PROGRAM ANTI TERORISME TERHADAP SENJATA BIO-ANTRAKS

 

Pendahuluan

Aksi terorisme selain menggunakan bahan peledak konvensional juga dapat menggunakan senjata kimia dan biologi, sebagaimana yang terjadi di Jepang, ketika teroris Jepang dari kelompok Aum Shinrikyo (Supreme Truth) pada saat sibuk yaitu : jam 08.09 dan 08.13 telah menyerang stasiun Kasumigaseki, dimana pada jam tersebut stasiun dan kereta api dalam keadaan penuh/padat. Penyerangan kelompok teroris tersebut menggunakan senjata kimia racun syaraf (Nerve Agent Sarin) jenis sarin, dan telah melukai lebih dari 5000 orang.

Rangkaian kejadian dan Bebe-rapa Aksi Terorisme.

Sebenarnya selain kelompok Aum Shinrikyo juga telah pula dilakukan penggunaan senjata kimia biologi antara lain :

·         Tahun 1972, kelompok Fascist Group/Rising Sun di Amerika yang mencoba untuk mengkontaminasi air minum di Chicago, St. Louis USA dengan menggunakan bakteri typhoid namun dapat digagalkan.

·         Tahun 1984, kelompok Oregon yang dipimpin oleh Bhagwan Shree Rajneesh mengkontaminasi dengan menggunakan bakteri salmonella yang me-nyebabkan 750 orang keracunan.

·         Tahun 1993, ledakan di Gedung World Trade Center tidak saja menggunakan bahan peledak, juga racun sianida namun racun tersebut ikut terbakar bersama bahan peledak.

·         Tahun 1995, dua orang teroris dari kelompok Minnesota Patriots juga menggunakan racun ricin namun dapat digagalkan.

·         April 1995, satu bulan setelah kejadian di subway Tokyo kelompok yang bekerja sama dengan Aum Shinrikyo berhasil digagalkan, juga akan menggunakan racun sarin di Disneyland, California namun dapat digagalkan.

·         Mei 1995, Larry Wayne Harris salah satu anggota dari kelompok The White Supremicist Organization Aryan Nation telah terbukti menyimpan dan mengembangkan micro orga-nisme bakteri bubonic plague sebanyak 40 Kg.

 

Penggunaan Senjata Biologi Untuk Aksi Terorisme.

Indonesia telah menjadi negara pihak pada Konvensi Senjata Biologi melalui Kepres Nomor 58 tahun 1991 tentang pelarangan penggunaan senjata biologi. Namun disisi lain diperkirakan terdapat beberapa bahkan banyak negara di dunia yang mempunyai potensi dan berkemampuan untuk memproduksi bahan-bahan untuk senjata biologi, oleh karenanya diperlukan suatu protokol tentang sistem verifikasi Konvensi Senjata Biologi yang hingga kini belum terwujud. Dengan kondisi keamanan dalam negeri dan keamanan global yang tidak menentu dan sulit diramalkan serta pengendalian terhadap penyalahgunaan agensia biologi, maka sudah seharusnya Indonesia pun dapat mengantisipasi dan mempersiapkan diri bila terjadi aksi terorisme yang menggunakan senjata biologi maupun kimia. Korban yang diakibatkan oleh aksi terorisme bukan hanya pihak militer namun lebih banyak pihak masyarakat sipil.

 

Macam dan Jenis Senjata Biologi.

Penggunaan senjata biologi, sesuai klasifikasi sasarannya dan tujuan penggunaannya dapat di-katagorikan sebagai senjata biologi Anti Personil, Anti Hewan dan Tanaman serta Anti Material. Senjata biologi yang dijadikan sebagai isian terutama menggunakan Mikroorganisme, namun untuk kepentingan sabotase dan strategi lainnya dan bisa pula menggunakan Makro-organisme, antara lain untuk menyerang pusat-pusat logistik dan daerah pertanian.

Penggolongan senjata biologi secara garis besar yang dapat digunakan untuk kepentingan militer maupun terorisme adalah :Virus, Ricketsia, Protozoa, Fungi dan Bakteria.

Antraks adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri bacillus anthracis. Penyakit ini memang bisa menyerang hewan maupun manusia (zoonosis). Sedang penyebarannya bisa melalui kontak langsung dengan bibit penyakit yang ada di hewan atau daging, tanah dan rumput. Penyakit yang bisa berkembang biak hampir diseluruh bumi ini sudah dikenal sejak jaman nabi Musa. Namanya juga ber-macam-macam, sebab penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit pencukur wool karena memang sering menyerang pencukur wool yang dombanya terserang Antraks. Selain itu juga disebut penyakit radang limpa, karena hewan yang diserang limpanya membengkak dan gembur.

Antraks yang banyak dikenal selama ini juga disebut sebagai penyebab penyakit pustula atau karbunkel ganas. Sebab gejala penyakit yang diderita hewan memperlihatkan adanya luka atau borok berbentuk pustula dan karbunkel. Sedang hewan yang mudah terkena penyakit antraks adalah domba, sedangkan sapi dan kuda tergolong lebih tahan.

Bahan kimia yang bisa mema-tikan spora yaitu formaldehid, glutaraldehid, asamperasetik dan hidrogentaroksid [H2O2]. Penyakit antraks disebut juga dengan Radang Kura, Radang Limpa, Malignant Pustula, Malignant Edema, Woolsoster’s Disease, Ragpickers Disease, Splenic Fever atau Charbon, sedangkan masyarakat Jawa Barat menyebut dengan Caneung Hideung. Bakteri antraks ter-kenal bisa membentuk spora yang tahan terhadap lingkungan yang buruk.

Delivery Means / Cara Pelon-tarannya.

Untuk kepentingan perang peng-gunaan senjata biologi dapat di lontarkan dengan menggunakan senjata Rocket Launcher dengan munisi dan isian agensia biologi dengan low explosives, Arteleri, ranjau darat anti personil dengan low explosives. Penyebaran menggunakan sprayer dengan pesawat terbang, yang paling sederhana adalah dibawa oleh manusia untuk dikontaminasikan ke tempat/objek-objek vital anta-ra lain pusat-pusat pemukiman, perbelanjaan, sumber air minum dan instalasi logistik/pergu-dangan. Agensia biologi yang biasanya digunakan dan dipilih adalah Kuman/Bacillus An-thraxis dan Clostridium Botu-linum, Pes maupun berbagai Toksin yang diperoleh dari hasil pengembang-biakan secara labo-ratoris dari suatu mikroorga- nisme.

Kuman antraks yang berasal dari spora Bacillus Anthraxis, bersifat unaerob yaitu hanya hidup pada kondisi yang tidak ada udara, dan apabila terjadi kontak dengan udara maka akan berubah menjadi spora. Spora ini bisa bertahan ditanah/alam hingga puluhan tahun seba-gaimana di Pulau Corsica, Perancis pernah diisolasi akibat Antraks hampir selama 40 tahun, demikian pula akibat meledaknya Pabrik Amunisi Bekas Negara Uni Soviet, di Siberia ( tahun 1979). Untuk memusnahkan kuman Antraks harus dilakukan pemanasan dengan sterilisasi hingga suhu 100 derajat celsius, namun terkadang masih bisa bertahan hidup. Spora antraks inilah yang dapat ditebarkan sebagai agensia biologi dalam media bubuk tertentu.

Apabila suatu daerah telah terkena atau terkontaminasi agensia biologi anthraks dan manusia atau personil militer terinfeksi maka akan me-nyebabkan gejala antara lain luka yang melepuh, kemudian menjadi luka borok, pada hari kedua memperlihatkan gejala peradangan pada saluran pernafasan yang mengeluarkan darah, infeksi melalui saluran pernafasan atau inhalasi akan menyebabkan pnemonia dan batuk berdarah dan selanjutnya menyebabkan kematian. Cara pengobatannya adalah menggunakan penicillin, tetapi oleh karena masa inkubasi yang demikian cepat maka probabilitas untuk sembuh akan sangat kecil sekali.

Agensia biologi yang dapat digunakan sebagai senjata biologi antara lain adalah pes, dari jenis Yersinia pestis. Penggunaannya dengan cara ditembakkan, diledakkan di uda-ra, agensia biologi ini meng-kontaminasi manusia melalui saluran pernafasan/inhalasi dan menginfeksi saluran pernapasan. Gejalanya batuk darah, demam, muntah-muntah, pusing dan diare. Penyakit ini sebetulnya bisa disembuhkan dengan meng-gunakan obat antibiotik yaitu Streptomicyn tetapi kebanyakan sebelum streptomicyn bekerja, korban / penderita sudah lebih dulu meninggal, dengan masa inkubasi sekitar 3 sampai 4 hari.

Clostridium botulinum. Toksin ini sebetulnya sangat lethal apabila terkontaminasi oleh manusia, dengan gejala yang terjadi : pusing, mual, muntah, pandangan mata kabur. Cara penebaran toksin ini dapat dilakukan dalam bentuk bubuk, sebagai isian munisi biologi dalam hulu ledak roket atau ditebarkan melalui pesawat terbang.

Perlindungan terhadap Senjata Biologi.

Apabila mendapat serangan senjata biologi, tindakan perlindungan terhadap senjata biologi yang pertama adalah menggunakan masker dan pakaian pelindung nubika. Setelah dapat diketahui musuh akan menggunakan senjata biologi, seluruh pasukan dan penduduk sipil harus diberikan program vaksinasi sesuai vaksin dan diperkirakan jenis dan macam agensia biologi yang digunakan oleh musuh. Program dan kemampuan proteksi vaksin tersebut tentunya bervariasi antara 2 hingga 3 tahun. Kondisi dan kemampuan industri farmasi biovaksin di Indonesia, baru memproduksi jenis vaksin untuk penyakit pes dan hanya dapat memberikan kekebalan sekitar 6 bulan. Sedangkan Vaksin Antraks, Indonesia hanya mem-produksi untuk ternak sedangkan vaksin untuk manusia, belum diproduksi.

Agensia Biologi lainnya.

Negara Singapura pada tahun ini pernah terserang Insectious Disease, sejenis Virus yang cukup ganas yaitu penyakit Mulut, Kuku dan Tangan (MKT) yang menyerang anak-anak. Terdapat tiga virus penyebab MKT. Satu diantaranya, Enterovirus-71, sangat mematikan, sedangkan yang menyerang Indonesia bukan jenis ini. Keba-nyakan para siswa di Singapura yang menderita penyakit MKT langsung diisolasi dan tidak boleh masuk sekolah. Disamping itu untuk mencegah jangan sampai penyakit ini berkembang, pihak sekolah telah pula melakukan program dekontaminasi ruang kelas dan alat-alat mainannya secara berkala dengan bahan kimia dekontaminasi/ bahan desinfektan.

Penyakit MKT, adalah penyakit yang biasa mengenai bayi dan anak. Ia disebabkan oleh virus yang termasuk dalam kelompok Enterovirus-71 non-polio, diantaranya Enterovirus-71, Coxsackie A16 dan Echovirus. Dari aspek sejarah perkembangan penyakit, Public Health Aspects, penyakit ini pernah berjangkit di negara Asia, dan yang pertama kali dijangkiti adalah Taiwan tahun 1997. kemudian Serawak, Malaysia tahun 1998, Singapura tahun 2000. Sementara Indonesia juga didatangi virus ini tahun 2000, yaitu di Batam, Jakarta dan sekitarnya.

Selain itu penyakit zoonosis lainnya yang pernah mewabah adalah penyakit Mad Cow, yang disinyalir berasal dari Inggris dan Jepang. Kasus ini diungkap oleh Masyarakat Ekonomi Eropa, dan dengan terungkapnya kasus pe-nyakit sapi gila di Eropa dan Jepang maka telah dibuat suatu laporan yang mengidentifikasi adanya Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) di sebuah perusahaan susu di Jepang. Otoritas identifikasi dan kesehatan publik dari Kedokteran Hewan dan Pertanian (AVA) menyatakan bahwa kasus sapi gila di Jepang terkuak ketika sebuah perusahaan susu sapi Holstein di Chiba sebelah timur Tokyo terbukti positif tercemar penyakit sapi gila atau BSE.

Korelasi antara Bahan Bakar pembangkit listrik dan Senjata Biologi

Memang apabila dilihat secara sepintas tentang hubungan antara sapi, batubara dan pembangkit listrik, tidak ada hubungannya. Tetapi setelah adanya rencana mengimpor bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik yang berasal dari tepung tulang sapi yang terjangkit penyakit Mad Cow maka mulai terkuaklah suatu masalah besar yang sangat potensial. Mudah-mudahan tidak ada konspirasi untuk menyebarkan senjata biologi secara halus dan terselubung untuk mengkontaminasi ternak dan bahkan manusia di Indonesia. Hal penting adalah potensi munculnya dan mewabahnya penyakit sapi gila atau Mad Cow atau Bovine Spongiform Enchephalopathy (BSE), penyakit mulut dan kuku (Foot and Mouth Disease) atau penyakit Creutzfeld Jacob Disease (CJD) pada manusia akan terjadi di Indonesia apabila impor tersebut jadi dilakukan. Oleh karena untuk menghadapi Antraks saja Indonesia sudah sejak lama menjadi daerah endemik antraks yang hingga kini masih dan wabahnya diisolasi di 11 provinsi.

 

Cara penanganan dan Tindak-an yang harus dilakukan Bila Menerima Paket Antraks

·         Jangan membuka, menggo-yang atau mengosongkan amplop atau paket tersebut, laporkan kepada polisi atau Dinas Kesehatan setempat ataupun Depkes

·         Tempatkan dan masukkan amplop atau paket tersebut ke- dalam kantong plastik yang kedap, tertutup, terbungkus agar tidak berserakan keluar atau wadah lain untuk mencegah kebocoran isinya, selanjutnya letakkan disuatu tempat untuk diamankan kemudian segera dilaporkan.

·         Apabila tidak ada wadah atau tempat lain, bungkus amplop atau paket tersebut dibungkus dengan apa saja seperti kain, kaleng, kertas, dan lain-lain, tetapi jangan pindahkan lapis-an pembungkusnya.

·         Kemudian tinggalkan kamar / ruangan tersebut dan tutup pintunya, isolasi lokalisasi daerah tersebut dengan memberi tanda peringatan untuk mencegah orang lain masuk dengan tulisan peringatan ” Awas Bahaya Antraks dan Jauhi Tempat Ini”.

·         Lakukan dekontaminasi personil dengan cara membasuh tangan anda dengan air dan sabun untuk mencegah bubuk Antraks mengkontaminasi anggota tubuh, pakaian dan per-alatan, lakukan pula dekontaminasi ruangan dengan bahan desinfektan.

·         Apabila kejadiannya penerimaan paket yang dicurigai adanya Antraks terjadi di- rumah, laporkan pada polisi dan Dinas Kesehatan setempat Dan selanjutnya apabila terjadi di kantor, laporkan pada polisi, Dinas Kesehatan serta Satpam.

·         Untuk mencegah terjadinya kontaminasi luas dan mewabahnya penyakit menular, di-sarankan untuk membuat daftar orang yang berada di lokasi atau ruangan tempat paket atau amplop tersebut diterima dan diberikan daftar tersebut kepada pihak Dinas Kesehatan atau Depkes untuk mendapatkan pertolongan medis dan vaksinasi. Selanjutnya program pemantauan kesehatan dapat dilakukan oleh Dinas pelayanan kesehatan.

Bagi petugas ataupun personil yang memasuki atau berada di daerah kontaminasi Antraks diharuskan menggunakan baju pelindung yang terbuat dari bahan yang kedap, demikian pula para ahli senjata biologis juga mengenakan masker pengaman /masker nubika. Sejumlah benda yang diduga terkontaminasi dilakukan pengetesan, baik dila-pangan maupun di laboratorium. Sedang warga yang diduga terkontaminasi diharuskan mengikuti tes di rumah sakit.

Dekontaminasi medan dan ba-ngunan. Seluruh permukaan pada ruangan yang sempat menjadi tempat terbukanya paket bubuk antraks dibersihkan, selain menggunakan cara busa Sandia, nano-emulsion, formaldehyde fumigation atau sodium hypochlorite. Untuk memastikan bahwa ruang-an bebas kontaminasi dilakukan pengetesan.

Sanitasi lingkungan juga mendapatkan perlakuan khusus antara lain saluran pembuangan air, saluran pipa yang menjadi saluran sistem pengaturan udara juga harus dibersihkan / di dekontaminasi dari bubuk antraks. Demikian pula pemeriksaan terhadap berbagai peralatan yang langsung berhubungan dengan udara juga dilakukan pengetesan kemungkinan adanya kontaminasi

Cara kontaminasi dan Proses Penularan Antraks.

Mula-mula Spora terhirup oleh manusia melalui hidung kemudian masuk hingga ke paru-paru, kontaminasi ataupun penularan tersebut melalui cara inhalasi. Selanjutnya di paru-paru, spora tersebut ditangkap oleh macrophagus (pemakan sel) dan berkembangbiak menjadi bakteri. Macrophagus kemudian bergerak melalui sistem lymphatic mendekati simpul limpha. Yang selanjutnya bakteri tersebut mulai membelah diri.

Pada fase inilah terjadinya infeksi yang dimulai di dalam mediastinum dan efeknya mulai menyebar ke seluruh badan. Bakteri mulai memproduksi racun yang akan membunuh sel di dekatnya, kemudian memperlihatkan gejala klinis yang diakibatkan oleh adanya kematian sel sedikit demi sedikit sehingga menyebabkan terjadinya pembengkakan dan pendarahan. Infeksi kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, kemudian beberapa organ tubuh mulai tidak berfungsi dan sistem sirkulasi pun kolaps. Masa inkubasi hingga menyebabkan kematian diperkirakan Antraks yang dapat menyebabkan kematian hanya dalam waktu 48 jam.

Tata Cara Deteksi dan Identifikasi Antraks

Tes Antraks. Sebagaimana yang dilakukan menurut prosedur Kenneth Yeh, Technical sales manager di Idaho Technology Salt Lake City, telah melakukan uji antraks dengan menggunakan alat deteksi dan identifikasi biologis dengan kelengkapan Kit Biology dan Alat laboratorium yang disebut RAPID.

Selain itu ada beberapa cara pengetesan akibat kontaminasi bakteri antraks.

Test Antibodi (Test Cepat Strip). Cara kerja : bubuk yang sudah dicurigai bubuk antraks dicampur air untuk diteteskan pada alat test garis guna

mengetahui kemampuan anti-bodi menahan atau melawan virus antraks, jika melewati garis tertentu maka disimpulkan positif demikian sebaliknya. Kecepatan : 15 menit, Ketepatan : 95 persen.

·         Elisa Test. Cara kerja : hampir sama dengan Test Garis, namun dilakukan di laboratorium. Kecepatan : beberapa jam, Ketepatan lebih akurat dibanding Test garis.

Test Darah. Cara kerja : darah seseorang dilakukan test antibodi anti antraks. Kecepatan : cepat, namun harus diulang beberapa minggu. Ketepatan : berbeda jika terinfeksi.

Pembiakkan Bakteri. Cara kerja : sampel darah, bubuk atau yang diduga terkontaminasi antraks dibiakkan dengan cara memberi makanan khusus untuk bakteri antraks. Jika muncul bakteri yang menempel maka positif. Kecepatan : dua hari. Ketepatan : cukup tinggi, bisa mendeteksi spora.

·         Pengamatan Mikroskopik Cara kerja : sampel darah atau bubuk ditempatkan pada lensa mikroskop. Dengan bantuan bahan kimia tertentu bisa dilihat ada tidaknya bakteri antraks.

·         Test DNA. Cara kerja : sampel darah atau bubuk ditempatkan dicampur dengan cairan kimia yang bisa menimbulkan gambar DNA antraks. Jika bereaksi, maka sampel tersebut mengandung bakteri antraks. Kecepatan : bisa sehari atau lebih tergantung kecanggihan laboratorium.

Cara Pencegahan dan Perlindungan terhadap Antraks.

Cara menghindari atau menghentikan serangan antraks ada tiga macam. Pertama, gunakan masker pelindung. Kedua, beri antibiotik bila sudah positif terkena. Dan Ketiga, vaksinasi untuk mencegah masuknya antraks. Masker pelindung gas, dibuat khusus untuk melindungi masuknya bahan-bahan berbahaya lewat pernafasan. Umumnya di laboratorium, masker gas ini juga dilengkapi dengan baju pelindung. Sehingga kontak langsung dengan benda-benda berbahaya betul-betul bisa dihindari.

Hanya saja pemakaian masker ini tidak bisa dilakukan selama 24 jam. Disamping itu, bentuk muka juga mempengaruhi ukuran masker. Pemberian antibiotik adalah pilihan lain dalam berperang melawan bakteri antraks. Antibiotik yang biasa digunakan adalah ciprofloxacin, atau Cipro. Pasien yang sudah di diagnosa menghirup antraks, harus diberi dengan dosis tinggi. Jika berhasil, perlakuan diteruskan untuk 60 hari ke depan. Sehingga orang yang sudah kemasukan antraks tidak akan jatuh sakit.

Penutup

Demikian sekilas tentang hal-hal yang berkaitan dengan Antraks serta cara penanggulangannya semoga bermanfaat.

 

Daftar Pustaka,

CDC , Centre Disease Control, Health Alert Network, 2001.

 Sumber : Buletin Balitbang Dephan RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: