Arsip untuk Januari, 2009

J & S Franklin – Barrier Walls dan Struktur

Posted in RINTANGAN on Januari 30, 2009 by zeniad

1s dc lodgehillModular adalah desain yang fleksibel dan fleksibel, yang memungkinkan berbagai ukuran untuk digabungkan untuk meningkatkan perlindungan dan tugas-tugas tertentu, dan alam tampilan pada bahan memungkinkan penghalang untuk segera paduan ke sekitarnya. Telah diuji terhadap ballistically amunisi sampai 25mm meriam, termasuk APDS dan pengusut, serta multi-shot, dan memberikan perlindungan yang sangat baik.  Ia sangat ideal untuk digunakan di lapangan tembak konstruksi, integritas struktural untuk memberikan garis dinding dan peluru perangkap.

Modular KENDARAAN BARRIER

3s defencellDefenCell dapat digunakan untuk menyediakan penghalang efektif untuk lalu lintas dan digunakan untuk membangun pemeriksaan, dan menjaga chicanes posting. Kendaraan yang DefenCell penghalang telah diuji terhadap 7.5t truk di 42mph dan berhasil dihentikan dalam hal 3m. Berat dari Defencell dan kecepatan pengisiannya membuat cocok untuk operasi yang berdiri sendiri atau untuk sementara meningkatkan keamanan yang ada.

2s bew cropDefenCell adalah benar-benar fleksibel dan produk ini juga cocok untuk berbagai pilihan sipil nusa dan keamanan aplikasi. Panel sel-sel bahan yang dapat digunakan untuk Stabilisasi tanah, dan untuk mempersiapkan roadways bangunan hardstanding daerah untuk kendaraan dan gerakan pesawat terbang. Penghalang dinding dapat dibangun untuk memberikan perlindungan banjir, baik untuk melindungi infrastruktur yang sudah ada atau untuk meningkatkan levees sementara dalam keadaan darurat.

 

 

J & S Franklin
Franklin House Franklin Rumah
151 Strand 151 Strand
London WC2R 1HL London WC2R 1HL
United Kingdom Inggris

 

 

Posted by Infolahta Ditziad

Iklan

Mengintip Terowongan HAMAS

Posted in SAMARAN on Januari 29, 2009 by zeniad

terowongan hamasBLOKADE berkelanjutan Israel atas Jalur Gaza tidak meruntuhkan moral bangsa Palestina. Mereka pun aktif membuat terowongan bawah tanah untuk menembus blokade itu. Kini jumlahnya telah berlipat menjadi ratusan.

Melalui terowongan itulah warga Palestina di Jalur Gaza mencari pekerjaan di luar Gaza untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

”Tanah di Rafah ini benar-benar sebuah keju yang enak. Jika di sana terjadi gempa bumi, keseluruhan wilayah bisa ambruk,” kata salah seorang ketua pengelola salah satu terowongan rahasia itu.
Dia menuturkan, warga dari berbagai tempat datang ke terowongan-terowongan itu untuk mencari pekerjaan di Gaza, Jabaliyah, Dair al-Balah. ”Terowongan ini sudah berjasa membuat 15 keluarga bertahan hidup,” paparnya.

Jumlah pasti terowongan bawah tanah itu sulit diverifikasi. Namun, pertumbuhan aktivitas ekskavasi sangat jelas bisa dilihat semua orang. Pada pukul 10.00 di Rafah, kota di Jalur Gaza yang berbatasan dengan Mesir, satu-satunya suara berasal dari mesin gerinda. Mesin tersebut digunakan para penyelundup yang sibuk membangun lebih banyak lagi terowongan di bawah tanah berpasir itu.

Keberadaan sejumlah terowongan itu bisa dilihat dari tenda-tenda plastik yang menutupi pintu masuknya. Garis demarkasi yang sangat jelas sepanjang 14 kilometer menjadi pembatas wilayah Palestina dengan wilayah Mesir itu.

”Ini adalah sebuah bisnis yang berkembang karena blokade Israel dan ditutupnya perbatasan,” ungkap Abu Khaled, yang sedang sibuk membuat terowongan. Proses penggalian terowongan itu dimulai 10 hari lalu. Di sekitar tendanya saja, tiga terowongan tengah dibangun.

Terbuka

Sebelumnya sangat sulit bertemu dengan para penyelundup atau berbicara dengan mereka. Sekarang mereka beroperasi secara terbuka dan diketahui banyak orang. Mereka tidak diganggu oleh siapa pun, terkecuali saat harus membayar pajak kepada pemerintah Hamas yang mengontrol Gaza.

”Tidak ada lapangan pekerjaan, sementara saya butuh uang,” ungkap pengelola bisnis terowongan itu dengan sangat terbuka. Namun, keterbukaan ini berbeda sekali dengan terowongan-terowongan yang dikelola secara rahasia oleh para pejuang Palestina. Terowongan ini dicurigai pihak Israel sering kali digunakan untuk menyelundupkan senjata.

”Kami bekerja setiap hari sepanjang waktu. Enam orang bekerja siang hari, enam lainnya malam hari,” kata Abu Khaled, mantan anggota pasukan Grup 17, sebuah pasukan elite Palestina yang ditugasi melindungi Presiden Mahmoud Abbas.

”Dari waktu ke waktu, Hamas mengabari kami untuk melarang lalu lintas persenjataan dan hashis,” ungkapnya sembari membantu seorang pekerja muda yang terus menggali di lubang berkedalaman 20 meter.

Abu Khaled mengatakan, Hamas juga mengambil ”bagiannya” dari semua produk yang masuk ke Jalur Gaza. Wilayah Palestina ini praktis tertutup sejak Juni tahun lalu oleh pihak Israel. Bertambah pesatnya jumlah terowongan itu karena adanya restu dari Hamas, yang melihat upaya itu sebagai cara untuk menembus blokade Israel.

Surat kabar Israel, Yediot Aharonot, dalam laporan yang tidak menyebutkan sumbernya, mengungkapkan pekan ini bahwa sebuah tim tentara AS dan Israel berhasil menemukan 42 terowongan dalam waktu kurang dari sebulan berkat penggunaan alat detektor canggih.

Dengan tingginya angka pengangguran di Gaza, tidak sulit mencari pekerja untuk menggali terowongan itu dengan bayaran sekitar 500 dollar AS untuk terowongan sepanjang 100 meter. ”Setiap orang yang bekerja di sini adalah mahasiswa seperti saya. Beberapa bahkan tengah menyusun tesis doktor mereka,” papar Yussef (29), mahasiswa fotografi di Universitas Deir al-Balah, di jantung Gaza.

Sumber : Kompas .com

Posted by Infolahta Ditziad

Jembatan Cair

Posted in PENYEBERANGAN on Januari 28, 2009 by zeniad

floatingwaterbridge

Jembatan yang terbuat dari zat cair? Bukan sulap bukan sihir, sebab itu bisa dibuat dengan ilmu fisika.  Sebuah tim peneliti dari Austria mendemon-strasikan bahwa kini kita dapat membangun jembatan yang tersusun dari zat cair. Dalam percobaan tersebut, tim ini berhasil memperagakan sebuah jembatan yang tersusun dari air murni yang telah didestilasi tiga kali. Mereka juga menghubungkan celah sepanjang 2,5 centimeter hingga selama 45 menit, seakan melawan pengaruh gaya gravitasi. Sepintas hal ini terdengar seperti sihir, walaupun jelas hanyalah rekayasa fisika. Lantas, apa rahasianya?

Tegangan tinggi

Salah satu kunci dalam percobaan tersebut adalah pemakaian tegangan listrik yang tinggi. Tim tersebut menempatkan air murni yang akan dijadikan jembatan itu di dalam dua buah gelas kaca, kemudian sepasang elektroda diletakkan di dalamnya. Kedua gelas kaca diletakkan berdekatan namun tidak berhimpitan. Dalam waktu hanya seperseribu detik setelah perbedaan tegangan sebesar 25 ribu volt diterapkan melalui sepasang elektroda tersebut, air di dalam salah satu gelas kaca merambat cepat ke tepian dan secepat kilat melompat melewati celah di antara kedua gelas kaca.

Apa yang menyebabkan tegangan tinggi tersebut mampu melontarkan air melompati celah dan lalu menjaga “jembatan cair” tidak runtuh dipengaruhi gravitasi? Saat ini belum ada yang mengetahuinya dengan pasti. Walaupun begitu, beberapa kesimpulan awal sudah bisa ditarik dari percobaan itu.

Secara kimiawi sebuah molekul air dilambangkan dengan kode H2O. Ini karena memang molekul air terdiri dari dua atom hidrogen (H) yang bermuatan positif dan sebuah atom oksigen (O) bermuatan negatif. Saat genangan air murni dipengaruhi oleh medan listrik, seperti saat tegangan tinggi diterapkan pada percobaan di atas, maka molekul-molekul air akan berjejer rapih dan saling bergandengan: atom-atom hidrogen tertarik ke elektroda bermuatan negatif sementara atom oksigen menjurus ke elektrode positif. Selama ini hal ini sudah diketahui berlaku pada tingkat molekuler, akan tetapi belum pernah diperagakan sebelumnya pada tingkat makroskopik seperti pada percobaan jembatan cair di atas.

Untuk menguji hipotesa ini, tim peneliti yang sama kemudian menggunakan sebatang kaca yang telah lebih dulu diberi muatan listrik. Ternyata memang medan listrik dari batang kaca mampu membuat bentuk jembatan cair itu berubah dari lurus menjadi melengkung mendekati batang kaca.

Air Mengalir Dalam Air

Di antara pengukuran lain yang dilakukan, tim tersebut juga mengukur variasi kepadatan cairan di sepanjang “jembatan dari air” yang terbentuk.
Mereka menggunakan metode optik yang umum disebut ‘visualisasi Schlieren’ . Dalam metode ini, berkas-berkas cahaya dilewatkan tegak lurus terhadap “jembatan dari air” dan kemudian melewati tepian sebuah silet tajam sebelum mencapai detektor cahaya. Jika kepadatan cairan di sepanjang jembatan itu seragam nilainya, maka semua berkas cahaya akan melewati tepian silet dan tertangkap oleh detektor. Akan tetapi, jika ada variasi kepadatan cairan pada jembatan itu, variasi itu akan membelokkan dan mengganggu jalan sebagian berkas cahaya yang lewat, sehingga total berkas yang tertangkap detektor menjadi berkurang.

Dengan metode tersebut, tim dari Austria itu menemukan bahwa kepadatan cairan pada jembatan memang tidak seragam, di mana sisi bagian dalam dari jembatan lebih padat daripada sisi luarnya. Selain itu, variasi kepadatan cairan tersebut tidaklah statis, melainkan mengalir dari gelas kaca yang satu ke yang lainnya. Sekedar sebagai analogi, anda bisa membayangkan sebuah kabel ko-axial (walaupun analogi ini tidaklah sangat akurat karena kedua fenomena ini berasal dari hukum fisika yang berbeda) di mana kabel di lingkaran dalam mengalirkan arus listrik sedangkan kabel di lingkaran luar hanyalah membantu menyalurkan aliran itu. Begitu juga, dalam “jembatan cair” ini, molekul air yang mengalir adalah molekul-molekul di sisi dalam, sedangkan molekul-molekul di sisi luar hanyalah diam dan membantu aliran molekul-molekul di sisi dalam jembatan.

Untuk Apa Selanjutnya?

Tim dari Austria itu ingin mempelajari dengan lebih detil bagaimana sesungguhnya struktur molekul-molekul yang membentuk “embatan cair itu. Untuk itu mereka merencanakan percobaan lanjutan yang akan menggunakan sinar-X.

Selain untuk menjawab keingintahuan secara ilmu fundamental, percobaan ini juga punya potensi aplikasi yang besar. Salah satunya berkaitan dengan bidang mikrofluida , di mana cairan-cairan dengan volume sangat kecil dikendalikan dengan presisi dan diteliti dengan akurat, baik untuk pendeteksian biologis, medis, maupun lingkungan.

Saat ini masih banyak kendala yang perlu dipecahkan sebelum sebuah aplikasi nyata bisa diperoleh. Salah satunya adalah bahwa jembatan cair ini tidak bisa bertahan jika air murni yang telah didestilasi tiga kali tersebut dikotori oleh debu dan partikel. Akibat muatan-muatan tambahan yang dibawa oleh debu dan partikel itu, maka jembatan cair itu akan dilewati arus listrik yang semakin tinggi.

Suhu pada jembatan itu ikut meningkat, dan jembatan akan runtuh karena gerakan acak molekul-molekul air mengalahkan efek medan listrik yang telah menjajarkannya dengan rapi. Walaupun begitu, bukan tidak mungkin percobaan-percobaan berikutnya akan memunculkan kejutan dan gagasan baru yang akan memecahkan kendala di atas.

Sumber : netsains.com

Posted By Infolahta Ditziad

MEMADUKAN BANGUNAN HEMAT ENERGI DAN RAMAH LINGKUNGAN

Posted in KONSTRUKSI on Januari 28, 2009 by zeniad

RAMAH

ISU pemanasan global masih menghangat di segala bidang kehidupan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghambat pemanasan buana, perubahan iklim secara ekstrem, dan degradasi kualitas lingkungan.

Belum usai berbenah menata lingkungan, krisis ekonomi global kembali menggoyang sendi-sendi kehidupan kota dan kita, termasuk sektor properti. Krisis yang datang beruntun dan bertubi-tubi seharusnya sanggup menggugah kesadaran kita.
Bentuk arsitektur bangunan (rumah, gedung) harus berempati, tanggap, dan memberikan solusi. Salah satunya adalah memadukan bangunan (rumah, gedung) yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Bak ibarat tubuh, kita perlu melakukan diet mengurangi kadar kolesterol dalam bangunan dan menjadikan bangunan lebih langsing dan segar yang dapat menyehatkan diri sendiri (kantong tabungan, bangunan, penghuni) dan lingkungan (warga, kota) serta menghindari stroke komplikasi sosial. Untuk itu, kita perlu mengenali pokok-pokok permasalahan dan upaya-upaya yang dapat dilakukan.
Pembangunan bangunan hemat energi dan ramah lingkungan harus murah, mudah, dan berdampak luas. Pengembangan kota hijau (green city), properti hijau (green property), bangunan hijau (green building), kantor/sekolah hijau (green school/office), hingga pemakaian produk hijau (green product) terus dilakukan untuk turut mengurangi pemanasan global dan krisis ekonomi global.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung mendorong pembangunan bangunan berarsitektur lokal terasa lebih ramah lingkungan dan selaras dengan lingkungan asal. Desain bangunan (green building) hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan (green product).

Bangunan hijau mensyaratkan layout desain bangunan (10 persen), konsumsi dan pengelolaan air bersih (10 persen), pemenuhan energi listrik (30 persen), bahan bangunan (15 persen), kualitas udara dalam (20 persen), dan terobosan inovasi (teknologi, operasional) sebesar 15 persen.

Seberapa besar bangunan (rumah, gedung) yang akan dibangun? Cukup adalah cukup. Volume bangunan dijaga agar biaya pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan terkendali dan lebih hemat.

Bangunan dirancang dengan massa ruang, keterbukaan ruang, dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar, ventilasi bersilangan, dan void berimbang yang secara klimatik tropis berfungsi untuk sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alami merata ke seluruh ruangan agar hemat energi.

Pemanfaatan energi alternatifUntuk menghemat pemakaian listrik, kita dapat menggunakan lampu hemat energi, mempertahankan suhu AC di 25º C, membuka tirai jendela bila memungkinkan agar terang, dan matikan peralatan elektronik jika tidak diperlukan (bukan posisi stand-by).

 

Penghuni diajak memanfaatkan energi alternatif dalam memenuhi kebutuhan listrik yang murah dan praktis, serta ditunjang pengembangan teknologi energi tenaga surya, angin, atau biogas untuk bangunan rumah/ gedung.

Penggunaan material lokal justru akan lebih menghemat biaya (biaya produksi, angkutan). Kreativitas desain sangat dibutuhkan untuk menghasilkan bangunan berbahan lokal menjadi lebih menarik, keunikan khas lokal, dan mudah diganti dan diperoleh dari tempat sekitar. Perpaduan material batu kali atau batu bata untuk fondasi dan dinding, dinding dari kayu atau gedeg modern (bambu), atap genteng, dan lantai teraso tidak kalah bagus dengan bangunan berdinding beton dan kaca, rangka dan atap baja, serta lantai keramik, marmer, atau granit. Motif dan ornamen lokal pada dekoratif bangunan juga memberikan nilai tambah tersendiri.

Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.

Skala bangunan dan proporsi ruang terbuka harus memerhatikan koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien dasar hijau (KDH) yang berkisar 40-70 persen ruang terbangun berbanding 30-60 persen untuk ruang hijau untuk bernapas dan menyerap air. Keseluruhan atau sebagian atap bangunan dikembalikan sebagai ruang hijau pengganti lahan yang dipakai massa bangunan di bagian bawahnya. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden) dan dinding dijalari tanaman rambat (green wall) agar suhu udara di luar dan dalam turun, pencemaran berkurang, dan ruang hijau bertambah.

Pemanasan bumi

Keberadaan taman dan pohon penting dalam mengantisipasi pemanasan bumi. Ruang dalam bangunan diisi tanaman pot. Ruang hijau diolah menjadi kebun sayuran dan apotek hidup serta ditanami pohon buah-buahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Penghuni dapat memelihara dan melindungi pohon dengan mengadopsi dan menjadi orangtua angkat pohon-pohon besar yang ada di depan jalan depan bangunan (rumah, gedung) kita.

Idealnya, air hujan bisa diserap ke dalam tanah sebesar 30 persen. Dengan banyaknya bangunan beton, jalan aspal, dan minim ruang terbuka hijau, kota (seperti Jakarta) hanya mampu menyerap 9 persen air hujan. Maka, saat musim hujan kebanjiran, musim panas kekeringan. Sementara konsumsi air dari PDAM hanya 47 persen, sedangkan air tanah mencapai 53 persen.

Bangunan harus mulai mengurangi pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan mengisi kembali air tanah (recharge) dengan sumur resapan air (1 x 1 x 2 meter) dan/atau lubang resapan biopori (10 sentimeter x 1 meter).

Semua air limbah dimasukkan ke dalam sumur resapan air dengan pengolahan konvensional supaya tidak harus terlalu bergantung kepada sistem lingkungan yang ada. Cara hemat penggunaan air adalah tutup keran bila tidak diperlukan, jangan biarkan air keran menetes, hemat air saat cuci tangan dan cuci gelas/piring, pilih dual flush untuk toilet, selalu habiskan air yang Anda minum.

Dalam mengolah budaya sampah, bangunan menyediakan tempat pengolahan sampah mandiri sejak dari sumbernya. Penghuni diajak mengurangi (reduce) pemakaian barang sulit terurai. Sampah anorganik dipilah dan digunakan ulang atau dijual ke pemulung. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman kebun. Tidak ada sampah yang terbuang (zero waste).

Menurut WHO (2006), 70 persen polusi di Jakarta berasal dari kendaraan bermotor. Menanam 5 pohon hanya mampu menyerap emisi CO2 yang dikeluarkan oleh 1 mobil! Dan, emisi per orang untuk menempuh tiap kilometer perjalanan dengan mobil pribadi adalah 15 kali bus. Kita perlu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke alat transportasi publik ramah lingkungan, car pooling, ajak rekan-rekan searah, eco-driving. Beruntung jika bangunan dekat sekolah, pasar, atau kantor, kita cukup naik sepeda atau berjalan kaki.

Kita dapat menerapkan sistem manajemen lingkungan mulai dari rumah, sekolah, hingga kantor secara praktis dan sederhana untuk membantu dan mendukung terwujudnya bangunan hemat energi dan ramah lingkungan, menginspirasi penghuni dalam menerapkan kebiasaan ramah lingkungan, membantu menekan biaya rumah tangga, mengurangi konsumsi sumber daya alam, mempromosikan praktik lestari melalui peningkatan kesadartahuan penghuni, mempromosikan cara-cara mitigasi perubahan iklim lewat penghematan energi dan pemakaian energi terbarukan.

sumber : Nirwono (arasitek lanskap)

posted by Infolahta Ditziad

Lantai Jembatan

Posted in PENYEBERANGAN on Januari 27, 2009 by zeniad

Ada pertanyaan sederhana tetapi menarik dari Dimas,

Pak, sebenarnya lebih baik jembatan dengan lantai atas atau bawah ????  Terus keuntungan dan kerugian masing-masing model apa ???

Pertanyaannya pendek, tetapi jawabannya jelas nggak cukup dengan beberapa patah kata, oleh karena itu perlu dijadikan threat tersendiri. Kecuali itu sebenarnya juga untuk mengantisipasi materi kuliah di tahun depan, yang ada kemungkinan mengajar mata kuliah tentang struktur jembatan. Dengan demikian maka ada baiknya pertanyaan di atas perlu dijawab sekaligus sebagai bahan pemanasan untuk merenung tentang jembatan.

 

Renungan akan mengasyikkan kalau dalam bentuk tulisan, karena dengan menulis kadang-kadang pengetahuan yang tersimpan di bawah sadar dapat keluar dari sarangnya.

Apalagi kalau tulisan tersebut dapat terpublikasi seperti dalam blog ini. Kenapa ? Karena respond yang masuk kadang dapat memperkaya maupun mengoreksi bilamana ada kesalahan. Intinya renungan tertulis ini dapat menjadi media pembelajaran bersama.

Pertanyaan Dimas dimulai dari threat tentang lomba KJI. Jika pertanyaan itu ditujukan kepada ketentuan lomba tersebut, maka jelas jawabannya hanya terletak dari cara pembebanannya. Jembatan dengan deck di atas akan lebih mudah dibebani, lebih sederhana perencanaannya karena kebetulan strukturnya simple sendi-rol sehingga bagian tengah  di atas adalah bagian desak, jadi deck dapat sekaligus dimanfaatkan sebagai pertambatan lateral untuk batang desak.

jembatan1

Kalau deck di bawah, jadi rangka batangnya berdiri sendiri, maka tentu batang desak perlu pertambatan khusus. Kalau dikasih rangka horizontal maka cara pembebanannya akan susah. Coba perhatikan foto di atas, berarti beban khan harus masuk di antara rangka jembatan itu khan. Tetapi kalau untuk lomba ya boleh-boleh saja, lebih bagus ada seninya gitu. Tetapi yang jelas panitia perlu menyiapkan beban yang tentu beda dengan yang dulu ada, lebih kecil mestinya.

Ok, itu jawaban terbatas untuk lomba KJI. Sekarang membahas tentang penempatan lantai jembatan secara umum.

Untuk berbicara tentang lantai jembatan maka perlu kesamaan pendapat tentang definisi atas dan bawah. Untuk itu saya ambil contoh jembatan sungai progo sebagai berikut.

jembatan transfield di atas sungai progo yogyakarta

Dari gambar di atas, maka disepakati bahwa jembatan di atas termasuk jembatan lantai bawah. Ok ? Jembatan disebut berlantai bawah jika mayoritas struktur jembatan berada di atas lantai kendaraan, sedangkan jika mayoritas struktur jembatan berada di bawah lantai kendaraan maka disebut jembatan berlantai atas. Begitu khan. Baru setelah definisi tersebut sama, maka kita dapat bercerita banyak tentang jembatan-jembatan tersebut.

Dengan melihat contoh jembatan kali progo yang mempunyai sistem lantai bawah, maka orang awampun sudah dapat menilai, seperti misalnya bahwa lebar jembatan terbatas, termasuk juga sisi atas ada strukturnya juga. Berarti tipe jembatan tersebut mempunyai keterbatasan ruang akses. Ini tentu menjadi masalah besar jika jalan dimana jembatan tersebut berada ada kemungkinan untuk diperlebar. Kalau pelebarannya sekaligus menjadi dua jalur seperti halnya di pantura, maka tentu tidak masalah. Baru menjadi masalah jika pelebarannya hanya mencakup 1.5 m di kanan maupun di kiri. Khan tanggung banget bukan.

Adanya rangka pada bagian atas, dan juga alasan ruang akses kendaraan menyebabkan perlunya rangka tepi jembatan yang cukup tinggi (tinggi bersih 5m). Oleh karena ketinggian itulah maka tipe jembatan tersebut jarang dijumpai pada bentang pendek. Jembatan Transfield paling pendek bentang 30 m, sampai bentang 60 m.

Karena alasan tersebut maka dijumpai juga tipe lantai bawah dari jembatan rangka yang tidak memakai rangka horizontal di atasnya, sebagai berikut

jembatan2

Jembatan tipe ini lebih banyak dijumpai pada bentang sedang. Ini tentu sangat cocok untuk jembatan penyeberangan jalan, kenapa ? Karena relatif ringan (berupa rangka batang) dan sisi atas dapat sekaligus sebagai pagar pengaman. Karena konstruksi baja bagian atas adalah juga struktur utama, maka sangat riskan jika ditabrak oleh kendaraan. Tetapi di sisi lain ini juga efektif untuk menghindari dipakai oleh kendaraan yang lebar (yang cenderung berat). Sebagai pembatas kendaraan yang lalu lalang.

Di tinjau dari sisi struktur. Jembatan rangka tersebut cenderung berperilaku seperti balok simple-beam (tumpuan sendi-rol) sehingga elemen rangka di bagian atas adalah batang desak yang memerlukan bracing untuk mengurangi panjang tekuk. Oleh karena itu, jika diperhatikan maka elemen batang vertikal juga perlu difungsikan sebagai kantilever bracing yang memikul batang tekan di bagian atas tersebut. Jadi meskipun dari pembebanan utamanya, elemen vertikal tersebut relatif ringan , tetapi secara lateral harus cukup kaku dan perlu konstruksi yang menerus dengan elemen jembatan di bawah lantai kendaraan. Ini bedanya dengan sistem jembatan Kali Progo yang memakai rangka atas.

Berbicara dari sisi hidrologi. Maka jembatan deck bawah tentu sangat menguntungkan karena dapat diperoleh jarak cukup tinggi dari muka air. Ini tentu sangat berguna untuk daerah aliran sungai yang relatif sering banjir, yang kadang-kadang membawa kayu atau sebagainya. Oleh karena itu, tipe jembatan ini banyak dijumpai untuk daerah luar kota. Jembatan deck bawah pada umumnya memakai struktur baja berupa rangka baja. Meskipun di daerah purwokerto ada juga jembatan deck bawah dari beton bertulang yang berupa pelengkung. Tapi jelas ini lebih berat, jadi relatif jarang. Ini lho fotonya, pernah lihat belum.

jembatan deck bawah berupa jembatan busur beton di jateng

O ya, karena alasan ruang akses bawah yang tidak terganggu, jadi aliran air lancar, tetapi juga menguntungkan jika dibagian bawah dipakai untuk jalan-jalan di dalam kota. Agar bentuknya manis maka jembatan deck bawah tipe virendel ini cukup populer.

jembatan3

Perhatikan pilar yang vertikal pada jembatan virendel di atas. Busur di atas akan bekerja sebagai batang tekan, sedangkan batang vertikal sebagai bracing lateral busur tersebut. Batang bawah yang berfungsi juga sebagai lantai kendaraan akan bekerja sebagai balok dan batang tarik. Permasalahannya adalah bahwa batang-batang vertikal harus sambungan momen. Tidak bisa sambungan sederhana seperti sistem jembatan Kali Progo.

Jadi kendala bentuk yang kaku, seperti yang diperlihatkan pada jembatan kali progo, sebenarnya dapat diatasi dengan sistem jembatan deck bawah yang manis seperti vierendel tersebut. Tapi itu umumnya ada di eropa yang sudah peduli dengan keindahan tata kota. Kalau di Indo maka berlaku pemeo “sudah untung bisa lewat”. 

Alasan lain digunakan deck bawah atau atas adalah karena fungsi strukturnya. Sebagai contoh pelengkung tidak menangkap air (bentuk arch), seperti pada jembatan virendel tersebut maka menjadi batang tekan. Model pelengkung seperti itu sebenarnya cocoknya untuk jembatan dengan deck di atas, karena deck itu juga sekaligus sebagai bracing untuk mengurangi panjang tekuk. Karena menghabiskan ruangan yang besar maka cocoknya untuk jembatan di sungai yang curam dan tinggi dipegunungan. O ya ini juga karena model lengkung tersebut ada tendangan di tumpuannya, jadi perlu pondasi yang tidak hanya kuat terhadap beban vertikal tetapi juga lateral, contohnya :

jembatan arch

Bentuk jembatan di atas adalah bentuk arch, karena bebannya dari atas maka beban-beban yang dominan adalah gaya tekan. Coba bandingkan dengan jembatan pelengkung beton pada gambar diatas, batang-batang vertikal yang menghubungkan deck bawah ke pelengkung adalah batang tarik. Deck bawah sendiri sebetulnya berfungsi sebagai batang tarik, reaksi dari pelengkung. Jadi pelengkung beton di atas pondasinya hanya menerima gaya vertikal saja. Jadi pengaruh lingkungan nggak terlalu terasa. Coba perhatikan detail tumpuan jembatan beton di jateng tersebut.

tumpuan jembatan busur beton di jateng

Lha beda dengan jembatan baja di atas, yang dipinggir jurang tersebut. Jika pondasinya bergeser maka jembatan bisa rusak. Jembatan arch seperti itu cocok ditujukan pada material yang kuat menerima gaya tekan, jaman dulu bentuk tersebut banyak dipakai karena material konstruksinya adalah stone atau masonry. Itulah mengapa dipakai bentuk deck atas, dan dibawahnya pelengkung. Jadi ini adalah persyaratan bahan (struktur).

Sedang pelengkung yang menangkap air (mangkok terbalik atau seperti tali jemuran) maka batangnya menjadi batang tarik. Kabel adalah elemen tarik yang sempurna. Oleh karena itu jembatan gantung akan memakai deck bawah, namanya saja gantung gimana bisa di atas ya.

jembatan gantung di kali progo

Juga pada jembatan cable-stayed sifatnya seperti jembatan gantung sehingga harus deck bawah. Tipe jembatan yang seperti itu jelas tidak bisa akalin lagi, harus deck bawah. O ya, cable stayed dan suspension bridges (jembatan gantung) hanya cocok untuk bentang panjang atau sangat panjang.

gabungan jembatan deck gider atas dan deck bawah cabled stayed

Sedangkan jembatan dengan deck-kendaran di atas, sedangkan struktur utamanya di bawah, maka orang awam akan melihatnya sebagai bentuk jembatan yang paling bersih, karena kadang-kadang kalau kita lewat di atas jembatan tersebut maka seakan-akan tidak melihat struktur jembatan  tersebut. Sepintas seperti jalan raya biasa.

Berkaitan dengan jembatan dengan deck di atas, maka hampir semua sistem jembatan girder adalah tipe tersebut (deck atas). Jadi masalahnya sekarang tinggal ruang bawahnya cukup atau tidak. 

jembatan deck atas di jalur tol cipularang

Coba perhatikan, jika anda sering lewat tol Cipularang, pernahkan anda melewati jembatan di atas. Pasti tidak ingat bukan. Lha iya. Itu foto diambilnya dari sisi luar jalan tol, jika anda di atasnya maka strukturnya nggak kelihatan. Padahal strukturnya besar sekali. Iya khan.

Eit, ada yang nanya jembatan tol rajamandala di atas sungai Citarum. Ini khan fotonya

jembatan tol rajamandala

Ini mah jembatan jenis cast in situ prestressed Balanced-Cantilever, jembatan serupa juga telah dibangun oleh PT. Waskita Karya di P. Batam, dan juga sekarang untuk jembatan Suramadu di Jawa-Madura. Ini jelas termasuk deck atas, strukturnya di bawah. Jadi kalau lewat ya nggak akan melihat. Tul khan.

Ini termasuk jembatan bentang sedang. Dipilihnya type Balanced-Cantilever karena sistem tersebut dalam pelaksanaannya tidak memerlukan perancah di luar, tetapi memanfaatkan proses pelaksanaannya sebagai balok kantilever. Jadi untuk tempat-tempat yang curam seperti di atas maka tipe tersebut sangat cocoklah.

Ini ada foto pelaksanan tipe Balanced Cantilever, tapi bukan proyek Rajamandala itu, ini proyek lain. Tapi intinya mirip.

pelaksanaan jembatan tipe cast in situ balanced cantilever

Perhatikan kalau foto pelaksanaannya, gaya reaksi cantilever akan diseimbangkan oleh sisi jembatan yang satunya lagi. Sedangkan pada jembatan tol Rajamandala, satu sisi saja, sedangkan sisi pendek (dekat tumpuan) dibuat besar sebagai pemberat.

 Gitu dulu ya.

Sumber : Wiryanto Dewobroto

Posted By Infolahta Ditziad

Trik Harmonisasi 2 Warna Cat Kontras Di Dinding Rumah/Apartemen/Kantor

Posted in KONSTRUKSI on Januari 26, 2009 by zeniad

Lihat contoh di bawah ini. Saya pernah menyampaikan bahwa prinsipnya komposisi warna cat dalam rumah harus mengalir,  Artinya, perpindahan dari satu warna ke warna lain memperlihatkan kesinambungan.

Tetapi bagaimana kalau kombinasi antara dua cat sungguh kontras? Misalnya warna merah bata dengan warna putih? Bagaimana membuat sambungan? Mengapa harus kontras? Mungkin karena Anda mau membuat kejutan sekaligus menciptakan efek lorong dalam ruang.  Ikuti trik berikut ini.

1. Gunakan furniture yang mengandung kedua warna yang kontras. Sebuah ruang dengan dua warna merah dan putih, akan tampak menyatu bila ada sebuah sofa merah dengan bantal putih. Atau sebaliknya.

2. Gunakan lukisan atau pigura lukisan yang mempunyai 2 warna dominan yang sama dengan dua warna dinding.

Contohnya, ada di Annahape Studio. Di salah satu dinding studio terdapat dua warna cat: putih dan ungu. Dinding tersebut dicat demikian untuk menciptakan dua ruang imajiner yang berbeda. Maksudnya, saya ingin menciptakan dua fungsi ruang yang berbeda tanpa sekat. Caranya adalah membuat dua warna kontras pada satu dinding. Lihat foto di bawah.

cat

Pada dinding berwarna putih saya meletakkan dua kanvas lukis yang saya cat dengan warna kontras sama: unggu dan putih. Lihatlah hasilnya: kedua warna cat dinding yang kontras itu tampak menyatu. Mengalir!

Anda dapat membuat trik ini bila Anda mempunyai satu ruang dengan dua fungsi. Misalnya living room dengan ruang makan. Atau ruang makan dengan dapur.

 

Selamat mencoba.

