Awas, Tentara Robot Mengancam Manusia

f-robot-barue-f

Meningkatnya pasukan robot di medan perang bisa membahayakan kemanusiaan. Mesin pintar penyandang senjata itu dikhawatirkan ditiru atau jatuh ke tangan teroris. Selain itu, suatu saat akan ada persaingan senjata robot yang sengit dan tak terkendali. Mimpi buruk tersebut bisa mirip film Terminator: The Rise of Machine.

’’Masalahnya adalah kita tidak bisa memasukkan kembali jin ke botol. Sekali senjata baru keluar, mereka dengan mudah ditiru,’’ kata Profesor Noel Sharkey di London (27/2). Pakar teknologi kecerdasan buatan dari Universitas Sheffield itu pembicara utama dalam konferensi lembaga bergengsi Royal United Services Institute, Inggris.

Saat ini robot yang dikerahkan di medan perang di seluruh dunia bisa mengidentifikasi dan mengunci target tanpa banyak bantuan manusia. Ia bisa berbentuk peluncur granat bergerak hingga pesawat tanpa awak penembak roket.

Amerika mengerahkan sekitar 4.000 unit robot di medan perang Iraq, termasuk pesawat tanpa pilot yang mempunyai ribuan jam terbang. Tiga robot tempur pertama dikerahkan, yang bisa membawa senapan mesin kaliber besar, diproduksi oleh pembuat senjata AS Foster-Miller. ’’(Ketiganya) terbukti sukses sehingga dipesan 80 unit lagi,’’ kata Sharkey.

Meskipun bisa beroperasi secara efektif, selama ini robot-robot itu sedikit banyak membutuhkan bantuan tangan manusia untuk menekan tombol atau menarik picu. ’’Jika kita tidak hati-hati, itu bisa berubah (makin otonom),’’ ingat profesor top tersebut.

Pendorongnya, para pimpinan militer menginginkan robot yang lebih otonom sesegera mungkin. Sebab, mereka ingin lebih efisien dalam ongkos perang dan bebas risiko korban perang.

Beberapa negara, dipimpin AS, sudah berlomba-lomba membuat robot tempur untuk dikerahkan lebih banyak ke medan perang. Korsel dan Israel menggunakan robot sebagai penjaga perbatasan. India, Tiongkok, Rusia, dan Inggris juga meningkatkan penggunaan pasukan robot.

Washington siap mengucurkan dana USD 4 miliar (sekitar Rp 36,2 triliun dengan kurs Rp 9.050) pada 2010 untuk teknologi tanpa awak. Sedangkan total belanjanya, menurut data departemen yang mengurusi teknologi tanpa awak yang dirilis Desember lalu, menanjak ke USD 24 miliar (Rp 217,2 triliun).

James Canton, pakar inovasi teknologi dan CEO Institute for Global Futures, memprediksi bahwa pada masa mendatang, untuk pengerahan pasukan selama 10 tahun, sebanyak 150 tentara dibantu 2.000 robot.

Kemungkinan alat tersebut digunakan teroris, kata Sharkey, menjadi keprihatinan serius. Sebab, robot yang tertangkap tak sukar dibelokkan penggunaanya. Bisa saja digunakan sebagai bom bunuh diri. ’’Saya tak tahu mengapa ini belum terjadi,’’ kata pakar itu.

Meskipun makin mengkhawatirkan, lanjut dia, hanya ada perkembangan kecil dari robot semiotonom ke robot mesin pembunuh yang benar-benar mandiri. ’’Saya telah berkerja dengan teknologi kecerdasan buatan selama berpuluh tahun dan gagasan ada robot yang bisa membuat keputusan untuk melenyapkan manusia menakutkan kami,’’ kata Sharkey.

Ronald Arkin dari Georgia Institute of Technology, yang bekerja dekat dengan militer AS di bidang robot, setuju bahwa pergeseran menuju otonomi akan bertahap. Tapi, dia tidak percaya bahwa robot tak punya tempat di garis depan. Dia mengakui, mungkin robot tak paham hukum perang. Namun, teknologi kecerdasan bisa membuat robot lebih paham lingkungan dan memproses informasi. ’’Dan, di sana tak ada emosi yang bisa mengganggu penilaian, seperti kemarahan,’’ katanya dalam konferensi teknologi perang di Universitas Stanford, AS, Januari lalu. (AFP/Rtr/roy)< Meningkatnya pasukan robot di medan perang bisa membahayakan kemanusiaan. Mesin pintar penyandang senjata itu dikhawatirkan ditiru atau jatuh ke tangan teroris. Selain itu, suatu saat akan ada persaingan senjata robot yang sengit dan tak terkendali. Mimpi buruk tersebut bisa mirip film Terminator: The Rise of Machine.

’’Masalahnya adalah kita tidak bisa memasukkan kembali jin ke botol. Sekali senjata baru keluar, mereka dengan mudah ditiru,’’ kata Profesor Noel Sharkey di London (27/2). Pakar teknologi kecerdasan buatan dari Universitas Sheffield itu pembicara utama dalam konferensi lembaga bergengsi Royal United Services Institute, Inggris.

Saat ini robot yang dikerahkan di medan perang di seluruh dunia bisa mengidentifikasi dan mengunci target tanpa banyak bantuan manusia. Ia bisa berbentuk peluncur granat bergerak hingga pesawat tanpa awak penembak roket.

Amerika mengerahkan sekitar 4.000 unit robot di medan perang Iraq, termasuk pesawat tanpa pilot yang mempunyai ribuan jam terbang. Tiga robot tempur pertama dikerahkan, yang bisa membawa senapan mesin kaliber besar, diproduksi oleh pembuat senjata AS Foster-Miller. ’’(Ketiganya) terbukti sukses sehingga dipesan 80 unit lagi,’’ kata Sharkey.

Meskipun bisa beroperasi secara efektif, selama ini robot-robot itu sedikit banyak membutuhkan bantuan tangan manusia untuk menekan tombol atau menarik picu. ’’Jika kita tidak hati-hati, itu bisa berubah (makin otonom),’’ ingat profesor top tersebut.

Pendorongnya, para pimpinan militer menginginkan robot yang lebih otonom sesegera mungkin. Sebab, mereka ingin lebih efisien dalam ongkos perang dan bebas risiko korban perang.

Beberapa negara, dipimpin AS, sudah berlomba-lomba membuat robot tempur untuk dikerahkan lebih banyak ke medan perang. Korsel dan Israel menggunakan robot sebagai penjaga perbatasan. India, Tiongkok, Rusia, dan Inggris juga meningkatkan penggunaan pasukan robot.

Washington siap mengucurkan dana USD 4 miliar (sekitar Rp 36,2 triliun dengan kurs Rp 9.050) pada 2010 untuk teknologi tanpa awak. Sedangkan total belanjanya, menurut data departemen yang mengurusi teknologi tanpa awak yang dirilis Desember lalu, menanjak ke USD 24 miliar (Rp 217,2 triliun).

James Canton, pakar inovasi teknologi dan CEO Institute for Global Futures, memprediksi bahwa pada masa mendatang, untuk pengerahan pasukan selama 10 tahun, sebanyak 150 tentara dibantu 2.000 robot.

Kemungkinan alat tersebut digunakan teroris, kata Sharkey, menjadi keprihatinan serius. Sebab, robot yang tertangkap tak sukar dibelokkan penggunaanya. Bisa saja digunakan sebagai bom bunuh diri. ’’Saya tak tahu mengapa ini belum terjadi,’’ kata pakar itu.

Meskipun makin mengkhawatirkan, lanjut dia, hanya ada perkembangan kecil dari robot semiotonom ke robot mesin pembunuh yang benar-benar mandiri. ’’Saya telah berkerja dengan teknologi kecerdasan buatan selama berpuluh tahun dan gagasan ada robot yang bisa membuat keputusan untuk melenyapkan manusia menakutkan kami,’’ kata Sharkey.

Ronald Arkin dari Georgia Institute of Technology, yang bekerja dekat dengan militer AS di bidang robot, setuju bahwa pergeseran menuju otonomi akan bertahap. Tapi, dia tidak percaya bahwa robot tak punya tempat di garis depan. Dia mengakui, mungkin robot tak paham hukum perang. Namun, teknologi kecerdasan bisa membuat robot lebih paham lingkungan dan memproses informasi. ’’Dan, di sana tak ada emosi yang bisa mengganggu penilaian, seperti kemarahan,’’ katanya dalam konferensi teknologi perang di Universitas Stanford, AS, Januari lalu.

Diintisarikan dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: