Archive for the NUBIKA PASIF Category

ANCAMAN BAHAYA DEPLETED URANIUM

Posted in NUBIKA PASIF on Desember 28, 2009 by zeniad

     “Penyebab polusi terbesar di Amerika Serkat adalah “Departemen Pertahanan AS , sekarang ini sedang membersihkan sampai 29,500 tempat, baru atau lama yang terkontaminasi disetiap wilayah negara bagian. Di California sendiri terdapat 3,912 lokasi yang terkontaminasi, di atas lokasi 441 buah instalasi Departemen Pertahanan yang baru dan lama. Banyak fasilitas milik Departemen Pertahanan AS telah mencemari sumber air minum bawah tanah …. Biaya untuk membersihkan racun mesiu yang mencemari dan perlengkapan perang artileri yang belum meledak dan masih aktif serta bekas instalasi militer di seluruh negara dapat mencapai US.$. 200 milyar.” – The National Resources Defense Council, April 21, 2004

Explosive depleted uranium tank round. (Photo: Tuberose.com)

      “Departmen Pertahanan menolak untuk mematuhi perintah atau menandatangani kontrak untuk membersihkan 11 lokasi pembuangan sampah (nuklir?), termasuk sebuah di Hawaii, dan telah meminta Gedung Putih serta Departemen Kehakiman untuk campurtangan atas atas namanya.” – Associated Press, Juli 1, 2008

Sementara mencoba bertindak sebagai watchdog nuklir di planet ini, Amerika Serikat dan Inggris Raya telah menjadi dua penyebab kanker paling besar dunia, kanker yang disebabkan oleh debu radiasi dan pengotor proyektil depleted uranium. Dengan menggunakan tank dan pesawat, militer Amerika Serikat dan Inggris telah menembakkan ratusan ton mesiu radioaktif depleted uranium (DU) sewaktu Perang Gurun Pertama, Perang Balkan, dan perang yang baru-baru ini terjadi di Afghanistan serta Irak. Selama dua dekade berturut-turut pemimpin pemerintahan Amerika dan Inggris sedikit saja melakukan upaya menyapu bersih sampah nuklir sisa peperangan yang berbahaya ini. Dan ketika berulang-kali ditanyakan tentang sampah senjata DU itu, juru bicara Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown dan President Amerika, George W. Bush, demikian pula kedua kandidat Presiden Amerika, baik Senator Barack Obama (D-Illinois) maupun Senator John McCain (R-Arizona), tidak memberikan reaksi terhadap sejumlah besar e-mail dan panggilan telepon selama waktu satu bulan ini. Ironinya, sementara menembakkan sampah nuklir di seluruh wilayah Iraq, Afghanistan dan bekas negara Yugoslavia, baik Inggris maupun Amerika Serikat secara tetap mengkritik sambil menterapkan tekanan keuangan atau politik kepada Iran, Syria, Korea Utara dan Pakistan karena mengembangkan senjata nuklir. Dari ke-empat negara tersebut, hanya Pakistan yang disebut-sebut memiliki amunisi depleted uranium, namun angkatan bersenjatanya tidak pernah menggunakan senjata tersebut.

      Depleted uranium adalah sebuah produk sampingan dari natural uranium yang dikayakan untuk kualitas reaktor nuklir atau kualitas senjata uranium. Tambahan lagi senjata itu digunakan sebagai pelapis baja untuk melindungi tank. Kepadatan metalnya ideal untuk membuat amunisi yang siap menembus tank dan kendaraan lapis baja lainnya dengan membakar dan melubanginya. Tetapi selama proses pembuatannya, mesiu tersebut mengeluarkan debu radio aktif dengan jumlah yang besar yang dapat diterbangkan oleh angin sejauh 20 sampai 30 mil. Kadang-kadang projektilnya tidak meledak. Bahkan turun ikut terkubur dengan sendirinya. Sekarang senjata DU tersebut mengotori atau mengancam penyediaan air, tanah, tumbuh-tumbuhan, burung dan binatang lainnya di wilayah tempat peperangan terjadi.

Potentially Serious Health Impacts

Bahaya puing-puing DU termasuk diantaranya meningkatkan jumlah penyakit kanker pada anak-anak dan penyakit-penyakit lainnya di Eropa dan Timur Tengah. Partikel DU yang halus juga dapat merusak ginjal, kulit dan lensa mata. Dan ketika terhirup atau tertelan oleh manusia, binatang atau ikan, debu DU dapat merusak kesehatan secara serius dan permanen. Curahan DU mencemari wilayah daratan secara permanen dengan paruh-umur 4.5 milyar tahun.. Debu Uranium tetap hidup di dalam paru-paru, dalam darah dan organ tubuh lainnya selama bertahun-tahun. Menurut laporan setelah Perang Teluk, debu uranium telah menyebabkan  apa yang disebut dengan penyakit misterius terhadap lebih dari 350,000 orang anggota militer Amerika Serikat, banyak diantara mereka yang tidak berhasil ditangani secara medis.

Sedikitnya di empat negara bagian, yaitu New York, California, Louisiana dan Connecticut – telah berusaha meloloskan rancangan UU namun gagal memaksa Departemen Pertahanan untuk melakukan pemeriksaan dan merawat lebih baik bagi veteran perang yang terkena pajanan DU sewaktu masa peperangan.

“Sejumlah besar penetrator depleted uranium berkarat yang menempel di permukaan tanah akan merupakan ancaman jangka panjang jika larut kedalam sumber air,”  Sebuah studi ilmiah yang dilakukan oleh British Royal Society menyatakan. Setelah granat ditembakkan, tanah menjadi tercemar dengan partikel buangan depleted uranium dan oleh beberapa bagian dari mesiu itu sendiri. Yang tercemar DU harus dipindahkan dari daerah lokasi sekelilingnya yang diketahui terdapat pengaruh penetrator yang kuat ,” demikian kata the Royal Society. “Percontohan lingkungan jangka panjang, terutama sekali air dan susu, lingkungan membutuhkan dan harus disediakan metoda monitoring komponen yang sensitif serta hemat biaya, serta menyediakan informasi mengenai tingkat uranium yang ada untuk dijadikan perhatian oleh penduduk setempat.. Monitoring perlu ditingkatkan di beberapa tempat, dengan menyebutkan asesmen risiko tertentu, jika situasinya menjamin keabsahan untuk pertimbangan lebih lanjut.”

Walaupun Royal Society menegaskan ancaman yang merusak kesehatan kepada mereka yang menghirup jumlah yang banyak dari debu depleted uranium dibandingkan dengan mereka yang menghirup sedikit dan terbatas, namun sebuah studi terhadap anak-anak di Irak, yang terkena debu DU sewaktu berkecamuk peperangan, ternyata bertentangan dengan penilaian tersebut. Dr. Souad N. Al-Azzawi, seorang anggota dari Brussels Tribunal Advisory Committee, mengatakan bahwa anak-anak yang menghirup nafas atau menelan partikel yang terkena radiasi di daerah dimana Amerika Serikat menembakkan mesiu DU dengan intens “memberikan bukti kuat adanya hubungan antara terkenanya radiasi tingkat rendah dan akibat yang merusak kesehatan,” Pajanan DU menciptakan” tingkat insiden yang menimbulkan satu pergeseran leukemia terhadap anak-anak yang lebih muda baru-baru ini,”  demikian kata sang Doktor. Penyelidikan lain dilakukan oleh tiga orang profesor di

Universitas Massachusetts dan Universitas Tufts menyimpulkan: bahwa “Bukti jumlah kumpulan epidemiological manusia adalah konsisten dengan tingkat risiko cacat kelahiran dalam keturunan dari orang yang terkena DU.”

Empat tahun lalu, pemerintahan sementara Iraq meminta bantuan kepada PBB untuk meratakan lubang-lubang yang dalam di negaranya, yang dipenuhi dengan bongkahan projektil mesiu, peralatan penghancur DU, pecahan acak partikel-partikel dan angin yang membawa hujan debu DU. PBB menghimbau militer Inggris dan Amerika Serikat untuk membersihkan kerusakan yang diakibatkan DU yang mereka ciptakan, namun tanpa hasil yang efektif. Faktanya, ahli pembersihan lingkungan PBB telah meminta pejabat-pejabat Inggris dan Amerika Serikat untuk menunjukkan dimana lokasinya senjata DU ditembakkan di Irak, namun mereka hanya dilaporkan menerima koordinat penembakkan DU dari Inggris.

DU Cleanup Required But Ignored

Baik pejabat berwenang Inggris maupun Amerika Serikat keduanya tidak memenuhi tawaran untuk menambah dana sumbangan yang dianggarkan sebesar US$ 4.7 juta yang terutama disumbang oleh Jepang kepada PBB untuk mengevaluasi tempat-tempat peperangan yang tercemar yang oleh ahli kesehatan dikatakan mengancam jutaan rakyat Irak. Tetapi bertentangan dengan bukti ilmiah, dalam akhir bulan Oktober 2004, Lt. Col. Mark Melanson dari angkatan bersenjata mengatakan bahwa anggaran lima tahun Departemen Pertahanan sebesar US$ 6 juta untuk anggaran dipergunakan untuk melihat percobaan simulasi peledakan tank DU “risiko kimia yang begitu rendah ketika bernafas dalam debu uranium yang tidak akan menyebabkan risiko kesehatan dalam jangka panjang, ” bahkan terhadap kru tank.

Akan tetpi, peraturan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat 700-48 dan Technical Bulletin 9-1300-278 telah selama bertahun-tahun menuntut pembersihan residu dan pemusnahan depleted uranium yang ditembakkan. “Bahan dan buangan radioaktif tidak akan dibuang dan dikubur ditempat itu, perendaman dan pengabuan serta penghancuran di tempat, atau dengan bebas semuanya tanpa persetujuan dari komandan,” demikian bunyi peraturan itu. “Jika pembuangan ditempat disetujui, komandan yang bertanggungjawab harus membuat dokumen mengenai sifat-sifat umum bahan yang dibuang dan lokasi yang pasti tempat pembuangannya.”Peralatan radioaktif di bawah peraturan yang sama harus dibersihkan dan dibuang segera setelah dipakai. Peraturan penting militer lainnya adalah meminta semua sopir Tank untuk diperiksa secara medis jika mereka terkena debu atau pecahan radioaktif.  Pensyaratan yang sama dari Inggris melarang tanpa izin mengumpulkan sampah radioaktif.

Salah satu contoh yang paling penting mengenai masalah senjata depleted uranium dan bahayanya terhadap umum baru-baru ini telah membuka babak baru dalam sejarah panjang mesiu. Dihadapan Pentagon dan Angkatan Bersenjata penolakan yang berulangkali akan perlunya mengikuti peraturannya sendiri, repeated denials of the need to follow their own regulations, masih pemimpin yang sama terlibat dalam sebuah pembersihan besar dan final senjata DU yang mahal di Camp Doha, sebuah pangkalan militer yang luasnya 500 ha di Kuwait.

Meskipun potensi bahaya terhadap kesehatan kepada siapapun yang berjalan dekat penyimpanan, kebanyakan bahan berbahaya ini tetap berada di permukaan dan bawah tanah di dalam pangkalan militer yang masih aktif ini lebih dari satu setengah dekade. Sejak tahun 1991, tempat buangan bahan berbahaya ini telah dibersihkan dengan cara yang berbeda-beda yang tidak sempurna. Kecerobohan ini menyebabkan masalah kesehatan kepada semua yang tinggal di dekat atau yang ditempatkan di sana. Pangkalan militer yang terletak disemenanjung yang secara relatif berdekatan dengan Kota Kuwait, ibukota tempat perkantoran pemerintahan. Penduduknya kira-kira berjumlah 191,000 orang ketika kecelakaan senjata depleted uranium terjadi. Tepat disudutnya adalah Kuwait City International Airport.

Tujuh belas tahun lalu, selama terjadi Perang Teluk I, Doha merupakan tempat terbesar dari penyimpanan senjata dan bahan peledak depleted uranium dan tempat penyimpanan tank. Pada tanggal 11 July 1991, kira-kira pada jam 10:20 pagi kata seorang penyidik Pentagon, sebuah pemanas yang rusak dalam sebuah pembawa amunisi M992 dilengkapi dengan peluru artileri 155mm disambar api dan menyebabkan ledakan beruntun dan kebakaran. Jilatan apai dan ledakan mengirimkan bahan kimia dan debu radiasi dari persenjataan dan tank ke udara setinggi beberapa mil, juga asap hitam yang berbahaya naik tinggi ke langit. Tank-tank, peralatan lainnya, kendaraan dan gudang besar tempat penyimpanan amunisi hangus terbakar. Lima puluh orang serdadu Amerika dan enam orang serdadu Inggris terluka. Dua orang serdadu Amerika terlauka serius. Perlu berbulan-bulan dengan biaya jutaan dolar untuk membangun kembali sebuah pangkalan militer yang signifikan. “Kerusakannya luar biasa, “begitu kata seorang penyidik Pentagon. “Api dan ledakan merusakkan atau menghancurkan 102 kendaraan, termasuk empat buah tank M1A1 dan sejumlah kendaraan tempur lainnya. Lebih dari dua lusin gedung juga mengalami kerusakan. Diperkirakan kerugian berkisar hampir US $15 juta karena rusak atau hancurnya senjata DU sabot 660 M829 120mm..”

Pada awalnya Angkatan Bersenjata bekerja selama berbulan-bulan dalam sebuah opersai pembersihan utama. Kemudian pada akhir tahun 1991, yang kedua dan tahap akhir dari pembersihan peralatan berbahaya dilakukan oleh the Environmental Chemical Corporation. Dan laporan penyidik Pentagon mengatakan: “Personnel membereskan drum-drum DU penetrator mengenakan topi ahli bedah, kaca pengaman, masker pengaman setengah muka, coverall, apron karet sintetis, sarung tangan karet ahli bedah dengan sisipan katun, dan ’sepatu boot karet’ khusus. Jumlah keseluruhannya ada delapan buah drum diisi kira-kira 250 DU penetrator.”

Pemerintah Kuwait menyewa kontraktor pemerintah Amerika Serikat, the Halliburton Corporation, untuk memindahkan rongsokan kapal yang terbakar disekitar Kuwait City ke tempat pembuangan di sebelah barat gurun pasir. Tetapi, belum sampai tiga tahun lalu, ketika Amerika Serikat merencanakan untuk menghentikan penggunaan pangkalan militernya, Angkatan Bersenjata membuang tambahan pecahan selongsong. Dan baru saja pada bulan April tahun ini sisa sampah raksasa ini pada akhirnya dinetralkan di tempat. Pembersihan dilakukan oleh MKM Engineers, yang berkantor pusat di Stafford, Texas, dibiayai oleh pemerintahKuwait.

David Foster, seorang jurubicara urusan publik Angkatan Bersenjata mengatakan “an Army public affairs spokesman, said “bagaimanapun juga, Angkatan Bersenjata tidak mempunyai kewajiban hukum untuk membersihkan the (particulate) material” di Camp Doha. Angkatan Bersenjata awalnya membawa senjata dan peralatannya untuk melindungi Kuwait, jadi sekarang merupakan kewajiban Kuwait untuk membayar biaya pembersihan, mengangkut bahan-bahan berbahaya sampai selsesai, dikubur dengan aman, katanya. Sejumlah 6,700 ton pasir tercemar dengan partikel depleted uranium diangkut dari Kuwait dengan kapal dalam bulan April ke Pelabuhan Longview di Washington. Tong-tong berisi pasir kemudian dipindahkan ke kereta api untuk pengiriman akhir kepada American Ecology Corporation’s Idaho’s Grand View fasilitas sampah radiasi tingkat rendah, 70 mil di tenggara Boise di Gurun Owyhee.

“Berdasarkan keaadaan tingkat pencemaran yang sangat rendah,” juru bicara American Ecology, Chad Hyslop, mengatakan “tanahnya tidak diatur sebagai ‘material radioaktif’ oleh Departemen Transportasi Amerika Serikat. “Penetrator rusak depleted uranium dipisahkan oleh MKM dan dikirim secara terpisah ke Amerika Serikat untuk dibuang, menurut Foster, juru bicara Angkatan Bersenjata. Baik the Department of Environmental Protection maupun the Nuclear Regulatory Agency, menerima hasil uji coba dan penjelasan bahaya dari debu depleted uranium, mengizinkan kondisi seperti ini untuk dibuang,

EPA and NRC Leave Cleanup and Burial to the Army

Kedua pejabat keagenan tersebut menyandarkan atas kata-kata pejabat Angkatan Bersenjata bahwa pengapalan debu depleted uranium ini tidak mengancam umat manusia atau merusak lingkungan, baik selama transit atau sewaktu disimpan di tempat pembuangan akhir di Idaho. Mark MacIntyre, seorang juru bicara EPA mengatakan: “Angkatan Bersenjata bertanggungjawab dengan menggolongkan material tersebut dengan tujuan untuk menyesuaikan dengan alat transportasi dan syarat-syarat pembuangan … EPA tidak mempunyai standard tertentu berkaitan dengan depleted uranium. Untuk tujuan pembuangan, depleted uranium dipertimbangkan sebagai buangan radioaktif tingkat rendah dan tunduk kepada peraturan-peraturan dari U.S. Nuclear Regulatory Commission.” Neil Sheehan, seorang juru bicara untuk the NRC, menjelaskan: “Pasir – dengan sejumlah kecil depleted uranium sedang dikirim ke fasilitas U.S. Ecology Idaho untuk dibuang – berisi ‘bebas’ dari konsentrasi uranium, lebih kecil dari 0.5-persen beratnya. jika konsentrasinya lebih besar dari ini, kami mungkin khilaf.”

Pensiunan Major AB, Doug Rokke bergelar Ph.D. bidang pendidikan – fisika dan teknologi – dari University of Illinois, sudah bertahun-tahun menentang penggunaan DU melalui Internet dan dengan cara lainnya. Ia yakin bahwa operasi pembuangan sampah DU Doha baru-baru ini melanggar pedoman keselamatan. Dia bekerja pada tim operasi khusus, the 3rd U.S. Army captured equipment project team, dan dengan the 3rd U.S. Army Depleted Uranium Assessment team selama Perang Teluk I. Sebagai hasil kerjanya dalam pembersihan DU, Rokke mengatakan ia sakit karena radiasi yang merusak paru-parunya dan ginjalnya. Dia juga terkena radiasi katarak, fibromyalgia, bintik merah pada kulit, hilang pendengaran, diarrhea, penyakit reactive airway, luka pada otak, gigi pecah dan ompong, dan neurological abnormalities

Adalah menggelikan kata Rokke, baik NRC, EPA dan Angkatan Bersenjata yang menyangkal bahaya depleted uranium dari Doha. Mereka melakukan hal ini, katanya, bahkan pemerintah Amerika Serikat memberikan mandat pembersihan sangat besar kepada Concord, Massachusetts,, lokasi pabrik pembuatan mesiu depleted uranium Starmet’s Superfund, dan tentu saja menyakitkan untuk mengapalkan DU dari  Camp Doha, Kuwait, ke Amerika Serikat sementara membahayakan lingkungan dan semua orang dari manapun yang dekat dengan kiriman tersebut.

Disarikan Oleh berbagai Sumber

Iklan

Limbah Radioaktif

Posted in NUBIKA PASIF on Juli 28, 2009 by zeniad

limbah radioaktifLimbah radioaktif didefinisikan sebagai material radioaktif atau material terkontaminasi yang harus dibuang termasuk bahan bakar bekas. Klasifikasi limbah radioaktif termasuk Limbah Radioaktif Tingkat Tinggi (HWL) jika limbah radioaktif tersebut mempunyai radioaktivitas dan kalor yang dihasilkan yang melewati nilai batas yang telah ditetapkan.
Limbah lain yang tidak tergolong sebagai HLW dikategorikan sebagai Limbah Radioaktif Tingkat Rendah dan Menengah (LILW). Limbah radioaktif juga dapat dikategorikan sebagai limbah padat, cair dan gas.
Aspek fundamental dari manajemen limbah radioaktif adalah sebagai berikut;
a. Untuk melindungi generasi sekarang dan yang akan datang dari bahaya radiasi limbah nuklir.
b. Untuk meminimalisasi jumlah penyimpanan dengan mereduksi volume limbah radioaktif yang disimpan.
c. Untuk menghasilkan hubungan yang baik antara produser limbah radioaktif dengan publik, dengan melakukan manajemen pengolahan limbah yang aman.

Sumber Limbah

Pemanfaatan teknolgi nuklir ini dapat menimbulkan limbah yang banyak dikenal sebagai limbah radioaktif. Limbah radioaktif adalah zat radioaktif yang tidak terpakai dan bahan bekas serta peralatan yang telah terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena operasi nuklir dan tidak dapat digunakan lagi. Hal ini merupakan kendala untuk peengembangan lebih lanjut, sehingga diperlukan pemecahan dengan menggunakan suatu metode analisis yang tepat yaitu ‘Cost Benefit Analysis’.
Sumber radioaktif itu sendiri berasal dari:

1. Alam.
Lingkungan kita sendiri sebenarnya telah mendapat radioaktif alam seperti dari tanah, sinar cosmic (75 – 100 mrem/th) sebagai akibat dari peluruhan Uranium dan Thorium.
2. Industri-industri yang memanfaatkan nuklir.
3. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Proses terjadinya limbah radioaktif yaitu:

1. Limbah radioaktif alam.
Sumber radioakif ini memang sudah ada di alam seperti ; di tambang uranium, di pasir thorium, bahan-bahan yang mengandung K-40.

2. Hasil fisi
Sumber radioaktif yang bersumber dati suatu reaksi fisi dan kemudian diolah ulang biasanya memiliki aktivitas yang tinggi.

3. Hasil aktivasi
–  Irradiasi
–  Produksi radioisotop
–  Material (bahan struktur) yang terkena radiasi sehingga menjadi materi aktif

4. Hasil kontaminasi
Bahan atau sumber radioaktif ini biasanya berasal dari laboratorium riset yang menggunakan radioaktif.
Limbah radioaktif yang dihasilkan dari tambang dan pabrik konsentrat biasanya tidak terlalu membahayakan karena dapat larut dalam air. Unsur-unsur yang merupakan bahaya utama dalam tambang Uranium adalah Radon dan turunannya. Satu hal yang juga perlu diketahui bahwa suatu reaktor nuklir menghasilkan limbah radioaktif yang memiliki aktivitas rendah. Laboratorium produksi radioaktif menghasilkan limbah aktivitas tinggi dengan jumlah besar bila memproses isotop hasil fisi.

Klasifikasi Limbah Radioaktif.

Limbah radioaktif yang dihasilkan dari tambang dan pabrik konsentrat biasanya tidak terlalu membahayakan karena dapat larut dalam air. Unsur-unsur yang merupakan bahaya utama dalam tambang Uranium adalah Radon dan turunannya. Satu hal yang juga perlu diketahui bahwa suatu reaktor nuklir menghasilkan limbah radioaktif yang memiliki aktivitas rendah. Laboratorium produksi radioaktif menghasilkan limbah aktivitas tinggi dengan jumlah besar bila memproses isotop hasil fisi.
Klasifikasi limbah radioaktif berdasarkan bentuk fisisnya:

1. Gas.
Udara dari tambang Uranium, udara dari pembakaran limbah radioaktif padat, gas dari penguapan cairan radioaktif, udara dari ventilasi pabrik pengolahan Uranium, cerobong reaktor.
Khusus untuk limbah radioaktif bentuk gas, klasifikasinya berdasarkan jumlah aktivitas, bukan berdasarkan pada konsentrasinya.

2. Padat.
Jarum suntik bekas, alat gelas untuk zat radioaktif, binatang percobaan, resin alat bekas pabrik pengolahan Uranium. Penanganan limbah radioaktif padat lebih rumit dibanding penanganan limbah radioaktif cair,kesulitan tersebut terletak pada ; cara penanganannya dan pengangkutannya.

3. Cair.
Air cucian benda terkontaminasi, cairan zat percobaan, cairan dari laboratorium dan pabrik pengolahan Uranium.

Sumber : Infonuklir.com

Kestabilan Inti Atom

Posted in NUBIKA PASIF on Juli 27, 2009 by zeniad

inti atomKomposisi jumlah proton dan neutron di dalam inti atom sangat mempengaruhi kestabilan inti atom tersebut. Inti atom dikatakan stabil bila komposisi jumlah proton dan neutronnya sudah ”seimbang” serta tingkat energinya sudah berada pada keadaan dasar. Jumlah proton dan neutron maupun tingkat energi dari inti-inti yang stabil tidak akan mengalami perubahan selama tidak ada gangguan dari luar. Sebaliknya, inti atom dikatakan tidak stabil bila komposisi jumlah proton dan neutronnya “tidak seimbang” atau tingkat energinya tidak berada pada keadaan dasar. Perlu dicatat bahwa komposisi proton dan neutron yang “seimbang” atau “tidak seimbang” di atas tidak berarti mempunyai jumlah yang sama ataupun tidak sama. Setiap inti atom mempunyai “kesetimbangan” yang berbeda.

img4796c8ae98166Secara umum, kestabilan inti-inti ringan terjadi bila jumlah protonnya sama dengan jumlah neutronnya. Sedangkan kestabilan inti-inti berat terjadi bila jumlah neutron maksimum 1,5 kali jumlah protonnya.

Tabel periodik merupakan suatu tabel yang mencantumkan semua kemungkinan posisi nuklida baik yang stabil maupun yang tidak stabil. Nuklida-nuklida yang tidak stabil disebut sebagai radionuklida.

Tabel nuklida juga dapat menunjukkan posisi dari nuklida-nuklida yang merupakan isotop yaitu petak-petak yang horisontal, misalnya Na-20, Na-21, Na-22 dan seterusnya. Isotop yang tidak stabil disebut sebagai radioisotop. Pada dasarnya, radioisotop dan radionuklida adalah istilah yang sama yaitu menunjukkan inti-inti atom yang tidak stabil. Bahan yang terdiri atas radionuklida dengan jumlah cukup banyak disebut bahan radioaktif.

Inti-inti atom yang tidak stabil, baik karena komposisi jumlah proton dan neutronnya yang tidak seimbang ataupun karena tingkat energinya yang tidak berada pada keadaan dasarnya, cenderung untuk berubah menjadi stabil. Bila ketidakstabilan inti disebabkan karena komposisi jumlah proton dan neutronnya yang tidak seimbang, maka inti tersebut akan berubah dengan memancarkan radiasi alpha atau radiasi beta (β). Kalau ketidakstabilannya disebabkan karena tingkat energinya yang berada pada keadaan tereksitasi maka akan berubah dengan memancarkan radiasi gamma. Proses perubahan atau transformasi inti atom yang tidak stabil menjadi atom yang lebih stabil tersebut dinamakan peluruhan radioaktif.

Proses peluruhan radioaktif seringkali harus melalui beberapa intermediate (antara) sebelum menjadi inti atom yang stabil. Jadi seringkali suatu radionuklida tidak berubah langsung menjadi nuklida yang stabil, melainkan mengalami beberapa perubahan lebih dulu menjadi radionuklida yang lain sebelum akhirnya menjadi nuklida yang stabil. Misalnya dari nuklida X yang tidak stabil berubah menjadi nuklida Y yang juga masih tidak stabil kemudian berubah lagi menjadi nuklida Z yang stabil. Peluruhan seperti ini dinamakan peluruhan berantai.

Sumber : Infonuklir.com

“Bencana Chernobyl” : Sebagai Acuan dalam Pembangunan PLTN di Tanah Air

Posted in NUBIKA PASIF on Maret 3, 2009 by zeniad

chernobyl disaster

Chernobyl adalah sebuah kota tak berpenghuni di Ukraina utara, tepatnya di Oblast Kiev dekat dengan perbatasan Belarusia.

Kota ini ditinggalkan penghuninya tahun 1986 setelah bencana ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir yang terkenal sebagai Bencana Chernobyl yang terletak 14,5 km utara-barat laut. Pembangkit tersebut dinamakan sesuai dengan nama kotanya, dan terletak di Chernobyl Raion (distrik), tetapi bukan merupakan tempat tinggal bagi pekerjanya. Pada saat pembangunan pembangkit tersebut, sebuah kota kembar, Prypiat dibangun didekatnya untuk para pekerjanya.

Bencana Chernobyl“, kecelakaan reaktor nuklir Chernobyl, atau hanya “Chernobyl“, adalah kecelakaan reaktor nuklir terburuk dalam sejarah. Pada tanggal 26 April 1986 pukul 01:23:40 pagi (UTC+3), reaktor nomor empat di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl yang terletak di Uni Soviet di dekat Pripyat di Ukraina meledak. Akibatnya, kebakaran dan radioaktif menyebar. Ribuan penduduk terpaksa diungsikan dari kota ini.

Penyebab Kecelakaan

Reaktor Chernobyl jenis RBMK didirikan di atas tanah rawa di sebelah utara Ukraina, sekitar 80 mil sebelah utara Kiev. Reaktor unit 1 mulai beroperasi pada 1977, unit 2 pada 1978, unit 3 pada 1981, dan unit 4 pada 1983. Sebuah kota kecil, Pripyat, dibangun dekat PLTN Chernobyl untuk tempat tinggal pekerja pembangkit itu dan keluarganya.

Tipe PLTN Chernobyl dirancang untuk menghasilkan “plutonium” guna pembuatan senjata nuklir serta listrik. Tipe PLTN berfungsi ganda seperti ini tidak ada di negara-negara Barat, seperti, AS dan Prancis, yang merupakan negara pioner PLTN di samping Uni Soviet (pada waktu itu) sebagai pioner pertama.

Secara garis besar, bencana Chernobyl dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada 25 April 1986 reaktor unit 4 direncanakan dipadamkan untuk perawatan rutin. Selama pemadaman berlangsung, teknisi akan melakukan tes untuk menentukan apakah pada kasus reaktor kehilangan daya turbin dapat menghasilkan energi yang cukup untuk membuat sistem pendingin tetap bekerja sampai generator kembali beroperasi.

chernobyl taken from pripyatProses pemadaman dan tes dimulai pukul 01.00 pada 25 April. Untuk mendapatkan hasil akurat, operator memilih mematikan beberapa sistem keselamatan, yang kemudian pilihan ini yang membawa malapetaka. Pada pertengahan tes, pemadaman harus ditunda selama sembilan jam akibat peningkatan permintaan daya di Kiev. Proses pemadaman dan tes dilanjutkan kembali pada pukul 23.10 25 April. Pada pukul 01.00, 26 April, daya reaktor menurun tajam, menyebabkan reaktor berada pada situasi yang membahayakan. Operator berusaha mengompensasi rendahnya daya, tetapi reaktor menjadi tak terkendali. Jika sistem keselamatan tetap aktif, operator dapat menangani masalah, namun mereka tidak dapat melakukannya dan akhirnya reaktor meledak pada pukul 01.30.

Kecelakaan PLTN Chernobyl masuk level ke-7 (level paling atas) yang disebut major accident, sesuai dengan kriteria yang ditentukan INES (The International Nuclear Event Scale). Di samping kesalahan operator yang mengoperasikannya di luar SOP (standard operation procedure), PLTN Chernobyl juga tidak memenuhi standar desain sebagaimana yang ditentukan oleh IAEA (International Atomic Energy Agency). PLTN Chernobyl tidak mempunyai kungkungan reaktor sebagai salah satu persyaratan untuk menjamin keselamatan jika terjadi kebocoran radiasi dari reaktor. Apabila PLTN Chernobyl memiliki kungkungan maka walaupun terjadi ledakan kemungkinan radiasi tidak akan keluar ke mana-mana, tetapi terlindung oleh kungkungan. Atau bila terjadi kebocoran tidak separah dibandingkan dengan tidak memiliki kungkungan.

ukraine abandoned citySecara perinci, kecelakaan itu disebabkan, pertama, desain reaktor, yakni tidak stabil pada daya rendah – daya reaktor bisa naik cepat tanpa dapat dikendalikan. Tidak mempunyai kungkungan reaktor (containment). Akibatnya, setiap kebocoran radiasi dari reaktor langsung ke udara. Kedua, pelanggaran prosedur. Ketika pekerjaan tes dilakukan hanya delapan batang kendali reaktor yang dipakai, yang semestinya minimal 30, agar reaktor tetap terkontrol. Sistem pendingin darurat reaktor dimatikan. Tes dilakukan tanpa memberitahukan kepada petugas yang bertanggung jawab terhadap operasi reaktor.

Ketiga, budaya keselamatan. Pengusaha instalasi tidak memiliki budaya keselamatan, tidak mampu memperbaiki kelemahan desain yang sudah diketahui sebelum kecelakaan terjadi

Penilaian atas berbagai kelemahan PLTN Chernobyl menghasilkan evaluasi internasional bahwa jenis kecelakaan seperti ini tidak akan mungkin terjadi pada jenis reaktor komersial lainnya. Evaluasi ini ditetapkan demikian karena mungkin berdasarkan analisis jenis reaktor lain yang memenuhi persyaratan keselamatan yang tinggi, termasuk budaya keselamatan yang dimiliki para operator sangat tinggi.

Dampak Kecelakaan

Pada 2003, IAEA membentuk “Forum Chernobyl” bekerja sama dengan organisasi PBB lainnya, seperti WHO, UNDP, ENEP, UN-OCHA, UN-SCEAR, Bank Dunia dan ketiga pemerintahan Belarusia, Ukraina, dan Rusia. Forum ini bekerja untuk menjawab pertanyaan, “sejauh mana dampak kecelakaan ini terhadap kesehatan, lingkungan hidup dan sosial ekonomi kawasan beserta penduduknya.” Laporan ini diberi nama “Cherno- byl Legacy”.

Diperkirakan semula dampak fisik akan begitu dahsyat. Artinya, akan menimbulkan korban jiwa yang luar biasa banyaknya. Namun, ternyata data sampai dengan 2006, jumlah korban yang meninggal 56 orang, di mana 28 orang (para likuidator terdiri dari staf PLTN, tenaga konstruksi, dan pemadam kebakaran) meninggal pada 3 bulan pertama setelah kecelakaan, 19 orang meninggal 8 tahun kemudian, dan 9 anak lainnya meninggal karena kanker kelenjar gondok.

Sebanyak 350.000 likuidator yang terlibat dalam proses pembersihan daerah PLTN yang kena bencana, serta 5 juta orang yang saat itu tinggal di Belarusia, Ukraina, dan Rusia, yang terkena kontaminasi zat radioaktif dan 100.000 di antaranya tinggal di daerah yang dikategorikan sebagai daerah strict control, ternyata mendapat radiasi seluruh badan sebanding dengan tingkat radiasi alam, serta tidak ditemukan dampak terhadap kesuburan atau bentuk-bentuk anomaly.

Di sisi lain, hasil studi dan penelitian terhadap likuidator menunjukkan bahwa “tidak ada korelasi langsung antara kenaikan jumlah penderita kanker dan jumlah kematian per satuan waktu dengan paparan radiasi Chernobyl

Kemudian pada 1992-2002 tercatat 4.000 kasus kanker kelenjar gondok yang terobservasi di Belarusia, Ukraina, dan Rusia pada anak-anak dan remaja 0-18 tahun ketika terjadi kecelakaan, termasuk 3.000 orang yang berusia 0-14 tahun. Selama perawatan mereka yang kena kanker, di Belarusia meninggal delapan anak dan di Rusia seorang anak. Yang lainnya selamat.

Berdasarkan laporan “Chernobyl Lecacy”, sebagian besar daerah pemukiman yang semula mendapat kontaminasi zat radioaktif karena kecelakaan PLTN Chernobyl telah kembali ke tingkat radiasi latar, seperti sebelum terjadi kecelakaan. Dampak psikologis adalah yang paling dahsyat, terutama trauma bagi mereka yang mengalaminya seperti stres, depresi, dan gejala lainnya yang secara medis sulit dijelaskan.

Berdasarkan laporan “Chernobyl Lecacy”, sebagian besar daerah pemukiman yang semula mendapat kontaminasi zat radioaktif karena kecelakaan PLTN Chernobyl telah kembali ke tingkat radiasi latar, seperti sebelum terjadi kecelakaan. Dampak psikologis adalah yang paling dahsyat, terutama trauma bagi mereka yang mengalaminya seperti stres, depresi, dan gejala lainnya yang secara medis sulit dijelaskan.

Akibat kecelakaan itu, IAEA dan semua negara yang memiliki PLTN membangun konsensus internasional untuk selalu menggalang dan memutakhirkan standar keselamatan. Di sisi lain, pihak yang anti-PLTN telah menggunakan isu kecelakaan di Chernobyl sebagai bahan kampanye untuk menolak kehadiran PLTN, termasuk di Indonesia, dengan berbagai informasi yang keliru karena ketidaktahuan akan kebenaran informasi sebab terjadinya kecelakaan Chernobyl.

Belajar dari kecelakaan Chernobyl, IAEA telah menetapkan standar tambahan untuk memperkuat syarat keselamatan yang tinggi bagi pembangunan dan pengoperasian PLTN, antara lain, perbaikan desain sampai pada generasi ke-4, aturan main dalam bentuk basic safety, dan berbagai konvensi keselamatan.

Disarikan dari Berbagai Sumber

Bagaimana Phospor Pertama Kali Ditemukan?

Posted in NUBIKA PASIF on Februari 26, 2009 by zeniad

Hening Brand memang tidak mempublikasikan bagaimana pertama kali phosphor si ‘cahaya pembawa pesan’ ditemukan, istrinyalah yang memberikan kumpulan catatan penelitian Brand kepada Gottfried Leibnez (ahli kalkulus) setelah Brand wafat.
Leibnez menyusun ulang dan menguji kembali apa yang dilakukan Brand pada abad 17.
Metode yang dikemukakan oleh Leibnez bahwa:
” Urin dipanaskan hingga mengental,
” Panaskan kembali hingga menghasilkan minyak merah yang kemudian di destilasi lalu gambar.
” Tunggu hingga dingin, dimana itu terdiri dari asap hitam pada bagian atasnya dan garam pada bagian bawahnya.
” Garam buangan itu dicampurkan lagi dengan minyak merah ke dalam material hitam.
” Panaskan campuran itu selama 16 jam
” Pertama-tama muncul uap putih, lalu minyak dan kemudian phosfor.
” Phosfor disimpan di dalam air dingin

Yang ditemukan Brand, urin terdiri dari PO43 dalam Natrium phospat dan beberapa senyawa organik. Untuk memisahkannya ditambahkan oksigen dan dihasilkan CO berupa gas dan phosfor berupa padatan dibawahnya. Phosfor itu adalah phosfor putih. Brand menggunakan 5500L dan menghasilkan 120 gram phosfor.artinya 1 L urin orang dewasa mengandung 1,4 gram phosfor.

Luka Bakar Dalam Peperangan

            Ledakan keras dalam sebuah peperangan belum tentu menyebabkan luka bakar, kecuali bila ledakan terjadi dalam jarak tertentu. Sebuah peledak dengan berat 13,5 kg dapat menghasilkan ledakan api sampai lebih dari 18 meter, dan dengan cepat hancur di udara, tapi panas yang dihasilkan mengenai korban yang berada dekat dengan benda yang diledakkan. Udara sekitar juga meningkat, sehingga dapat menimbulkan ”partial thickness flash burns” .

            Dalam peperangan, luka akibat senjata konvensional yang ditembakkan dari udara menunjukkan kerusakan yang sebanding dengan dua serangan nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Ratusan ton bahan peledak yang yang mudah terbakar dan berdaya ledak tinggi telah menyebabkan kebakaran besar di Hamburg pada tahun 1943, yang menelan korban 65.000 jiwa. Peristiwa kedua terjadi di Dresden bulan Februari tahun 1945 yang membakar pusat kota sampai seluas 21km2 , dan menewaskan 135.000 jiwa, dimana sekitar 70% penyebab kematian diduga akibat asfiksia atau keracunan karbon moniksida. Bom atom di Hiroshima menghancurkan seluruh kota dan menewaskan 80.000 jiwa. Korban tewas akibat suhu yang sangat panas di pusat ledakan dengan kebakaran hebat di daerah sekitarnya, tertimpa reruntuhan gedung serta terpapar radiasi sinar γ. Penemuan senjata nuklir yang senakin berkembang akhir-akhir ini dapat menciptakan tragedi yang lebih parah dari kejadian terdahulu.

            Dalam perang modern, para awak tank merupakan kelompok yang beresiko menjadi korban luka bakar. Misil anti tank  yang menembus lapisan baja tank menghasilkan api dan suhu yang sangat panas dalam ruang tertutup, sama seperti ketika tank melepas misil nya yang terbuat dari metal. Ini bisa menyebabkan luka di jaringan lunak, luka bakar yang luas, dan kerusakan paru-paru. Langkah untuk menekan jumlah korban luka bakar

diambil   tentara Israel di perang Lebanon tahun 1982, diamana 9% awak tank menggunakan pakaian tahan api, dan hanya 12% yang terkena luka bakar di bagian perutnya. 9% dari prajurit yang terkena luka bakar mengenakan sarung tangan pencegah luka bakar, dan 75% dari mereka tidak mengenakan sarung tangan. Tetapi, 51% luka bakar yang diderita para tentara di Lebanon, merupakan luka bakar minor, dibandingkan dengan 21% korban di bulan 1973, dimana 29% dari korban luka  bakar tekena luaka bakar sampai setengah badan, dibandingkan denga tahun 1982 sebanyak 18%.

            Konflik di Falklands tahun 1982 menunjukkan bahwa personil yang bekerja di laut juga beresiko terhadap terjadinya kebakaran. 140 pasukan Inggris terkena luka bakar walaupun hanya luka kecil, dan banyak dari mereka menggunakan pakaian pelindung. Kejadian yang lebih buruk menimpa penerbangan RFA Sir Galahad,dimana 33 orang tewas  dimana 18 orang dari mereka  terjebak api dan asap setelah diserang “exocet missile” .  82 orang lainnya yang selamat mendapat perawatan di rumah sakit di atas kapal Uganda. Kejadian ini hanya sebagian kecil dari kecelakaan lainnya. Steroid berupa 2 gram methylprednisolon digunakan sebagai terapi awal, dilanjutkan dengan dosis yang sama, dan tidak bereaksi terhadap udem pulmo.

            Napalm dapat digunakan sebagai senjata  yang efektif. Bensin, yang bersifat volatil, dapat membakar cukup besar tapi percikannya tidak terlalu berbahaya.. Kedua bahan tersebut dapat dimodifikasi menjadi sebuah senjata dengan dicampur berbagai bahan tambahan yang dapat merubah sifat kimia mereka, menjadi kohesif dan adhesif,  melekat di permukaan sebagai partikel yang mudah terbakar. Karet pernah digunakan pada tahun 1935, namun pada tahun 1942, sabun aluminium yang terbuat dari minyak kelapa, asam naphtenic dan asam oleat menghasilkan partikel yang lebih banyak dan efektif. Napalm (derivat alumunium naphthenate dan palmitat)  saat ini merupakan nama generik yng diunakan untuk semua jenis hidrokarbon yang tebal. Ini termasuk polimer sintetik seperti polyurethane dan poliseter yang mungkin dapt dimodifikasi dengan dicampur alumunium bubuk atau metal carbon. Phosfor putih atau alumunium  biasa ditambahkan kepada bom berbahan dasar minyak tanah ini. Bahan-bahan ini jika dibakar akar menghasilkan suhu yang sangat tinggi, dan pada suhu diatas 1000ºC (1832 F) akan dengan mudah terbakar dengan adanya sifat adesif.  Efeknya terhadap tubuh manusia membahayakan, dapat menyebabkan luka bakar yang luas, lebih dari 25% permukaan tubuh.            Fosfor dapat menyebabkan trauma yang bersifat toksik, dan bahan-bahan adesif ini sulit dibersihkan.

            Fosfor yang digunakan dalam peperangan atau industri dapat menyebabkan kematian, karena apabila terbakar, walaupun hanya menyebabkan luka bakar seluas 12-15%. Membakar fosfor menyebabkan terjadinya lesi yang bisa meluas sampai seluruh fosfor diserap tubuh, atau area disekitar lesi kehabisan oksigen, misalnya dengan berendam di air dingin. Pasien akan merasa sangat sakit. Luka akan membentuk jaringan nekrotik berwarna kekuningan, berbau seperti bawang putih dan bersinar dalam kondisi gelap. Selain dari luka bakar yang terlihat, fosfor juga mengakibatkan kerusakan ginjal akibat sifat toksiknya. Glomerulonekrotik dan tubulonenkrotik menyababkan oliguria dan mempercepat kematian akibat gagal ginjal. Kerusakan hati juga dapat terjadi. Diduga penyebab dari kerusakan-kerusakan tersebut adalah masuknya  inorganik fosfor  kedalam peredaran darah.  Sebagai terapi yang paling optimal, saat ini digunakan “cooper sulphate” 0,5%-2%, menghasilkan lapisan “cupric phospide” diseluruh permukaan. Reaksi ini diharapkan efektif namun juga memliki efek toksik, dengan manifestasi primer perdarahan masif, dan gagal ginjal akut.

Bebeberapa tahun terakhir, kasus-kasus luka bakar akibat senjata kimia ditangani di “European Burn Centres”. “Mustard gas” dapat menghasilkan uap berbahaya yang jika kontak dengan zar cair, bisa menyebabkan terbentuknya bula di kulit, kerusakan mata, dan jika terhisap bisa menyebabkan gangguan saluran nafas.  Jika di absorpsi bisa menyebabkan depresi sumsum tulang sekitar 2 minggu setelah terpajan, dan bisa menyebabkan kematian. Pengobatan yang diberikan hanya bersifat simptomatik. Pada perang dunia I, hanya 2% dari seluruh korban yang meninggal akibat kasus ini.  

 

Posted by Kolonel Czi Soekartono (Kalabzi Ditziad)

Daftar Negara-Negara dengan Senjata Nuklir di Dunia

Posted in NUBIKA PASIF on Februari 18, 2009 by zeniad

 

Berikut ini adalah daftar negara-negara yang telah mengakui kepemilikan atas senjata nuklir, perkiraan jumlah hulu ledak nuklir, dan tahun dimana mereka melakukan uji coba pertama. Daftar tersebut dalam politik global dikenal sebagai “Klub Nuklir”. Angka-angka berikut adalah merupakan perkiraan, dalam beberapa kasus merupakan perkiraan yang kurang dapat dipercaya dengan pengecualian kepada Amerika Serikat dan Rusia yang diverifikasi oleh pihak independed berdasarkan sejumlah perjanjian.

Angka-angka ini juga mewakili jumlah hulu ledak yang dimiliki dan bukannya jumlah yang aktif. Dalam perjanjian SORT, ribuan hulu ledak Amerika Serikat dan Rusia dinonaktifkan dan menunggu pemrosesan. Bahan radioaktif yang ada di dalam hulu ledak nuklir dapat didaur-ulang untuk digunakan dalam reaktor nuklir di pembangkit listrik tenaga nuklir, kapal selam dan kapal perang.

Pada 1985 jumlah hulu ledak nuklir aktif di dunia berjumlah 65.000, kemudian turun menjadi 20.000 pada 2002. Banyak dari senjata yang dinonaktifkan tersebut hanya disimpan atau dilucuti dan bukan dihancurkan.

Negara-negara yang mengakui memiliki senjata nuklir

1. Amerika Serikat

  • Hulu ledak aktif/total: 5.735/9.960
  •  
  • Tahun pertama uji coba: 1945 (”Trinity”).

2. Rusia (bekas Uni Soviet)

  • Hulu ledak aktif/total: 5.830/16.000
  •  
  • Tahun pertama uji coba: 1949 (”RDS-1″).

3. Britania Raya

  • Hulu ledak aktif/total: <200
  •  
  • Tahun pertama uji coba: 1952 (”Hurricane”).

4. Perancis

  • Hulu ledak aktif/total: 350
  •  
  • Tahun pertama uji coba: 1960 (”Gerboise Bleue”).

5. Tiongkok

  • Hulu ledak aktif/total: 130
  •  
  • Tahun pertama uji coba: 1964 (”596″).

6. India

  • Hulu ledak aktif/total: 40-50
  •  
  • Tahun pertama uji coba: 1974 (”Smiling Buddha”).

7. Pakistan

  • Hulu ledak aktif/total: 30-52
  •  
  • Tahun pertama uji coba: 1998 (”Chagai-I”).