Sumber : Anna Hape Desain Interior dan Desain Arsitektur

Posted by Infolahta Ditziad

Renovasi Rumah: Merancang Rumah Tinggal di Lahan Segi 9 Alias Lahan Tak Beraturan

Posted in KONSTRUKSI on Januari 26, 2009 by zeniad

Tanah Anda bentuknya tidak karuan? Orang biasanya menyebutnya sebagai lahan tidak beraturan. Artinya, bukan empat persegi panjang atau pun bujur sangkar. Masih lumayan kalau lahannya punya empat sudut. Bagaimana kalau segi 5 atau 6? Inilah yang dialami kedua rekan kita. Tanahnya segi 9!

Awalnya, Dimas dan Venny mempunyai rumah di atas lahan 82 m2 (6×13,67m) dengan bangunan standard 36m2 (6×6). Kemudian karena ada peluang, mereka membeli tanah di belakang rumah yang bentuknya lumayan tidak beraturan luasnya 80m2. Seberapa tidak beraturannya? Lihat denah berikut.

denah1

Jadi total tanahnya 162m2. Tanahnya segi 9! Rumah itu diniatkan akan direnovasi untuk memenuhi kebutuhan berikut: 1 kamar tidur utama, 2 kamar anak, dapur, ruang makan, ruang keluarga. Kalau bisa ada 1 kolam renang kecil. Bangunan satu lantai supaya budgetnya minimal.

Kesulitan terbesarnya adalah bagaimana memanfaatkan secara optimal lahan yang tidak beraturan itu. Dalam gambar berikut saya tunjukkan saran layout yang saya buat.

denah2

Gambar lebih jelas dapat di lihat gallery saya (klik di sini) Konsep dasar yang saya tawarkan adalah rumah dengan ruang terbuka. Dengan konsep ini dapat diupayakan agar semua kamar/ruang mendapat sirkulasi udara yang sehat.

Lahan depan (rumah asli) sebagian besar dimanfaatkan untuk public area dan bagian dalam (lahan yang tidak beraturan) untuk private area.

Di bagian muka di buat ruang tamu, dapur, kamar pembantu, area servis dan ruang hijau. Ruang hijau dapat diakses baik dari kamar tamu, kmr tidur anak 2 maupun ruang makan. Transisi dari bagian muka ke bagian dalam dibuat dengan lantai kayu. Maksudnya untuk menghindari kebosanan dan menimbulkan kesan artistik.

Tata letak bagian dalam mengikuti bentuk lahan yang tidak beraturan. Tentu saja tanpa sedikitpun mengurangi fungsi yang diinginkan. Baik bentuk maupun luasannya. Di bagian dalam itu terdapat ruang tidur utama, ruang tidur anak 1, 2 kmr mandi, ruang keluarga. Bahkan taman dan kolam renang kecil!

Perhatikanlah bahwa semua ruang di rumah itu mendapatkan sirkulasi udara yang baik lho. Saya memang belum tahu tahu persis, kolam renang seperti apa yang diinginkan Dimas dan Venny. Apakah hanya untuk orang tertentu (mis. Keluarga inti), kolam untuk berendam saja semacam jacuzzi? Sementara ini kesan yang muncul, posisi kolam mungkin agak dipaksakan. Tentu saja desain ini perlu dilihat ulang apakah sudah memenuhi kebutuhan.

Perhatikan juga bahwa ruang tidur utama cukup luas, sehingga selain tempat tidur penghuni masih bisa meletakkan sofa kecil. Yang bisa juga diubah fungsinya sebagai kamar kerja. Ruang untuk berdandan/lemari pakaian yang luas. Serta kamar mandi shower.

Saya ingin memberi masukan baik dari aspek arsitektur maupun struktur, bila layout itu akan dipakai. Rumah itu akan tampil artistik dan anggun bila, atap bagian belakang lebih tinggi daripada bagian depan. Selain menampilkan kesan artistik, perbedaan ketinggian atap depan dan belakang, akan dapat dimanfaatkan sebagai ventilasi udara dan sinar matahari, sehingga ruang keluarga tidak menjadi gelap (lihat tip 28 tentang lighting). Konsekuensinya dinding rumah di bagian dalam tentu lebih tinggi. Dinding yang tinggi ini akan menciptakan efek ruang terasa lebih luas.

Yang harus sungguh diperhatikan adalah desain struktur atap nantinya. Perhitungan harus dibuat cermat, jangan sampai ada kebocoran akibat kesalahan menghitung struktur. Sambungan antara atap muka dan belakang juga harus diperhatikan untuk menghindari tampias.

Kelemahan dari layout di atas adalah soal keamanan carport. Jarak antara carport dan ruang dalam lumayan jauh, sekitar 12m. Sebenarnya kalau lingkungan tempat tinggal cukup aman bukan masalah. Tetapi kalau di daerah itu cukup rawan, posisi carport mungkin menghawatirkan.

Solusinya adalah membuat bagian muka menjadi 2 lantai. Servis area dan kamar pembantu di lantai 2. Dan garasi mobil di tarik lebih ke dalam. Semoga keinginan keluarga Venny segera dapat terwujud, dan kita semua dapat melihat hasilnya.

Sumber : Anna Hape Desain Desain Interior dan Desain Arsitektur

Posted by Infolahta Ditziad