Terorisme; ‘Logika Sebab’ versus ‘Logika Akibat’

Invasi rezim Amerika atas nama penegakan demokrasi dan HAM di Vietnam, Granada, Panama, Somalia, Afganistan, dan terakhir, Irak, apabila tidak mengikuti konsensus internasional dapat dikategorikan sebagai aksis terorisme struktural. Karena itulah, menurut kelompok penganut logika ‘sebab’, aksi tersebut harus dibalas teror non-struktural (mengingat mereka tak punya aparat represif kenegaraan, kecuali aparat ideologis semacam doktrin dan sejenisnya).

Melihat rekaman video yang menanyangkan pernyataan tekad dan pesan-pesan terakhir para pelaku bom Bali II, semua pihak kontan tercengang. Tak ayal, kalangan pakar dan pengamat pun kebingungan dalam menganalisis fenomena kelompok pelaku bom bunuh diri yang diotaki Dr. Azahari dan Nordin M. Top ini.

Klisenya, fenomena ini lazim dikaitkan dengan rendahnya tingkat pendidikan, lapisan ekonomi lemah, gejala keterasingan yang menyulut kebencian terhadap situasi modern yang kapitalistik dan serba-mekanik, atau indoktrinasi dan radikalisai terencana dengan tafsir agama sebagai biang keladinya.

Di luar mainstream analisis di atas, melalui telaah yang lebih seksama, sumber persoalan aksi teror bom bunuh diri tersebut kiranya dapat dicari dari relasi antara sebab dan akibat yang melambarinya. Para pelaku bom bunuh diri tentu menyadari sepenuhnya bahwa yang akan jadi korban dalam aksinya tak cuma orang-orang yang dianggap musuh; tapi juga individu tidak ‘bersalah’ dan tak terkait dengan kebencian mereka.

Para pelaku bom bunuh diri pasti telah dijejali prinsip yang mengesampingkan rasa prihatin dan empati terhadap korban-korban yang berada di ‘tempat dan waktu yang salah’. Untuk justifikasi ini, sangat mungkin para trainer teroris meyakinkan mereka bahwa orang-orang tak bersalah, yang akan jadi korban, kalau memang muslim, juga terhitung sebagai syahid. Karenanya, mereka tetap melaksanakan apa yang diyakini sebagai satu-satunya cara atau the last mean paling efektif untuk menakut-nakuti pihak musuh, yakni ‘jihad’. Ini karena mereka mengutamakan ‘sebab’ ketimbang ‘akibat’.

Dalam logika sebab (teleologisme) seperti itu, baik-buruknya sebuah tindakan tidak ditentukan atau dipatok dari akibatnya, melainkan tujuan dan keyakinan yang dianut. Logika ini tentu saja berbeda dengan ‘logika akibat’ (efektualisme) sebagian besar masyarakat yang mengukur sebuah tindakan dari akibat-akibatnya. Menurut logika ini, telos semata belumlah cukup untuk dijadikan dasar sebuah aksi.

Kelompok penganut ‘logika sebab’ merasa puas karena berhasil ‘menebar rasa takut’ dan menunjukkan, secara langsung atau tidak, kebencian pada pihak yang dianggap musuh, dengan mengabaikan ‘rasa kasihan’ (yang telah dilegitimasi dengan kesyahidan yang—sebenarnya—masih ‘imajiner’). Sedangkan kelompok penganut logika akibat justru merasa kesal dan mengecamnya, karena melihat akibat yang ditimbulkannya berupa korban-korban tewas dan cedera, tanpa sedikitpun mempertimbangkan ‘niat baik’ para pelaku.

Untuk memahami persoalan ini, tentu saja diperlukan sebuah analisis komprehensif. Mestinya yang dijadikan tolok ukur (kebaikan dan keburukan) sebuah tindakan—yang bisa merugikan pihak ketiga yang umumnya tak terlibat dalam relasi kebencian—adalah paralelisme sebab-akibat. Perang, invasi, sengketa antarnegara, bahkan konflik bersenjata adalah tindakan yang pada dasarnya dianggap legal dan regulasinya diatur undang-undang internasional. Karena itulah, tidak semua penggunaan kekerasan dan kekuatan militer dianggap sebagai kejahatan dan tindakan inhuman.

Invasi rezim Amerika atas nama penegakan demokrasi dan HAM di Vietnam, Granada, Panama, Somalia, Afganistan, dan terakhir, Irak, apabila tidak mengikuti konsensus internasional dapat dikategorikan sebagai aksis terorisme struktural. Karena itulah, menurut kelompok penganut logika ‘sebab’, aksi tersebut harus dibalas teror non-struktural (mengingat mereka tak punya aparat represif kenegaraan, kecuali aparat ideologis semacam doktrin danb sejenisnya). Jadi, yang sebenarnya sedang terjadi adalah pertempuran antar-teroris; yang satu mengusung jargon demokrasi-HAM, sementara yang lain mengerek simbol jihad serta amar makruf nahi mungkar, di mana pun memungkinkan. Entah kenapa—inilah yang membuat kita jengkel—mereka menjadikan Indonesia dengan berbagai objek sipilnya sebagai ‘medan tempur’.

Menurut sosiolog dan kriminolog terkenal asal Norwegia, Johan Galtung, meski dunia kini ditandai dengan munculnya aliran-aliran fundamentalisme, namun, teror-teror dan kekerasan yang menonjol akhir-akhir ini—seperti teror 11/9, Bom Bali I-II, dan lain-lain—terkait erat dengan globalisasi atau kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS). Dibanding serangan yang dilakukan kelompok-kelompok teroris, kata Galtung, kekerasan struktural yang dilakukan negara adakalanya lebih buruk dari kekerasan lainnya. Ia mencontohkan terorisme negara yang dilakukan AS sebagai lebih berbahaya karena menggabungkan fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar.

Entah bagaimana, tiba-tiba HAM, demokrasi dan kebebasan, demikian pula jihad dan amar makruf nahi mungkar (yang merupakan konsep-konsep universal dan terbuka untuk diinterpretasi) seolah-olah telah menjadi hak paten kedua jenis teroris ini. Kelompok pertama merasa paling berhak melakukan penegakan demokrasi, sambil menganggap kecil jumlah korban yang berjatuhan setiap hari. Palestina, Afghanistan, dan Irak menjadi saksi atas semua itu. Sementara, kelompok kedua merasa berkewajiban menggelar ‘jihad’, tanpa perlu memilih lokasi yang lebih ‘mewakili pihak musuh’ dan menganggap korban sipil tewas dan luka sebagai ‘efek samping’ ( epiphenomena) belaka, sebagaimana terjadi di Jimbaran dan Kuta beberapa waktu lalu.

Teror dan kekerasan tidak hanya berupa pembunuhan, penyanderaan, perampokan, penganiayaan, dan genosid. Melainkan juga kebohongan, korupsi, indoktrinasi, obral janji, ancaman, tekanan, provokasi, dan sejenisnya, yang dilakukan demi menghalangi aktualisasi potensi mental dan daya pikir individu. Bahkan rekayasa bahasa dan artikulasi kalimat pasif, ambigu, bersayap, meaningless dalam pernyataan-pernyataan politik para pejabat penyelenggara negara, dapat dianggap teror gaya baru.

Dianggap demikian karena semua itu bertujuan memonopoli interpretasi atas semua hal berdimensi politis atau melakukan semacam character assassination (pembunuhan karakter) dan pemandulan kreativitas. Aksi-aksi pengrusakan dan ancaman sejumlah agama yang anti-pluralitas agama dan aliran pun bisa dimasukkan dalam daftar penggembira teror dan kekerasan.

Betapapun kejinya tindakan biadab yang dilakukan para pelaku bom bunuh diri dan para penembak misterius yang belakangan kembali bergentanyangan di Poso dan Ambon, semestinya kita—terutama aparat keamanan—tidak over acting dalam melakukan prevensi dan pengamanan. Salah tangkap pada gilirannya cenderung menjadi teror yang bahkan menyisakan trauma berkepanjangan. Kalau sebelumnya kita merasa kurang aman karena preman jalanan yang memalak dalam angkot atau metromini, kini mungkin sebagian orang mulai waswas karena takut jadi koran salah tangkap hanya karena berjenggot atau ditengarai rada mirip sketsa gambar salah satu buron.

Prevensi memang harus ditingkatkan, tapi menghidupkan koter seperti di zaman Orba sama saja dengan memutar balik jam sejarah kembali ke senjakala suram negeri ini. Perburuan terhadap unsur-unsur pengacau keamanan tentu saja harus terus dilancarkan. Tapi, lagi-lagi, jangan sampai kelewatan. Kalau tidak, kita sama saja menjadikan bumi pertiwi yang konon gemah ripah loh jinawi ini seperti kota imajinernya Batman, Gotham City. Di mana warganya lebih menghkawatirkan penggeledehan kelewat ketat pihak aparat bertampang seram ketimbang ancaman musuh-musuhnya yang mematikan.

Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: