Kiprah Prajurit Zeni Kodam VI Tanjungpura

Menaklukkan Jeram dengan Ledakan TNT Oleh Prajurit Zeni Kodam VI Tanjung Pura

KETIKA perhatian masyarakat domestik dan dunia internasional sedang terpusat pada peledakan bom di Legian, Kuta, Bali, di pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim) sebenarnya juga terjadi ledakan yang tidak kurang dahsyatnya. Bahan peledaknya pun TNT (trinitrotoluena) yang mempunyai daya ledak tinggi (high explosive). Berat bahan peledak yang dibutuhkan pun tidak main-main, satu setengah ton untuk 13 lokasi dengan puluhan titik ledakan!

BAYANGKAN, betapa dahsyatnya ledakan yang terjadi. Batu-batu jeram segede gunung saja hancur berkeping-keping. Apalagi sekadar bangunan kafe dan pub sekelas Paddy s Cafe dan Sari Club.

Kalau dalam peledakan bom di Bali polisi terus memburu dan menangkapi pelakunya, tidak demikian dengan pelaku peledakan di Sungai Mentarang dan Sungai Pujungan yang mengalir jernih di pedalaman Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur.

Ya, peledakan di pedalaman Kaltim tersebut memang bukan aksi teror. “Pelakunya” memang prajurit TNI, tetapi tak perlu dicurigai punya motif politik di balik peledakan itu, atau siapa aktor intelektual di belakangnya. Sebab faktanya, peledakan batu-batu jeram di Sungai Mentarang dan Sungai Pujungan itu memang “murni” bermisi sosial, meski dalam skala lokal.

Masyarakat pedalaman Kaltim yang mengandalkan kedua sungai itu untuk sarana transportasi selama ini sering terganggu oleh batu-batu besar yang nongol atau “bersembunyi” di balik aliran air. “Sudah banyak perahu yang hancur akibat menghantam batu di lima jeram Sungai Mentarang,” kata Bentui, motoris (nakhoda) longboat (perahu bermotor dengan badan agak panjang) di pedalaman Malinau.

Masyarakat yang merasa terganggu kemudian meminta bantuan ke Komando Daerah (Kodam) VI/Tanjungpura agar batu-batu jeram itu diledakkan. Permintaan itu dijawab dengan sebuah bakti sosial yang melibatkan tiga puluh prajurit TNI dari Zeni Kodam (Zidam) VI/Tanjungpura dan Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) Kodam VI/Tanjungpura. Selama dua bulan sejak akhir Oktober hingga Desember, mereka berusaha menghancurkan batu-batu jeram (dalam bahasa setempat disebut giram) di kedua sungai utama Malinau.

SUNGAI Mentarang merupakan jalur utama warga Dayak Lundaya yang bermukim di hulu Mentarang sampai Pegunungan Krayan di perbatasan Kaltim-Sabah-Sarawak (Malaysia). Sungai ini melintasi kota kabupaten Malinau dan selanjutnya berhubungan dengan dunia luar ke Tarakan. Sedangkan Sungai Pujungan yang berhulu di Apo Kayan melintas di ibu kota Kabupaten Bulungan, Tanjung Selor.

Sungai Mentarang dengan lebar “hanya” 200-an meter sekurangnya mempunyai lima jeram ganas dengan dinding batu di kanan-kirinya. Salah satunya adalah Jeram Kayan yang baru saja diledakkan para prajurit Kodam VI/Tanjungpura.

Melintasi jeram tidaklah mudah. Saat air tinggi, tidak jarang kapal menghantam batu jeram yang tersembunyi beberapa sentimeter di bawah permukaan air. Sementara pada musim kemarau, motoris harus sangat hati-hati melintasi riam yang berbatu-batu. Tidak hati-hati, perahu bisa menghantam batu di kanan-kiri riam dan terpental-pental.

Kecepatan aliran air di jeram biasanya sangat tinggi karena kemiringan dasar sungai yang tajam atau terjadi penyempitan badan sungai. Sudah begitu, batu-batu besar bertebaran di seluruh badan sungai sehingga alur pelayaran menjadi sangat sempit. Perahu yang menuju ke hulu biasanya harus dihidupkan kedua mesinnya untuk mendapatkan daya dorong besar supaya berhasil “melompat” dengan selamat. Tidak jarang, motoris harus minum bir dulu untuk menambah nyali menaklukkan jeram.

Jika nasib sedang apes, bisa saja mesin tempel di perahu tiba-tiba mati satu atau bahkan keduanya. Kalau sudah begitu, dipastikan perahu akan menghantam batu dan oleng. Paling apes, barang-barang bawaan tumpah berhamburan ke sungai.

Berlayar ke hilir pun sama bahayanya. Kecepatan air yang tinggi menjelang jeram bisa membuat motoris tak mampu lagi menguasai kemudi sehingga perahu terpental-pental menabrak batu. Jika empasannya kuat membentur batu, akibatnya bisa fatal. Susahnya, aliran air sering berubah-ubah tergantung pasang surutnya air. Motoris berpengalaman sekalipun harus pandai-pandai membaca ke mana hendak mengalihkan arah perahu supaya selamat.

Jeram Kayan, misalnya, dipenuhi batu-batu sebesar kepala truk. Begitu pun dengan empat jeram lainnya: Belalau, Lunuq, Kapitan, dan Nilan, atau belasan jeram di Sungai Pujungan.

Satu-satunya cara paling aman lolos dari petaka di jeram hanyalah menyeret perahu ke pinggir dan kemudian berjalan kaki menyusuri pinggir sungai sampai melewati jeram. “Saya terkadang harus menyeret perahu kalau jeram sedang mengamuk. Penumpang dan barang diturunkan. Saya, juru batu, dan penumpang beramai-ramai menarik perahu di atas bebatuan ke tepi sungai,” kata Hendri Paran, motoris asal Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau. Menguras tenaga memang!

Seiring dengan perkembangan zaman, mobilitas warga pedalaman pun meningkat. Akibatnya, tuntutan untuk berlayar secara aman semakin kuat. Jeram-jeram yang dulu mungkin tidak begitu menjadi persoalan serius, kini dianggap “penghambat” kemajuan dan karenanya harus disingkirkan.

UNTUK meledakkan batu-batu jeram, pertama-tama para prajurit TNI harus mengebor batu-batu berukuran besar untuk membuat lubang peledakan. Sedangkan bahan peledaknya sudah disiapkan sebelumnya. Batangan-batangan padat TNT diparut lembut dan kemudian diracik di dalam tabung-tabung paralon sepanjang 20-an cm. Satu tabung berisi 136 gram TNT.

Mengebor batu granit di tengah jeram berarus deras ditambah pusaran air yang siap menelan manusia, tentu memerlukan teknik tersendiri. Karena itu, separuh dari keberhasilan mereka memang perhitungan profesional, tetapi separuhnya lagi tergantung pada nasib baik.

Secara keroyokan, para prajurit Zeni mengerumuni bor pneumatic Atlas Copco berbobot 30 kilogram lebih. Satu juru bor ditopang tiga rekan, berdiri di atas batu yang menjadi sasaran. Dua orang mengawasi kompresor yang diangkut sebuah longboat, tiga orang lain bertugas di sisi sungai untuk mengawasi serta menyediakan keperluan dalam pengeboran.

Peledakan jeram Kayan di Sungai Mentarang diawali dengan mempersiapkan segala keperluan untuk pengeboran. Minyak pelumas di mesin kompresor diganti, selang kompresor dibentangkan, dan mata bor berbobot 10 kg dipasang pada mesin bor. Semua beres, para prajurit segera mengenakan baju pelampung dan mereka menuju lokasi pengeboran.

Sertu Sodiq mendapat giliran pertama sebagai juru bor. Di sisi batu yang agak datar, dia berdiri dengan satu kaki. Satu kakinya menopang bor. Tiga orang rekannya: Sertu Zoni, Serda Supriadi, dan Kopka Tarmidi juga sibuk mencari pijakan aman dengan satu kaki sambil menopang mata bor dengan kaki yang lain, seraya menjaga keseimbangan di atas batu selebar meja makan dengan tinggi sekitar dua meter.

Tidak mudah bertahan dengan posisi seperti itu di atas pijakan batu-batuan yang tidak rata, sementara di sampingnya air sungai mengalir deras dan batu-batu bercokolan di sana-sini. Terpeleset sedikit, batu-batu keras dan pusaran air siap menerkam mereka. Untuk menghindari risiko, mereka mengenakan tali pengaman.

Begitu mesin kompresor dihidupkan dan klep dibuka, mata bor mulai berputar menekan permukaan batu. Getarannya keras dan suaranya bising mengalahkan suara arus air dan deburan ombak sungai. Mata bor pneumatic terus menghantam permukaan batu granit yang keras. Serpihan-serpihan batu berlompatan ke sana kemari. Tidak lupa juga ke arah muka para pengebor profesional itu.

Sepuluh menit berlangsung, batu telah berlubang sekitar satu meter dan mata bor harus diganti karena sudah sangat panas. Pengeboran terus berlangsung hingga mata bor mencapai dasar batu. Mereka kemudian memindahkan mata bor ke tempat lain di permukaan batuan yang sama. Berapa banyak lubang yang harus dibuat harus dihitung dengan cermat sesuai dengan ukuran, ketebalan, dan kekerasan batu. Peledakan satu batu hari itu, misalnya, memerlukan empat lubang untuk menempatkan TNT.

SETELAH semuanya beres, kini tiba giliran Sertu Zulnadi, yang oleh rekan-rekannya disebut sang Badak (Bintara Peledak). Peti hijau bertuliskan Explosive dengan logo Pindad diangkat ke atas batu. Dimasukkannya batang-batang paralon berisi TNT dan ramuan bahan peledak ke dalam lubang peledakan. Setiap lubang dimasukkan 7-10 batang.

“Pemicu ledakan ditanam paling akhir,” kata Zulnadi sambil memasang kabel putih di batang detonator di bagian paling atas lubang. Zul dan rekan-rekan kemudian menggabungkan kabel dari empat lubang ke dalam satu rangkaian yang dihubungkan dengan untaian kabel warna biru sepanjang 200 meter dari lokasi ledakan. Kabel diulur perlahan dengan cermat melintasi pinggir Sungai Mentarang yang penuh batu tajam. “Harus hati-hati dan sabar. Kalau kabel putus, peledakan bisa gagal,” kata Letda (Czi) Ladambu, pimpinan unit tersebut, menjelaskan proses terakhir.

Setelah mencapai batas aman sekitar 200 meter dari sasaran, para prajurit berpencar mencari perlindungan di balik tebing sungai. Dua orang eksekutor, Sertu Japar Sodiq dan Sertu Supriadi, memegang blasting machine yang digunakan untuk memicu ledakan, sambil berlindung di belakang tunggul kayu yang melintang di depan mereka.

Blasting machine itu berupa sebuah kotak persegi seperti amplifier dengan sejumlah tombol yang menggunakan delapan baterai kering sebagai sumber listrik.

Letda Ladambu pun memberi aba-aba: “Satu…, dua…, tiga!” Tombol di blasting machine pun ditekan untuk menimbulkan hubungan pendek arus listrik pada ujung kabel sehingga terjadi percikan bunga api pada bahan peledak.

Buuuum! Dentuman keras menggema di keheningan hutan pedalaman Kaltim. Semua orang menutup telinga sambil menunduk. Percikan batu berhamburan ke mana-mana. Persis seperti hujan batu. Batu besar yang tadi dipenuhi bahan peledak, hancur menjadi bongkahan-bongkahan sebesar kepala kerbau.

Satu batu beres diledakkan. Para prajurit kemudian berpindah ke titik peledakan lain. Selama satu hari Kompas di lokasi, mereka meledakkan empat batu karena cuaca kebetulan sedang bagus. Sebab, kegiatan mereka memang sangat tergantung cuaca. Jika muka air sedang tinggi karena hujan di hulu, mereka tak dapat bekerja karena batu sasaran terendam air. Sedangkan jika air surut, pekerjaan juga harus ditunda. Kapal pengangkut kompresor tidak bisa bergerak karena kandas di sungai.

Masyarakat pedalaman merasa bersyukur dengan adanya peledakan batu di lima jeram Sungai Mentarang. Kegiatan yang menelan dana Pemerintah Kabupaten Malinau sebesar Rp 400 juta tersebut dianggap akan mempermudah hidup mereka sehari-hari.

“Sekarang lama perjalanan dari Malinau sampai hulu Riam Belalau bisa ditempuh dalam lima jam. Dulu paling cepat kami sampai dalam tujuh jam perjalanan,” kata Yus Paran, juragan longboat di Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang.

Peledakan batu di jeram pedalaman Kaltim yang terkenal ganas, memang sedikit banyak pasti akan membawa dampak terhadap lingkungan. Paling tidak, para pencinta arung jeram akan kehilangan keaslian jeram-jeram maut di hulu Sungai Kayan dan Pujungan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: