Manfaatkan Pasir Besi Dukung Industri Baja

KALIMANTAN Selatan kaya berbagai sumber daya alam (SDA). Seperti hasil hutan, batu bara, intan, emas dan pasir besi. (Oleh: Anton Kuswoyo)

Sumber daya alam tersebut tentunya perlu pengolahan yang tepat agar lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar maupun daerah. Daerah ini memiliki potensi pasir besi sangat besar yang tersebar di beberapa kabupaten. Selama ini, masyarakat hanya memanfaatkannya sebagai bahan campuran bangunan.

Karakter pasir besi di Kalsel mempunyai kadar Ferum (Fe) yang sangat rendah, sekitar 40-50 persen. Mengandung berbagai bahan pengotor seperti Titanium (Ti), Vanadium (V), Nikel (Ni), dan Cobalt (Co). Bahan pengotor tersebut menyebabkan pasir besi tidak efisien jika diolah menjadi besi baja. Harganya rendah, sehingga tidak menarik untuk ditambang secara besar-besaran.

Baja atau sering disebut besi baja adalah bahan baku vital dalam dunia industri. Sekitar 95 persen dari seluruh konsumsi produk yang terbuat dari logam didominasi baja yang digunakan hampir di semua segmen kehidupan. Mulai dari peralatan dapur, kendaraan (seperti mesin, bodi lokomotif dan lain-lain), generator pembangkit listrik, kerangka rumah dan bangunan, jembatan dan lain sebagainya.

Dewasa ini, kebutuhan baja dunia makin meningkat seiring meningkatnya pembangunan industri secara global. Berdasarkan laporan dari International iron and Institute, produksi baja dunia meningkat dari 1.028,8 juta metrik ton pada 2005 menjadi 1.120 juta ton pada 2006. Peningkatan itu diproyeksikan akan terjadi dari tahun ke tahun seiring  peningkatan konsumsi baja dunia.

Kebutuhan baja yang makin meningkat ternyata tidak diiringi produksi baja. Krisis kelangkaan bahan baku baja menjadi pemicunya. Hal itu karena meningkatnya kebutuhan baja di China yang lebih dari sepertiga jumlah total konsumsi baja dunia.

Perlu diketahui, kebutuhan baja China meningkat sekitar 14,4 persen. Dengan demikian perdagangan baja dunia banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan baja di China. Melihat fenomena tersebut, sangat menguntungkan jika Kalsel bisa menyumbangkan bahan baku pasir besi untuk diolah menjadi baja. Mengingat potensi pasir besi di daerah ini cukup banyak.  

Jika bisa menyuplai bahan baku untuk industri baja nasional, Kalsel akan memperoleh keuntungan, dan bisa meningkatkan daya guna pasir besi yang selama ini hanya digunakan sebagai bahan bangunan.

Permasalahannya, pasir besi di daerah ini mengandung bahan pengotor dan kandungan Fe-nya rendah. Oleh karena itu, perlu adanya terobosan teknologi yang canggih dan tepat untuk mengolahnya.

Salah satu cara meningkatkan daya guna pasir besi adalah memisahkan bahan pengotor dari Fe. Jika telah diperoleh Fe tanpa bahan pengotor, bisa langsung diolah menjadi baja.

Untuk membersihkan pasir besi dari bahan pengotor diperlukan alat pemisah magnet berbentuk roda yang disebut magnetik separator. Dengan alat tersebut, akan terpisah bahan yang bersifat magnet yakni Fe dan bahan pengotor yang tidak bersifat magnet. Bahan yang bersifat magnet dimurnikan lagi, sehingga menghasilkan Fe3O4 dan TiO2 (Titanium Dioksida). Dari Fe3O4 itulah yang nantinya diolah menjadi besi baja. Penerapan teknologi pengolahan pasir besi yang tepat diharapkan dapat menyuplai bahan baku industri baja nasional, sehingga kemandirian industri baja nasional dapat terwujud.

Selain itu, pemanfaatan pasir besi akan menciptakan lapangan kerja baru bagi daerah yang mempunyai  potensi pasir besi. Dampak ekonomi secara makro adalah berkurangnya nilai impor bahan baku baja. Hal itu sangat mendukung struktur industri perbajaan nasional yang kokoh dan mandiri.

Sudah saatnya industri di Indonesia berkembang dan mampu bersaing dengan industri asing, terutama dalam menciptakan produk yang berkualitas dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan menggunakan bahan baku lokal.  

Kalsel sebagai daerah yang kaya SDA perlu didukung dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Pada akhirnya nanti SDA yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal dan ditangani oleh tenaga profesional daerah.

Program Studi Fisika FMIPA Unlam mulai menyiapkan dan mencetak generasi yang ahli dalam bidang teknologi fisika terapan, untuk mengeksplorasi dan mengelola SDA di daerah ini.

Melalui bidang keahlian Fisika Instrumentasi, Fisika Bumi (Geofisika), dan dalam waktu dekat dibuka bidang keahlian Fisika Material. Tidak menutup kemungkinan suatu saat akan lahir fisikawan dari banua yang akan membangun Kota Seribu Sungai ini, dengan teknologi fisika terapan yang berwawasan lingkungan.

Untuk mengeksplorasi dan mengelola sumber daya alam, pemerintah tidak perlu lagi mendatangkan investor asing yang kebanyakan justru merugikan kita semua.

Disarikan dari Banjarmasinpost.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: