Bagaimana Phospor Pertama Kali Ditemukan?

Hening Brand memang tidak mempublikasikan bagaimana pertama kali phosphor si ‘cahaya pembawa pesan’ ditemukan, istrinyalah yang memberikan kumpulan catatan penelitian Brand kepada Gottfried Leibnez (ahli kalkulus) setelah Brand wafat.
Leibnez menyusun ulang dan menguji kembali apa yang dilakukan Brand pada abad 17.
Metode yang dikemukakan oleh Leibnez bahwa:
” Urin dipanaskan hingga mengental,
” Panaskan kembali hingga menghasilkan minyak merah yang kemudian di destilasi lalu gambar.
” Tunggu hingga dingin, dimana itu terdiri dari asap hitam pada bagian atasnya dan garam pada bagian bawahnya.
” Garam buangan itu dicampurkan lagi dengan minyak merah ke dalam material hitam.
” Panaskan campuran itu selama 16 jam
” Pertama-tama muncul uap putih, lalu minyak dan kemudian phosfor.
” Phosfor disimpan di dalam air dingin

Yang ditemukan Brand, urin terdiri dari PO43 dalam Natrium phospat dan beberapa senyawa organik. Untuk memisahkannya ditambahkan oksigen dan dihasilkan CO berupa gas dan phosfor berupa padatan dibawahnya. Phosfor itu adalah phosfor putih. Brand menggunakan 5500L dan menghasilkan 120 gram phosfor.artinya 1 L urin orang dewasa mengandung 1,4 gram phosfor.

Luka Bakar Dalam Peperangan

            Ledakan keras dalam sebuah peperangan belum tentu menyebabkan luka bakar, kecuali bila ledakan terjadi dalam jarak tertentu. Sebuah peledak dengan berat 13,5 kg dapat menghasilkan ledakan api sampai lebih dari 18 meter, dan dengan cepat hancur di udara, tapi panas yang dihasilkan mengenai korban yang berada dekat dengan benda yang diledakkan. Udara sekitar juga meningkat, sehingga dapat menimbulkan ”partial thickness flash burns” .

            Dalam peperangan, luka akibat senjata konvensional yang ditembakkan dari udara menunjukkan kerusakan yang sebanding dengan dua serangan nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Ratusan ton bahan peledak yang yang mudah terbakar dan berdaya ledak tinggi telah menyebabkan kebakaran besar di Hamburg pada tahun 1943, yang menelan korban 65.000 jiwa. Peristiwa kedua terjadi di Dresden bulan Februari tahun 1945 yang membakar pusat kota sampai seluas 21km2 , dan menewaskan 135.000 jiwa, dimana sekitar 70% penyebab kematian diduga akibat asfiksia atau keracunan karbon moniksida. Bom atom di Hiroshima menghancurkan seluruh kota dan menewaskan 80.000 jiwa. Korban tewas akibat suhu yang sangat panas di pusat ledakan dengan kebakaran hebat di daerah sekitarnya, tertimpa reruntuhan gedung serta terpapar radiasi sinar γ. Penemuan senjata nuklir yang senakin berkembang akhir-akhir ini dapat menciptakan tragedi yang lebih parah dari kejadian terdahulu.

            Dalam perang modern, para awak tank merupakan kelompok yang beresiko menjadi korban luka bakar. Misil anti tank  yang menembus lapisan baja tank menghasilkan api dan suhu yang sangat panas dalam ruang tertutup, sama seperti ketika tank melepas misil nya yang terbuat dari metal. Ini bisa menyebabkan luka di jaringan lunak, luka bakar yang luas, dan kerusakan paru-paru. Langkah untuk menekan jumlah korban luka bakar

diambil   tentara Israel di perang Lebanon tahun 1982, diamana 9% awak tank menggunakan pakaian tahan api, dan hanya 12% yang terkena luka bakar di bagian perutnya. 9% dari prajurit yang terkena luka bakar mengenakan sarung tangan pencegah luka bakar, dan 75% dari mereka tidak mengenakan sarung tangan. Tetapi, 51% luka bakar yang diderita para tentara di Lebanon, merupakan luka bakar minor, dibandingkan dengan 21% korban di bulan 1973, dimana 29% dari korban luka  bakar tekena luaka bakar sampai setengah badan, dibandingkan denga tahun 1982 sebanyak 18%.

            Konflik di Falklands tahun 1982 menunjukkan bahwa personil yang bekerja di laut juga beresiko terhadap terjadinya kebakaran. 140 pasukan Inggris terkena luka bakar walaupun hanya luka kecil, dan banyak dari mereka menggunakan pakaian pelindung. Kejadian yang lebih buruk menimpa penerbangan RFA Sir Galahad,dimana 33 orang tewas  dimana 18 orang dari mereka  terjebak api dan asap setelah diserang “exocet missile” .  82 orang lainnya yang selamat mendapat perawatan di rumah sakit di atas kapal Uganda. Kejadian ini hanya sebagian kecil dari kecelakaan lainnya. Steroid berupa 2 gram methylprednisolon digunakan sebagai terapi awal, dilanjutkan dengan dosis yang sama, dan tidak bereaksi terhadap udem pulmo.

            Napalm dapat digunakan sebagai senjata  yang efektif. Bensin, yang bersifat volatil, dapat membakar cukup besar tapi percikannya tidak terlalu berbahaya.. Kedua bahan tersebut dapat dimodifikasi menjadi sebuah senjata dengan dicampur berbagai bahan tambahan yang dapat merubah sifat kimia mereka, menjadi kohesif dan adhesif,  melekat di permukaan sebagai partikel yang mudah terbakar. Karet pernah digunakan pada tahun 1935, namun pada tahun 1942, sabun aluminium yang terbuat dari minyak kelapa, asam naphtenic dan asam oleat menghasilkan partikel yang lebih banyak dan efektif. Napalm (derivat alumunium naphthenate dan palmitat)  saat ini merupakan nama generik yng diunakan untuk semua jenis hidrokarbon yang tebal. Ini termasuk polimer sintetik seperti polyurethane dan poliseter yang mungkin dapt dimodifikasi dengan dicampur alumunium bubuk atau metal carbon. Phosfor putih atau alumunium  biasa ditambahkan kepada bom berbahan dasar minyak tanah ini. Bahan-bahan ini jika dibakar akar menghasilkan suhu yang sangat tinggi, dan pada suhu diatas 1000ºC (1832 F) akan dengan mudah terbakar dengan adanya sifat adesif.  Efeknya terhadap tubuh manusia membahayakan, dapat menyebabkan luka bakar yang luas, lebih dari 25% permukaan tubuh.            Fosfor dapat menyebabkan trauma yang bersifat toksik, dan bahan-bahan adesif ini sulit dibersihkan.

            Fosfor yang digunakan dalam peperangan atau industri dapat menyebabkan kematian, karena apabila terbakar, walaupun hanya menyebabkan luka bakar seluas 12-15%. Membakar fosfor menyebabkan terjadinya lesi yang bisa meluas sampai seluruh fosfor diserap tubuh, atau area disekitar lesi kehabisan oksigen, misalnya dengan berendam di air dingin. Pasien akan merasa sangat sakit. Luka akan membentuk jaringan nekrotik berwarna kekuningan, berbau seperti bawang putih dan bersinar dalam kondisi gelap. Selain dari luka bakar yang terlihat, fosfor juga mengakibatkan kerusakan ginjal akibat sifat toksiknya. Glomerulonekrotik dan tubulonenkrotik menyababkan oliguria dan mempercepat kematian akibat gagal ginjal. Kerusakan hati juga dapat terjadi. Diduga penyebab dari kerusakan-kerusakan tersebut adalah masuknya  inorganik fosfor  kedalam peredaran darah.  Sebagai terapi yang paling optimal, saat ini digunakan “cooper sulphate” 0,5%-2%, menghasilkan lapisan “cupric phospide” diseluruh permukaan. Reaksi ini diharapkan efektif namun juga memliki efek toksik, dengan manifestasi primer perdarahan masif, dan gagal ginjal akut.

Bebeberapa tahun terakhir, kasus-kasus luka bakar akibat senjata kimia ditangani di “European Burn Centres”. “Mustard gas” dapat menghasilkan uap berbahaya yang jika kontak dengan zar cair, bisa menyebabkan terbentuknya bula di kulit, kerusakan mata, dan jika terhisap bisa menyebabkan gangguan saluran nafas.  Jika di absorpsi bisa menyebabkan depresi sumsum tulang sekitar 2 minggu setelah terpajan, dan bisa menyebabkan kematian. Pengobatan yang diberikan hanya bersifat simptomatik. Pada perang dunia I, hanya 2% dari seluruh korban yang meninggal akibat kasus ini.  

 

Posted by Kolonel Czi Soekartono (Kalabzi Ditziad)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: