air yang siap menelan manusia, tentu memerlukan teknik tersendiri. Karena itu, separuh dari keberhasilan mereka memang perhitungan profesional, tetapi separuhnya lagi tergantung pada nasib baik.

Secara keroyokan, para prajurit Zeni mengerumuni bor pneumatic Atlas Copco berbobot 30 kilogram lebih. Satu juru bor ditopang tiga rekan, berdiri di atas batu yang menjadi sasaran. Dua orang mengawasi kompresor yang diangkut sebuah longboat, tiga orang lain bertugas di sisi sungai untuk mengawasi serta menyediakan keperluan dalam pengeboran.

Peledakan jeram Kayan di Sungai Mentarang diawali dengan mempersiapkan segala keperluan untuk pengeboran. Minyak pelumas di mesin kompresor diganti, selang kompresor dibentangkan, dan mata bor berbobot 10 kg dipasang pada mesin bor. Semua beres, para prajurit segera mengenakan baju pelampung dan mereka menuju lokasi pengeboran.

Sertu Sodiq mendapat giliran pertama sebagai juru bor. Di sisi batu yang agak datar, dia berdiri dengan satu kaki. Satu kakinya menopang bor. Tiga orang rekannya: Sertu Zoni, Serda Supriadi, dan Kopka Tarmidi juga sibuk mencari pijakan aman dengan satu kaki sambil menopang mata bor dengan kaki yang lain, seraya menjaga keseimbangan di atas batu selebar meja makan dengan tinggi sekitar dua meter.

Tidak mudah bertahan dengan posisi seperti itu di atas pijakan batu-batuan yang tidak rata, sementara di sampingnya air sungai mengalir deras dan batu-batu bercokolan di sana-sini. Terpeleset sedikit, batu-batu keras dan pusaran air siap menerkam mereka. Untuk menghindari risiko, mereka mengenakan tali pengaman.

Begitu mesin kompresor dihidupkan dan klep dibuka, mata bor mulai berputar menekan permukaan batu. Getarannya keras dan suaranya bising mengalahkan suara arus air dan deburan ombak sungai. Mata bor pneumatic terus menghantam permukaan batu granit yang keras. Serpihan-serpihan batu berlompatan ke sana kemari. Tidak lupa juga ke arah muka para pengebor profesional itu.

Sepuluh menit berlangsung, batu telah berlubang sekitar satu meter dan mata bor harus diganti karena sudah sangat panas. Pengeboran terus berlangsung hingga mata bor mencapai dasar batu. Mereka kemudian memindahkan mata bor ke tempat lain di permukaan batuan yang sama. Berapa banyak lubang yang harus dibuat harus dihitung dengan cermat sesuai dengan ukuran, ketebalan, dan kekerasan batu. Peledakan satu batu hari itu, misalnya, memerlukan empat lubang untuk menempatkan TNT.

SETELAH semuanya beres, kini tiba giliran Sertu Zulnadi, yang oleh rekan-rekannya disebut sang Badak (Bintara Peledak). Peti hijau bertuliskan Explosive dengan logo Pindad diangkat ke atas batu. Dimasukkannya batang-batang paralon berisi TNT dan ramuan bahan peledak ke dalam lubang peledakan. Setiap lubang dimasukkan 7-10 batang.

“Pemicu ledakan ditanam paling akhir,” kata Zulnadi sambil memasang kabel putih di batang detonator di bagian paling atas lubang. Zul dan rekan-rekan kemudian menggabungkan kabel dari empat lubang ke dalam satu rangkaian yang dihubungkan dengan untaian kabel warna biru sepanjang 200 meter dari lokasi ledakan. Kabel diulur perlahan dengan cermat melintasi pinggir Sungai Mentarang yang penuh batu tajam. “Harus hati-hati dan sabar. Kalau kabel putus, peledakan bisa gagal,” kata Letda (Czi) Ladambu, pimpinan unit tersebut, menjelaskan proses terakhir.

Setelah mencapai batas aman sekitar 200 meter dari sasaran, para prajurit berpencar mencari perlindungan di balik tebing sungai. Dua orang eksekutor, Sertu Japar Sodiq dan Sertu Supriadi, memegang blasting machine yang digunakan untuk memicu ledakan, sambil berlindung di belakang tunggul kayu yang melintang di depan mereka.

Blasting machine itu berupa sebuah kotak persegi seperti amplifier dengan sejumlah tombol yang menggunakan delapan baterai kering sebagai sumber listrik.

Letda Ladambu pun memberi aba-aba: “Satu…, dua…, tiga!” Tombol di blasting machine pun ditekan untuk menimbulkan hubungan pendek arus listrik pada ujung kabel sehingga terjadi percikan bunga api pada bahan peledak.

Buuuum! Dentuman keras menggema di keheningan hutan pedalaman Kaltim. Semua orang menutup telinga sambil menunduk. Percikan batu berhamburan ke mana-mana. Persis seperti hujan batu. Batu besar yang tadi dipenuhi bahan peledak, hancur menjadi bongkahan-bongkahan sebesar kepala kerbau.

Satu batu beres diledakkan. Para prajurit kemudian berpindah ke titik peledakan lain. Selama satu hari Kompas di lokasi, mereka meledakkan empat batu karena cuaca kebetulan sedang bagus. Sebab, kegiatan mereka memang sangat tergantung cuaca. Jika muka air sedang tinggi karena hujan di hulu, mereka tak dapat bekerja karena batu sasaran terendam air. Sedangkan jika air surut, pekerjaan juga harus ditunda. Kapal pengangkut kompresor tidak bisa bergerak karena kandas di sungai.

Masyarakat pedalaman merasa bersyukur dengan adanya peledakan batu di lima jeram Sungai Mentarang. Kegiatan yang menelan dana Pemerintah Kabupaten Malinau sebesar Rp 400 juta tersebut dianggap akan mempermudah hidup mereka sehari-hari.

“Sekarang lama perjalanan dari Malinau sampai hulu Riam Belalau bisa ditempuh dalam lima jam. Dulu paling cepat kami sampai dalam tujuh jam perjalanan,” kata Yus Paran, juragan longboat di Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang.

Peledakan batu di jeram pedalaman Kaltim yang terkenal ganas, memang sedikit banyak pasti akan membawa dampak terhadap lingkungan. Paling tidak, para pencinta arung jeram akan kehilangan keaslian jeram-jeram maut di hulu Sungai Kayan dan Pujungan.