8. Korea Utara

  • Hulu ledak aktif/total: 1-10
  •  
  • Tahun pertama uji coba: 2006.

Negara-negara yang dipercayai memiliki senjata nuklir

  • Israel.
  • Hulu ledak aktif/total: 75-200,
  •  
  • Tahun pertama uji coba: tidak ada atau 1979.

Semua angka-angka di atas adalah perkiraan yang berasal dari Natural Resources Defense Council yang dipublikasikan di Bulletin of the Atomic Scientists, kecuali referensi lain diberikan. Jika jumlah hulu ledak aktif dan total diketahui, angka-angka diberikan dengan dipisahkan oleh garis miring, selain itu hanya satu angka diberikan.

Ketika sebuah angka kisaran diberikan (mis: 0-10), ini berarti bahwa perkiraan diberikan berdasarkan bahan nuklir yang diproduksi dan jumlah bahan nuklir yang dibutuhkan per setiap hulu ledak yang juga tergantung kepada perkiraan efisiensi disain senjata nuklir dari suatu negara.

Negara yang telah melakukan uji coba nuklir

1. Amerika Serikat

Mengembangkan senjata nuklir pertama dalam masa Perang Dunia II dibayangi ketakutan didahului oleh Nazi Jerman. Uji coba senjata nuklirnya pertama kali dilakukan pada 1945 (”Trinity”), dan menjadi negara satu-satunya yang pernah menggunakan senjata nuklir terhadap negara lain, yaitu ketika bom nuklir dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki (baca juga: Proyek Manhattan).

AS juga merupakan negara yang pertama kali mengembangkan bom hidrogen, uji cobanya (”Ivy Mike”) pada 1952 dan versi yang dapat digunakan dalam peperangan pada 1954 (”Castle Bravo”).

2. Rusia

Melakukan uji coba senjata nuklirnya yang pertama (”Joe-1″) pada 1949, dalam sebuah proyek yang sebagian dikembangkan dengan espionase dalam dan setelah Perang Dunia II (baca juga: Proyek senjata nuklir Soviet). Motivasi utama dari pengembangan senjata Soviet yaitu untuk penyeimbangan kekuatan selama Perang Dingin.

Soviet menguji bom hidrogen primitif pada 1953 (”Joe-4″) dan sebuah bom hidrogen berdaya megaton pada 1955 (”RDS-37″). Uni Soviet juga melakukan uji coba bom terkuat yang pernah diledakkan oleh manusia , (”Tsar Bomba”), yang memiliki daya ledak 100 megaton, tetapi dikurangi dengan sengaja menjadi 50 megaton. Pada 1991, semua persenjataannya menjadi milik Rusia.

3. Britania Raya

Melakukan uji coba senjata nuklir pertamanya (”Hurricane”) pada 1952, dengan data yang sebagian besar didapat dari hasil kerja sama dengan Amerika Serikat dalam Proyek Manhattan.

Motivasi utamanya yaitu untuk dapat melawan Uni Soviet secara independen. Britania Raya melakukan uji coba bom hidrogen pada 1957. Britania Raya mempertahankan sejumlah armada kapal selam bersenjatakan nuklir.

4. Perancis

Menguji coba senjata nuklirnya pertama kali pada 1960, serta bom hidrogen pada 1968.

5. Republik Rakyat Tiongkok

Menguji coba senjata nuklirnya pertama kali pada 1964, yang mengagetkan banyak badan intelejensi Barat. Tiongkok memperoleh pengetahuan nuklirnya dari Soviet, tetapi kemudian berhenti setelah pemisahan Sino-Soviet. Tiongkok menguji coba bom hidrogen pertama kali pada 1967 di Lop Nur. Tiongkok dipercaya untuk memiliki sekitar 130 hulu ledak nuklir.

6. India

Tidak pernah menjadi anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. India menguji coba sebuah “alat nuklir damai”, sebagaimana digambarkan oleh pemerintah India pada 1974 (”Smiling Buddha”), uji coba pertama yang dikembangkan setelah pendirian NPT, menjadi pertanyaan baru tentang bagaimana sebuah teknologi nuklir sipil dapat diselewengkan untuk kepentingan persenjataan.

Motivasi utamanya diperkirakan adalah untuk melawan Tiongkok. India kemudian menguji coba hulu ledak nuklirnya pada 1998 (”Operasi Shakti”), termasuk sebuah alat termonuklir (walaupun kesuksesan termonuklir tersebut masih diragukan). Pada Juli 2005, India secara resmi diakui oleh Amerika Serikat sebagai “sebuah negara dengan teknologi nuklir maju yang bertanggungjawab” dan setuju untuk melakukan kerjasama nuklir di antara kedua negara.

7. Pakistan

Bukan merupakan negara anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Pakistan selama beberapa dekade secara diam-diam mengembangkan senjata nuklirnya dimulai pada akhir 1970-an. Pakistan pertama kali berkembang menjadi negara nuklir setelah pembangunan reaktor nuklir pertamanya di dekat Karachi dengan peralatan dan bahan yang disediakan oleh negara-negara barat pada awal 1970-an.

Setelah uji coba senjata nuklir India, Pakistan secara bertahap memulai program pengembangan senjata nuklirnya dan secara rahasia membangun fasilitas nuklirnya kebanyakan berada di bawah tanah dekat ibu kota Islamabad. Beberapa sumber mengatakan Pakistan telah memiliki kemampuan senjata nuklir pada akhir 1980-an. Hal tersebut masih bersifat spekulatif sampai pada 1998 ketika Pakistan melakukan uji coba pertamanya di Chagai Hills, beberapa hari setelah India melakukan uji cobanya.

8. Korea Utara

Dahulunya merupakan anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir tetapi kemudian menarik diri pada 10 Januari 2003. Pada Februari 2005 Korea Utara mengklaim telah memiliki sejumlah senjata nuklir aktif, walaupun diragukan sejumlah ahli karena Korea Utara kurang dalam melakukan uji coba.

Pada Oktober 2006, Korea Utara mengatakan seiring dengan tekanan oleh Amerika Serikat, akan mengadakan sejumlah uji coba nuklir sebagai konfirmasi atas status nuklirnya. Korea Utara melaporkan sebuah uji coba nuklir yang sukses pada 9 Oktober 2006.

Kebanyakan pejabat intelejensi AS mempercayai bahwa sebuah uji coba nuklir telah dilangsungkan seiring dengan dideteksinya isotop radioaktif oleh angkatan udara AS, akan tetapi kebanyakan pejabat setuju bahwa uji coba tersebut kemungkinan hanya mengalami sedikit keberhasilan, dikarenakan daya ledaknya yang hanya berkisar kurang dari 1 kiloton.

Negara-negara yang dipercayai memiliki senjata nuklir

Negara-negara yang dipercayai memiliki sedikitnya satu senjata nuklir, atau program dengan tingkat keberhasilan akan memproduksi senjata nuklir di masa mendatang:

Israel

Israel bukan merupakan anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan menolak untuk mengkonfirmasi atau menyangkal memiliki senjata nuklir, atau mengembangkan program senjata nuklir. Walaupun Israel mengklaim Pusat Riset Nuklir Negev dekat Dimona adalah sebuah “reaktor penelitian”, tetapi tidak ada hasil pekerjaan ilmuwan yang bekerja disana yang dipublikasikan.

Informasi mengenai program di Dimona dibeberkan oleh teknisi Mordechai Vanunu pada 1986. Analisis gambar mengidentifikasi bunker senjata, peluncur misil bergerak, dan situs peluncuran pada foto satelit. Badan Tenaga Atom Internasional mempercayai Israel memiliki senjata nuklir.

Israel mungkin telah melakukan sebuah uji coba senjata nuklir dengan Afrika Selatan pada 1979, tetapi hal ini belum dikonfirmasikan (lihat: insiden Vela). Menurut Natural Resources Defense Council dan Federasi Ilmuwan Amerika, Israel memiliki sekitar 75-200 senjata.

Negara-negara yang dicurigai memiliki program nuklir rahasia

Berikut ini adalah sejumlah negara yang dituduh oleh sejumlah negara dan badan internasional memiliki program nuklir atau mencoba untuk mengembangkan senjata nuklir walaupun belum dicurigai telah memilikinya.

1. Iran

Menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan mengemukakan ketertarikannya dalam teknologi nuklir termasuk pengayaan nuklir untuk tujuan damai (sebuah hak yang dijamin dalam perjanjian), tetapi CIA (badan rahasia AS) dan beberapa negara barat mencurigai bahwa hal tersebut sebenarnya untuk menutupi program pengembangan senjata nuklir dan mengklaim bahwa Iran memiliki sedikit kebutuhan untuk mengembangkan tenaga nuklir, dan secara konsisten memilih opsi nuklir yang dapat menjadi multi penggunaan dibandingkan dengan memilih teknologi nuklir yang hanya bisa digunakan untuk pembangkitan tenaga listrik.

Mantan Menteri Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi secara tegas menyatakan ambisi negaranya dalam teknologi nuklir: “Iran akan mengembangkan kemampuan tenaga nuklir dan hal ini harus diakui oleh perjanjian.”Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) kemudian melaporkan Iran ke Dewan Keamanan PBB pada 4 Februari 2006 sebagai respon dari kekhawatiran negara-negara barat akan program nuklir Iran.

Pada 11 April 2006, presiden Iran mengumumkan bahwa Iran telah berhasil melakukan pengayaan uranium untuk dapat digunakan dalam reaktor untuk pertama kalinya. Pada 22 April 2006, delegasi Iran untuk badan pengawasan nuklir PBB bahwa Iran telah mencapai persetujuan awal dengan Kremlin untuk membentuk sebuah kerjasama dalam pengayaan uranium bersama di wilayah Rusia.

2. Arab Saudi

Pada 2003, anggota pemerintahan Saudi Arabia menyatakan bahwa dikarenakan hubungan yang memburuk dengan Amerika Serikat, Saudi Arabia dipaksa untuk mempertimbangkan pengembangan senjata nuklir, tetapi sejak itu mereka kerap menyangkal telah memulai pengembangannya.

Kabar burung beredar bahwa Pakistan telah mengirim sejumlah senjata nuklir ke Arab Saudi, tetapi hal ini tidak dapat dikonfirmasikan.Pada Maret 2006, sebuah majalah Jerman, Cicero melaporkan bahwa Arab Saudi sejak 2003 telah menerima bantuan dari Pakistan untuk mengembangkan rudal nuklir.

Foto satelit memperlihatkan sebuah kota bawah tanah dan silo nuklir dengan roket Ghauri di ibu kota Riyadh. Pakistan kemudian menyangkal telah membantu Arab Saudi dalam ambisi nuklirnya.

Negara-negara yang pernah memiliki senjata nuklir

1. Afrika Selatan

Afrika Selatan membuat 6 senjata nuklir pada 1980-an, tetapi kemudian melucutinya pada awal 1990-an sehingga menjadi satu-satunya negara yang diketahui tidak melanjutkan program senjata nuklirnya setelah mengembangkannya sendiri.

Pada 1979 terjadi suatu insiden di Samudera Hindia yang dicurigai adalah uji coba nuklir oleh Afrika Selatan yang kemungkinan bekerja sama dengan Israel. Hal ini tidak pernah dikonfirmasikan. Afrika Selatan menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada 1991.

Bekas negara Uni Soviet

1. Belarusia

Memiliki 81 hulu ledak yang berada di wilayahnya setelah Uni Soviet runtuh pada 1991. Kesemuanya itu kemudian dipindahkan ke Rusia pada 1996. Belarusia menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.

2. Kazakhstan

Mewarisi 1.400 senjata nuklir dari Uni Soviet, dan memindahkan kesemuanya itu ke Rusia pada 1995. Kazakhstan menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.

3. Ukraina

Menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Ukraina mewarisi 5.000 senjata nuklir ketika merdeka dari Uni Soviet pada 1991, menjadikannya sebagai negara pemilik senjata nuklir terbanyak ketiga di dunia. Pada 1996, Ukraina secara sukarela melucuti semua senjata nuklirnya untuk dikembalikan ke Rusia.

Negara-negara yang pernah memiliki program nuklir

Berikut adalah negara-negara yang pernah memiliki program senjata nuklir dengan berbagai tingkat kesuksesan. Negara-negara tersebut sekarang ini tidak lagi mengembangkan atau memiliki program nuklir. Semua negara yang ada di bawah ini telah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.

1. Argentina

Membentuk Komisi Energi Atom Nasional (National Atomic Energy Commission atau CNEA) pada 1950 untuk mengembangkan program energi nuklir untuk tujuan damai tetapi kemudian mengadakan penelitian program senjata nuklir di bawah kepemimpinan militer tahun 1978 pada suatu saat ketika menandatangani tetapi belum meratifikasi Perjanjian Tlatelolco.

Program ini kemudian ditinggalkan setelah proses demokrasi pada 1983.Beberapa laporan tidak resmi dan intelijen AS kemudian melaporkan bahwa Argentina meneruskan beberapa jenis program senjata nuklir pada 1980-an (salah satunya adalah uji coba membuat sebuah kapal selam nuklir), terutama dikarenakan rivalitas dengan Brasil, tetapi akhirnya program tersebut dibatalkan.

Pada awal 1990-an, Argentina dan Brasil membentuk sebuah badan inspeksi bilateral bertujuan untuk melakukan verifikasi kegiatan kedua negara dalam penggunaan energi nuklir dengan tujuan damai. Argentina menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada 10 Februari 1995.

2. Australia

Setelah Perang Dunia II, kebijakan pertahanan Australia membentuk kerjasama pengembangan senjata nuklir dengan Britania Raya. Australia menyediakan uranium, wilayah untuk uji coba senjata dan roket, serta ilmuwan. Canberra juga secara aktif terlibat dalam program peluru kendali Blue Streak.

Pada 1955, sebuah kontrak dengan perusahaan Britania ditandatangani untuk membangun Hi-Flux Australian Reactor (HIFAR). HIFAR dianggap sebagai langkah pertama dari rencana untuk membangun reaktor yang lebih besar yang berkemampuan untuk memproduksi plutonium yang lebih banyak bagi kebutuhan senjata nuklir. Ambisi nuklir Australia akhirnya ditinggalkan pada 1960-an. Australia kemudian menandatangani NPT pada 1970 dan meratifikasinya pada 1973.

3. Brasil

Rejim militer Brasil membentuk program penelitian senjata nuklir (dengan kode “Solimões”) pada tahun 1978, walaupun telah meratifikasi Perjanjian Tlatelolco pada 1968. Program tersebut kemudian ditinggalkan ketika sebuah pemerintahan terpilih berkuasa pada 1985.

Pada 13 Juli 1998 Presiden Fernando Henrique Cardoso menandatangani dan meratifikasi Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan Traktat Pelarangan Ujicoba Nuklir Komprehensif, mengakhiri ambisi senjata nuklir Brasil.

4. Mesir

Pernah memiliki program senjata nuklir antara 1954 dan 1967. Mesir menandatangani NPT.

5. Jerman

Selama Perang Dunia II, Jerman di bawah kekuasaan Nazi, mengadakan penelitian untuk pengembangan senjata nuklir, akan tetapi tidak didukung sejumlah sumber daya, program tersebut akhirnya ditemukan masih jauh dari keberhasilan ketika Perang Dunia II selesai.

Fasilitas penelitiannya juga disabotase oleh mata-mata Britania dan Norwegia sehingga menghambat penelitian Jerman. (lihat Sabotase air berat Norwegia). Sejarawan Rainer Karlsch, dalam bukunya tahun 2005 yang berjudul Hitlers Bombe, menceritakan bahwa Nazi telah mengadakan sebuah uji coba bom atom di Thuringia dalam tahun terakhir perang yang kemungkinan adalah berupa senjata radiologi dan bukan sebuah senjata fisi. (Baca pula: Proyek energi nuklir Jerman).

6. Irak

Telah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Mereka memiliki sebuah program riset senjata nuklir pada 1970-an sampai 1980-an. Pada 1981, Israel menghancurkan reaktor nuklir Irak Osiraq. Tahun 1996, Hans Blix melaporkan bahwa Irak telah melucuti atau menghancurkan semua kemampuan nuklir mereka.

Tahun 2003, sebuah koalisi multinasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat menginvasi Irak berdasarkan laporan intelijen yang melaporkan bahwa Irak memiliki senjata yang dilarang oleh Dewan Keamanan PBB.

Karena Irak menolak untuk bekerja sama dengan inspeksi PBB, Irak dicurigai oleh banyak anggota Dewan Keamanan PBB memiliki program nuklir. Akan tetapi, tahun 2004, Laporan Duelfer menyimpulkan bahwa program nuklir Irak telah ditutup pada 1991.

7. Kerajaan Jepang

Pernah mengadakan penelitian senjata nuklir selama Perang Dunia II walaupun tidak kurang banyak mengalami kemajuan. Jepang menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Belum ada bukti yang mengindikasikan Jepang mengembangkan program senjata nuklir walaupun secara kemampuan teknologi, Jepang dianggap mampu mengembangkan senjata nuklir dalam waktu singkat.

Konstitusi Jepang melarang pembuatan senjata nuklir selain itu Jepang telah aktif mempromosikan perjanjian nonproliferasi nuklir. Beberapa kecurigaan muncul bahwa senjata nuklir mungkin berada dalam pangkalan Amerika Serikat yang berada di Jepang.

8. Libya

Menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Pada 19 Desember 2003, setelah invasi ke Irak yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan pencegahan pengiriman suku cadang yang dirancang Pakistan yang dikirim dari Malaysia (bagian dari jaringan proliferasi A. Q. Khan, Libya mengakui memiliki sebuah program senjata nuklir dan secara sekaligus juga mengumumkan maksud mereka untuk mengakhirinya serta melucuti semua senjata pemusnah massal untuk diverifikasi oleh tim inspeksi tanpa syarat.

9. Polandia

Riset nuklir di Polandia dimulai pada awal 1960-an, ketika tercapainya reaksi fisi nuklir terkontrol pertama pada akhir 1960-an. Pada 1980-an, riset difokuskan pada pengembangan reaksi mikro-nuklir di bawah kontrol militer.

Polandia saat ini mengoperasikan reaktor riset nuklir MARIA di bawah kendali Institute of Atomic Energy di Swierk dekat Warsawa. Polandia telah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan secara resmi mengumumkan tidak memiliki senjata nuklir.

10. Rumania

Menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada 1970. Walaupun demikian, di bawah pemerintahan Nicolae Ceausescu, pada 1980-an, Rumania memiliki program pengembangan senjata nuklir rahasia yang berakhir ketika Nicolae Ceausescu digulingkan pada 1989.

Sekarang ini Rumania mengoperasikan sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir dengan dua buah reaktor yang dibangun dengan bantuan Kanada. Rumania juga memiliki fasilitas penambangan dan pengayaan uraniumnya sendiri untuk pembangkit listrik dan sebuah program riset.

11. Korea Selatan

Memulai program senjata nuklirnya pada awal 1970-an, yang diperkirakan ditinggalkan ketika Korea Selatan menandatangani NPT pada 1975. Akan tetapi banyak laporan yang mengatakan program tersebut kemudian dilanjutkan oleh militer.

In late 2004, the South Korean government disclosed to the IAEA that scientists in South Korea had extracted plutonium in 1982 and enriched uranium to near-weapons grade in 2000. (see South Korean nuclear research programs).

12. Swedia

Secara serius mempelajari pengembangan senjata nuklir antara 1950-an dan 1960-an. Swedia diperkirakan memiliki pengetahuan yang cukup yang memungkinkan negara itu untuk membuat senjata nuklir. Sebuah fasilitas penelitian senjata dibangun di Studsvik. Saab pernah membuat rencana untuk sebuah pesawat pengebom nuklir berkecepatan supersonik yang berkode A36. Swedia kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan program senjata nuklirnya dan menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.

13. Swiss

Pernah memiliki sebuah program nuklir rahasia antara 1946 dan 1969. Swiss kemudian memiliki proposal teknis mendetil, senjata-senjata tertentu dan perkiraan biaya untuk persenjataan nuklir Swiss pada 1963. Program ini kemudian ditinggalkan dikarenakan masalah finansial dan ditandatanganinya NPT pada 27 November 1969.

14. Taiwan

Memiliki sebuah program penelitian senjata nuklir rahasia dari tahun 1964 sampai 1988 ketika mendapat tekanan dari Amerika Serikat. Taiwan menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada 1968.

15. Yugoslavia,

Yugoslavia memiliki ambisi nuklir sejak awal 1950-an ketika ilmuwan Yugoslavia memulai proses pengayaan uranium dan plutonium. Tahun 1956, fasilitas pemrosesan bahan bakar Vinca dibangun, diikuti oleh reaktor penelitian pada 1958 dan 1959 dengan air berat dan uranium yang sudah diproses disediakan oleh Uni Soviet. Pada 1966 uji coba pemrosesan Plutonium dimulai di laboratorium Vinca menghasilkan plutonium yang sudah dikayakan.

Selama periode 1950-an dan 1960-an, Yugoslavia dan Norwegia mengadakan kerjasama dalam pemrosesan ulang plutonium. Tahun 1960 Tito menghentikan program nuklir untuk alasan yang tidak diketahui tetapi kemudian memulainya kembali setelah uji coba nuklir India yang pertama pada 1974.

Program nuklir masih berlangsung setelah kematian Tito pada 1980 yang terbagi atas program nuklir untuk senjata dan untuk energi. Program senjata nuklir kemudian dihentikan pada Juli 1987. Program nuklir untuk energi kemudian menghasilkan dibangunnya pembangkit listri tenaga nuklir Krško tahun 1983, yang sekarang dimiliki oleh Slovenia dan Kroasia.

16. Serbia dan Montenegro

Kemudian mewarisi laboratorium Vinca dan 50 kilogram uranium yang sudah dikayakan yang disimpan di fasilitas tersebut. Selama pengeboman NATO atas Yugoslavia tahun 1999, Vinca tidak pernah menjadi sasaran karena NATO mengetahui tentang uranium yang tersimpan disitu. Setelah pengeboman NATO berakhir, pemerintah Amerika Serikat dan Nuclear Threat Initiative memindahkan uranium tersebut ke Rusia – tempat dimana Yugoslavia pertama kali memperolehnya.

Negara-negara berkemampuan nuklir lainnya

Secara teori, negara industri manapun sekarang ini memiliki kemampuan teknis untuk mengembangkan senjata nuklir dalam beberapa tahun jika memang negara tersebut bermaksud demikian. Negara yang telah memiliki teknologi nuklir serta industri persenjataan yang cukup, malah dapat melakukannya dalam satu atau dua tahun atau bahkan dalam hitungan bulan jika mereka bermaksud demikian.

Negara-negara industri besar seperti Jepang, Jerman, Italia, Australia dan Kanada contohnya, dapat membangun persenjataan untuk menyaingi negara-negara yang telah memiliki senjata nuklir dalam beberapa tahun. Daftar di bawah ini adalah negara-negara yang telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan persenjataan nuklir.

Daftar berikut hanya berisi negara-negara yang telah memiliki kemampuan nuklir bukan negara-negara yang secara politik bermaksud mengembangkannya. Semua negara dalam daftar di bawah ini telah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.

1. Kanada

Memiliki pengetahuan untuk pengembangan teknologi nuklir, cadangan uranium dalam jumlah besar dan memasarkan reaktor untuk keperluan sipil. Kanada memiliki plutonium dalam jumlah besar yang dihasilkan reaktor-reaktor pembangkit tenaga listrik. Kanada dapat mengembangkan senjata nuklir dalam waktu singkat. Walaupun tidak memiliki program senjata nuklir sekarang ini, Kanada secara teknologi telah mampu memiliki program tersebut sejak 1945.

Kanada merupakan kontributor penting dari keahlian dan bahan baku program nuklir Amerika di masa lalu dan juga turut serta dalam Proyek Manhattan. Pada 1959, NATO mengusulkan RCAF (Angkatan Udara Kanada) untuk membangun sebuah kekuatan nuklir di Eropa, pada 1962, enam skuadron CF-104 Kanada ditempatkan di Eropa untuk membangun RCAF Nuclear Strike Force yang dipersenjatai dengan bom nuklir B28 (aslinya adalah Mk 2 di bawah program nuklir NATO; kesatuan tersebut kemudian dibubarkan pada 1972 ketika Kanada memutuskan untuk tidak menggunakan cara-cara serangan nuklir.

Kanada kemudian menerima pengontrolan bersama atas hulu ledak nuklir Amerika W-40 dalam teritorial Kanada pada 1963 untuk digunakan pada rudal BOMARC Kanada. Angkatan Udara Kanada juga menyimpan sejumlah roket nuklir udara ke udara AIR-2 Genie sebagai senjata utama dari pesawat tempur CF-101 Voodoo setelah 1965. Perdana Menteri Pierre Trudeau mendeklarasikan Kanada menjadi negara bebas senjata nuklir pada 1971, dan hulu ledak Amerika terakhir ditarik pada 1984.

Kanada memberikan reaktor riset pertama India, CIRUS, pada 1956. Reaktor ini digunakan untuk menghasilkan bahan nuklir yang digunakan dalam uji coba nuklir pertama India. Kadana juga memproduksi reaktor CANDU dan menjual teknologinya ke beberapa negara seperti Republik Rakyat Tiongkok, Korea Selatan, India, Rumania, Argentina dan Pakistan. Akan tetapi tidak ada bukti yang dapat dipercaya yang menunjukkan bahwa reaktor-reaktor CANDU digunakan untuk menghasilkan bahan nuklir yang digunakan India dan Pakistan. Kanada kemudian memutuskan perdagangan nuklir dengan kedua negara tersebut setelah mereka melakukan uji coba senjata nuklirnya yang pertama.

2. Jerman

Memiliki industri nuklir yang mampu memproduksi reaktor, fasilitas pengayaaan uranium, fasilitas produksi bahan bakar nuklir dan fasilitas pemrosesan ulang bahan bakar nuklir serta mengoperasikan 19 reaktor untuk sepertiga kebutuhan listrik negara itu. Jerman sejak 1945 belum melakukan upaya serius untuk mengembangkan sistem pengiriman senjata strategisnya, tetapi sejumlah senjata nuklir telah ditempatkan di Jerman Barat dan Jerman Timur selama Perang Dingin dimulai pada 1955.

Dibawah skema penggunaan bersama nuklir, tentara Jerman Barat memiliki wewenang untuk menggunakan senjata nuklir AS ketika menghadapi serangan besar-besaran dari Pakta Warsawa. Beberapa lusin senjata tersebut masih tetap berada di beberapa fasilitas militer di Jerman bagian barat.

Jerman sejak 1998 telah mengadopsi kebijakan untuk menghapus semua persenjataan nuklir, walaupun kebijakan tersebut berjalan lambat. Pada 26 Januari 2006, bekas menteri pertahanan, Rupert Scholz, mengatakan bahwa Jerman mungkin membutuhkan persenjataan nuklirnya sendiri untuk menghadapi ancaman teroris.

 

Sumber : Wikipedia.org

SENJATA BIOLOGI PALING MEMATIKAN

Posted in NUBIKA PASIF on Februari 9, 2009 by zeniad

Ini dia daftar senjata yang berasal dari Biologi, mari kita simak satu persatu :

1.  Anthrax: adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri berbentuk spora Bacillus Anthracis, spora tersebut menghasilkan racun yang fatal. Dapat menyebar melalui udara, pencernaan makananan atau kontak dengan kulit yang lecet.

2. BOTULISM: dihasilkan bakteri Clostridium Botulinum. Penyebaran melalui udara atau pencernaan akibat makanan atau minuman yang terkontaminasi. Kematian dapat disebabkan kelumpuhan otot pernafasan hanya dalam 24 jam.

3. PLAGUE: Disebabkan oleh Yersinia pestis yang ditemukan pada binatang pengerat dan kutunya. Penyebaranya melalui udara akibat ludah dari mereka yang terinfeksi. plague dapat mengakibatkan kematian dalam 2 hingga 4 hari.

4. CACAR (SMALL POX): Penyebabnya adalah virus Variola yang telah dianggap musnah di dunia sejak 1977. Cacar air muncul dalam dua bentuk yaitu Variola minor dan Variola Mayor yang lebih mematikan. Penyebaranya melalui udara dan percikan ludah dari mereka yang terinfeksi. Kematian dapat terjadi dalam dua minggu pertama.

5. TULAREMIA: Disebabkan oleh Francisella tularensis yang dianggap sebagai bakteri patogen dengan penularan tercepat. Manusia dapat terinfeksi Tularemia melalui gigitan anthropods yang terinfeksi, kontak dengan makanan atau air yang terkontaminasi, serta melalui udara. Kematian dapat terjadi dalam dua minggu.

6. VIRAL HEMORRHAGIC FEVER (VHF): Sebagian virus ini diketahui menetap dalam binatang atau serangga, namun beberapa inang virus VHF lainya masih belum diketahui, termasuk ebola dan virus marburg. Beberapa virus VHF dapat disebarkan cairan tubuh mereka yang terinfeksi. Beberapa tipe VHF dapat mengakibatkan kegagalan ginjal.

Posted by Infolahta Ditziad