Archive for the RINTANGAN Category

Perang Darat di Afghanistan

Posted in RINTANGAN on Februari 9, 2009 by zeniad

AS Gunakan Senjata Penghancur Bunker

Setelah berhasil melemahkan pertahanan anti-udara Taliban dalam lima hari serangan udara, pesawat-pesawat tempur AS kini mengincar pusat-pusat komando pasukan Taliban yang bersembunyi dalam bunker-bunker bawah tanah. Selain itu, AS juga mulai mengincar sasaran darat, baik yang bergerak maupun yang tidak.

Demikian disampaikan oleh seorang pejabat AS yang tak bersedia disebutkan namanya Rabu (10/10), di Washington. Untuk menghancurkan bunker-bunker itu, Pentagon menggunakan bom-bom 2.250 kilogram yang dikenal sebagai bom ‘penghancur bunker’.
Penghancuran bunker Taliban dan penghancuran sasaran darat itu merupakan langkah AS untuk melemahkan pertahanan darat Taliban. Lebih lanjut, hal itu merupakan langkah persiapan jika nanti AS mulai melakukan serangan darat ke Afghanistan, untuk menangkap Osama bin Laden dan para anggota kelompok teroris al-Qaeda.
Pentagon sendiri sampai saat ini tidak mengumumkan operasi penghancuran bunker Taliban itu secara resmi. Tetapi, salah satu staf Pentagon yang tak bersedia disebutkan namanya mengatakan, target utama serangan penghancuran bunker ini adalah sebuah bunker yang berfungsi sebagai pusat komando Taliban, yang terletak di dekat Kandahar. 
Bunker pusat komando Taliban itu akan dihancurkan dengan sebuah bom 2.250 kg, yang dikendalikan laser. Meskipun demikian, sumber itu tidak tahu apakah rencana serangan itu telah dilakukan atau belum, dan jika sudah, bagaimana hasil serangan tersebut.
Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld sebelumnya memang mengisyaratkan, serangan AS berikutnya akan ditujukan pada pusat-pusat komando Taliban. 
”Pusat komando dan struktur-struktur pemerintahan Taliban mungkin masih utuh hingga kini,” katanya sebagaimana dikutip oleh CBS News, Selasa (9/10).
Sedangkan untuk menghancurkan sasaran darat, baik yang bergerak maupun tidak, pesawat-pesawat tempur AS akan menggunakan amunisi ganda dan bom anti personil yang jika meledak terbagi menjadi pecahan-pecahan kecil. Senjata itu, antara lain, akan digunakan untuk menembak konvoi pasukan atau kendaraan lapis baja Taliban.

Persiapan Serangan Darat
Sementara itu, seorang pejabat Pakistan yang tak bersedia disebutkan namanya Kamis (11/10) mengatakan, untuk pertama kalinya pesawat dan pasukan AS mendarat di Pakistan. 
Menurutnya, lebih dari 15 pesawat militer AS, termasuk pesawat C-130, telah lebih dari dua hari lalu berada di pangkalan udara Pakistan yang terletak di Jacobabad, sekitar 150 mil dari perbatasan Pakistan-Afghanistan. Pangkalan udara lain yang digunakan sebagai pangkalan pasukan AS adalah pangkalan udara di Pasni, 300 kilometer sebelah barat Karachi.
Pemberian izin penggunaan pangkalan udara Pakistan itu terkesan diam-diam, karena menimbulkan protes keras dari masyarakat Pakis-tan, yang tidak menginginkan kehadiran pasukan AS di wilayah negaranya. Dalam pernyataan-pernyataan umum, yang dikemukakan pemerintah Pakistan, izin penggunaan pangkalan udara itu tidak diakui. 
Juru bicara pemerintah Pakistan, Anwar Mehmood, Kamis (11/10) mengatakan, Pakistan hanya memberikan bantuan intelijen dan logistik pada Amerika, tetapi tidak memberikan izin penggunaan wilayah Pakistan untuk pangkalan militer. 
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Syed Mustafa Anwer Husain, yang ditemui SH Selasa (9/10) juga menegaskan, negaranya tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah sebagai pangkalan pasukan AS. 
”Kami (Pakistan) sangat menyesalkan serangan tragis yang terjadi di Amerika itu, dan mengutuk keras terorisme. Di Pakistan sendiri, sering terjadi serangan teroris, seperti peledakan bom di jalan, sekolah, bahkan di masjid. Karena itu, kami juga mendukung upaya pemberantasan terorisme internasional,” kata Husain. 
”Hanya saja, kami tidak mengizinkan pasukan AS berada di wilayah kami, dan menggunakan Pakistan sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan militer pada Afghanistan, karena kami berkepentingan menjaga hubungan baik dengan negara itu. Kami memberikan bantuan dalam bentuk bantuan informasi intelijen dan logistik,” tambah mantan siswa Seskoad Bandung tersebut.
Penggunaan pangkalan udara di Pakistan, sebenarnya juga mendatangkan resiko bagi Amerika. Secara militer, negara itu memang merupakan wilayah yang paling menguntungkan sebagai pangkalan pasukan. Tetapi, secara politis, Pakistan merupakan wilayah yang paling merugikan. 
Jika berpangkalan di Pakistan, pasukan Amerika akan memasuki wilayah Afghanistan dari selatan, daerah yang dikuasai Taliban. Selain itu, mereka menghadapi rakyat Pakistan yang juga pro-Taliban. Syed Mustafa Anwer Husain, bahkan mengumpamakan tindakan Amerika menempatkan pasukannya di Pakistan itu seperti ‘menusuk punggung sendiri.

Serangan Darat, Dilematis
Serangan darat, tampaknya memang telah dipersiapkan baik oleh pihak Amerika maupun Afghanistan. AS mempersiapkan serangan itu dengan jalan terlebih dulu melemahkan bunker pusat komando pasukan Taliban, dan pertahanan darat Taliban lainnya. 
Bagi AS, serangan itu merupakan pilihan yang dilematis. Serangan darat itu memang diperlukan untuk menangkap Osama bin Laden dan anggota kelompok al-Qaeda, tetapi di lain sisi, serangan itu bisa menyulitkan posisi Amerika.
Jika serangan darat dilaku-kan, pasukan Taliban mungkin akan menggunakan taktik perang gerilya, yang memang diuntungkan oleh medan alam Afghanistan. Taktik perang gerilya itu pernah dilakukan Taliban dalam melawan Rusia pada tahun 1979 – 1989, dan terbukti berhasil dengan berakhirnya pendudukan Rusia di Afghanistan.
Wilayah negara yang tak memiliki wilayah laut itu, memang hampir seluruhnya berupa pegunungan yang sangat curam, penuh dengan tebing, lereng dan jurang. Pasuk-an Taliban memanfaatkan medan alam yang demikian untuk melakukan taktik ‘hit and run’, serta bersembunyi di antara gunung-gunung. 
Begitu cerdiknya pasukan Taliban memanfaatkan medan alam itu, sehingga Dubes Pakistan untuk Indonesia, Syed Mustafa Anwer Husain, sambil tertawa mengatakan, pasukan Taliban tidak butuh peluru jika menghadapi serangan darat. Mereka cukup hanya dengan menggulingkan batu dari atas gunung, diarahkan pada pasukan musuh yang berada di bawahnya. 
Komentar Anwer Husain itu memang hanya gurauan, tetapi setidaknya mencerminkan situasi sebenarnya, yaitu bahwa pasukan Taliban sangat diuntungkan oleh medan alam mereka jika menghadapi serangan darat.
Karena itu, meskipun Ame-rika menunjukkan indikasi ingin melakukan serangan darat untuk menangkap Osama bin Laden beserta jaringan kelompok teroris al Qaeda yang dipimpinnya, perang darat mungkin bisa menjadi pukulan bagi Amerika. 
Mungkin itulah yang dimaksudkan oleh Duta Besar Afghanistan untuk Pakistan, Abdul Salam Zaeef, pada saat ia mengatakan, ”Jika pasukan Amerika memasuki Afghanistan, maka perang yang sesungguhnya baru akan dimulai. Sekarang perang itu belum dimulai.”
Optimisme Amerika, sebagai kekuatan besar, dalam menghadapi Afghanistan bisa berputar 180 derajat jika mereka mengadakan serangan darat, dan menghadapi taktik gerilya pasukan Taliban yang sangat diuntungkan oleh kondisi alam Afghanistan. Bukankah kekalahan Rusia telah membuktikan hal itu?

Sumber : Sinar Harapan

Posted by Infolahta Ditziad

Iklan

Bagaimana Kondisi Bunker Saddam

Posted in RINTANGAN on Februari 5, 2009 by zeniad

Desain bunker Saddam hampir sama dengan konstruksi kapal selam modern. Bunker itu terdiri atas struktur luar dan dalam. Struktur dalam terisolasi secara menyeluruh dari struktur luarnya. Pada rancangan sebuah kapal selam, isolasi ini dimaksudkan untuk memperkecil transmisi suara yang berasal dari dalam kapal ke sekitar perairan. Sementara bunker Saddam dibuat untuk mencegah terjadinya guncangan eksternal masuk ke dalam struktur dalam. Guncangan eksternal dimaksud seperti ledakan yang ditimbulkan oleh nuklir.

Struktur luar bunker dibuat serupa dengan pola cangkang telur, terbuat dari 20-30 yard beton. Cangkang ini ditanam jauh di dasar bumi. Komunikasi fisik dengan dunia luar dilakukan melalui beberapa saluran yang dipasang di antara kedua struktur tadi.

Struktur internal kira-kira setinggi lima tingkat, dan memiliki kapasitas tampung hingga 100 orang dalam jangka waktu yang cukup lama. Di dalamnya tersedia tempat penyimpanan air dan peralatan daur ulang air, sehingga tidak perlu ada air dari luar untuk mengganti air yang telah ada dalam tangki penyimpanan. Konon, sistem pengairan yang terdapat dalam bunker tersebut dapat menyediakan air hingga lebih dari sepuluh tahun tanpa memperoleh tambahan air dari luar.

Tersedia pula sebuah penyimpanan makanan yang dibuat oleh pabrik Amerika Serikat. Makanan dalam alat ini dapat mencukupi kebutuhan 100 orang dalam jangka waktu sekitar satu tahun. Struktur tersebut juga dilengkapi dengan perpustakaan compact disc (CD), digital video disc (DVD), dan perlengkapan hiburan lainnya. Saluran elektronik juga tersedia, sehingga memungkinkan personel yang ada di dalam bunker berhubungan dengan pendukungnya di luar. Karl Bernd Esser menyatakan, bunker tersebut memiliki luas wilayah sekitar 1.800 m2 dan telah terbukti ketahanannya dalam Perang Teluk 1991. Sehingga ambisi Presiden George Bush — ayah Presiden George Walker Bush — untuk menangkap dan menggulingkan Saddam kala itu kandas. Bahkan dia bisa bertahan hingga saat ini.

Di sebuah peta yang ditunjukkan di website perusahaan tempat Esser bekerja, bunker itu mempunyai beberapa ruangan. Seperti ruangan komando, kamar tidur presiden, sistem air conditioning dan satu ruang tempat persembunyian. Dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Jerman ZDF, Esser mengungkapkan, tebal dinding bungker sekitar tiga meter itu, tahan terhadap temperatur hingga 300 derajat Celcius.

Dengan dua pintu keluar yang langsung menuju Sungai Tigris, dilindungi oleh pintu seberat tiga ton. Jika ingin menembus bunker itu, lanjutnya, pasukan koalisi harus menembak dengan Tomahawk seberat 80 kg sebanyak 16 kali di tempat yang persis sama.

Esser mengaku sama sekali tidak punya rasa sesal telah membangunkan sebuah bunker untuk Presiden Saddam Hussein. ”Bunker tidak dapat menembak orang. Itu hanya sebuah tempat perlindungan yang sesuai dengan standar NATO dan bomb-proof,” kilahnya.

Sumber : Balipost.co.id

Posted by infolahta ditziad

Melongok Bunker Saddam

Posted in RINTANGAN on Februari 4, 2009 by zeniad

Pintu Seberat Tiga Ton, Berdinding 3,5 Meter.

Sumber : Balipost.co.id

Di hari ke-9 Operation Iraqi Freedoom, AS membuat kejutan dengan melepaskan bom penghancur bunker di sebuah gedung pusat komunikasi di kota Baghdad. Bom seberat dua ton itu dilepaskan dari pesawat bomber B-52 dan membuat bumi kota Baghdad bergetar. Menteri Penerangan Mohammed al-Sahhaf menyatakan serangan itu menewaskan lebih dari tujuh orang dan melukai 92 orang. Bangunan tujuh lantai itu pun hancur.

Bom itu beratnya dua kali dari bom yang digunakan selama ini yakni bom EGBU-27. Bom tersebut diyakini Barat mampu menghancurkan lubang perlindungan di bawah tanah setelah bangunan di atasnya lebih dahulu dihajar dengan rudal Tomahawk.

Namun, teori hancurnya bunker itu langsung dibantah Karl Esser, arsitek Jerman yang mengerjakan salah satu dari sejumlah lubang perlindungan untuk Saddam di kota Baghdad. Esser yang kini menjadi konsultan keamanan menjelaskan, Saddam bahkan mungkin hidup bila ada ledakan bom nuklir jika dia berada di dalam bunker yang mempunyai ketebalan dinding 1,5 meter.

”Jika ada bom nuklir sebesar bom Hiroshima dan didetonasi dari jarak 250 meter, bunker itu tetap tidak hancur,” kata Esser yang membangun lubang perlindungan di bawah istana presiden di Baghdad.

Esser menambahkan, AS sekarang berusaha keras dengan bom teknologi mutakhirnya untuk menghancurkan pintu lubang perlindungan itu. Pintu bunker seberat tiga ton itu dibuat oleh sebuah perusahaan di Swiss dan dirancang antiserangan bom.

Pendapat Esser itu diperkuat oleh seorang perwira Yugoslavia yang membantu pembangunan lubang bawah tanah tersebut. Ia menyebutkan bunker tersebut memang didesain tidak tembus serangan bom dan akan mengamankan orang yang berada di dalamnya dari radiasi bom atom.

Bunker tersebut mampu memuat 50 orang dan mempunyai dua pintu keluar yang salah satunya mengarah ke Sungai Tigris yang berjarak 200 meter. Bunker itu dibangun selama dua tahun (1982-1983) oleh sebuah prusahaan Jerman Boswau & Knauer yang kini menjadi kontraktor bangunan Walter-Bau AG.

Pembangunan bunker tersebut dilakukan saat perusahaan-perusahaan Barat diizinkan untuk menyuplai senjata atau peralatan lain kepada Saddam. Saat itu Irak tengah terlibat Perang Irak-Iran yang berlangsung 1980-1988. Esser menduga rancangan lubang perlindungan bawah tanah (bunker) itu buatan intelijen Jerman.

Saat membangun bunker tersebut, Esser adalah konsultan pada sebuah perusahaan Jerman yang mensponsori perlindungan warga sipil. Esser memiliki perusahaan Schutzraumtechnik Esser GmbH, yang menyuplai perlengkapan untuk bunker Saddam.

Esser menjelaskan, bom seberat dua ton kemarin diyakini sulit menembuas bunker seluas 1.800 are yang dibangun tepat di bawah istana presiden. Namun, bunker itu bisa ditembus lewat serangan pasukan darat. ”Lubang perlindungan bisa diakses lewat dari dalam istana presiden. Berarti hal itu hanya bisa dilakukan dengan menggunakan pasukan darat atau dengan bahan peledak taktis,” tambahnya.

Langit-langit pada bunker tersebut terkomposisi dari baja dengan beton setebal 1,5 meter. Dengan ketebalan seperti itu, dinding itu tidak akan retak oleh ledakan dari bom seberat 250 kg tepat di atasnya. Untuk menembus bunker itu hanya bisa dilakukan lewat pintu masuk bunker dengan menggunakan bazoka atau bahan peledak lainnya.

Esser pernah membawa Saddam jalan-jalan ke bunker tersebut saat pembangunannya selesai. Di dalam bunker Saddam bisa menyaksikan sendiri tempat itu dilengkapi dengan tangki air, pembangkit listrik, penyaringan udara, pusat komando seluas 30 are dan sistem perlindungan getaran elektromagnetik hingga sirkuit perlindungan listrik dari dampak ledakan bom.

”Dia sangat puas,” kenang Esser atas kunjungan Saddam itu. ”Dia ramah, mengenakan seragam sipil dan serupa dengan pegawai negeri. Namun, yang membuat dirinya sebagai pejabat penting adalah saat dia akan bicara, semua orang tidak ada yang membuka mulut.”

Ditanya tentang tuduhan bahwa dirinya membantu diktator serupa Hitler, Esser menjelaskan, bunker itu bukan didesain untuk satu orang tetapi banyak orang, Saddam dan stafnya. ”Inilah salah satu pencapaian dari teknologi pembuatan bunker,” kata Esser.

Sejak operasi pembunuhan Saddam dimulai 20 Maret lalu, kota Baghdad dihujani bom dari berbagai jenis — dari rudal penjelajah hingga penghancur bunker. Namun, semua serangan itu dijawab dengan pemunculan Saddam di televisi yang mengobarkan semangat rakyatnya untuk memerangi pasukan AS dan koalisinya. Pemunculan Saddam itu dijawab AS dengan menyatakan semua siaran televisi yang memuat Saddam tidak bisa dipercaya sepanjang siaran itu dilakukan secara rekaman atau tidak langsung. Hanya dengan siaran langsung (live), keberadaan Saddam bisa dipercayai, itu pun keaslian Saddam masih diragukan. Sebab, pihak Barat sepertinya telah menyepakati bahwa di istana presiden Baghdad terdapat lebih dari tiga orang yang mempunyai tampang seperti Saddam.

 

Posted by Infolahta Ditziad

TEROWONGAN CU CHI

Posted in RINTANGAN on Februari 2, 2009 by zeniad

Gerilyawan Vietkong dengan dukungan rakyat membangun kota
bawah tanah. Terowongan sepanjang 200 kilometer itu, pernah jadi
basis perlawanan mengusir Amerika Serikat. Kini: obyek wisata
yang menarik.

     Pemandu wisata, seorang pria Vietnam setengah baya, dengan
logat Inggrisnya yang sulit dimengerti, menantang peserta tur.
Siapa bisa temukan pintu terowongan dalam 10 menit akan diberi
hadiah. Maka sibuklah sekitar 50 orang dari berbagai bangsa itu,
mengorek-ngorek tanah, mencari lubang, yang katanya menjadi pintu
masuk ke terowongan Cu Chi yang amat terkenal itu. Sepuluh menit
berlalu. Tak seorang pun menemukan lubang yang dicari-cari. Semua
menyerah, dan akhirnya si pemandu sendiri, yang terpaksa mencari-
nya.

     Lubang itu tertutup rumput kering. Tak ada tanda-tanda yang
membedakan dengan tanah sekitarnya. Selain ditumbuhi rerumputan,
penutup lubang itu juga sangat kecil. Tak lebih dari seukuran
genteng pergola. Sulit membayangkan lubang sekecil itu bisa
dimasuki orang, apalagi gerilyawan yang membawa perbekalan. Tapi
dengan tangkas, si pemandu memasukkan kakinya. Kedua tangannya
diangkat lurus di atas kepala menahan penutup lubang. Ia menekuk
kaki, dan menghilang dalam terowongan. Permukaan tanah, kembali
tertutup rerumputan. Si gerilyawan lenyap di telan bumi.

     Rombongan tur itu ternganga. Ajaib. Lubang kecil, yang
bertebaran di perbukitan Cu Chi itu, ternyata pintu-pintu masuk
ke dunia bawah tanah. Dunia yang pernah memusingkan tentara
Amerika, ketika mereka menduduki Vietnam Selatan, dan terpaksa
angkat kaki secara memalukan di tahun 1975. Bagaimana tidak?
Ketika tentara Amerika sedang asyik di bunkernya di Ho Chi Minh
City, sekitar 100 km dari Cu Chi, mendadak diserbu gerilyawan
bersenjata yang masuk tenda-tenda tempat tidur mereka. Dan,
ketika dicari, pasukan kampung itu telah hilang, tak berbekas.
Dunia ikut tercengang, ketika suatu malam, stasiun radio Vietnam,
yang hanya beberapa ratus meter dari Kedubes Amerika, diambil
alih oleh gerilyawan. Serbuan serbuan kilat dan terus menghilang
itu, bisa terjadi berkat sistem terowongan yang dibangun secara
mengagumkan di bumi Vietnam.

     Cu Chi mungkin terowongan paling dikenal di Vietnam. Namanya
diambil dari nama kecamatan, di mana titik awal terowongan itu
digali. Tempatnya agak tinggi, sehingga air sulit masuk. Cu Chi
sebetulnya terdiri dari banyak bagian, yang saling terjalin,
sehingga membentuk kota bawah tanah yang mengagumkan. Di beberapa
tempat, terowongan itu dibangun sangat lebar, sampai ada yang
susun tiga, tapi di tempat lain ada juga yang sangat kecil, dan
hanya bisa dimasuki orang sambil berjongkok.

     Karena dipersiapkan untuk menghadapi perang jangka panjang,
Cu Chi dilengkapi dengan ruang logistik, ruang operasi medis
untuk mereka yang luka-luka juga merawat ibu-ibu yang melahirkan.
Tak sedikit bayi Vietnam yang lahir di dunia bawah tanah itu.
Terowongan juga dilengkapi dengan ruang rapat partai, sekolah
anak-anak, ruang seni dimana tari-tarian biasa dipertunjukkan,
ruang bioskop, dapur umum, dan tentu saja barak-barak untuk
gerilyawan. Barangkali, hanya supermarket yang tak ada di tero-
wongan itu.

     Riwayat Cu Chi sesungguhnya telah dimulai tahun 1948, ketika
rakyat Vietnam berperang melawan kolonialisme Perancis. Saat itu,
banyak pejuang kemerdekaan Vietnam terpaksa bersembunyi di luar
rumah. Bentuk persembunyian yang paling digemari adalah ruang
bawah tanah dengan satu lubang untuk masuk dan keluar.

     Persembunyian seperti itu, selain untuk menyimpan dokumen
dan senjata; biasanya dipakai sarang gerilyawan selama siang
hari, dan malamnya mereka operasi menyerang musuh. Tapi, karena
sederhana hanya satu pintu persembunyian model itu sangat mudah
dilacak. Sehingga seringkali, gerilyawan Vietnam tertangkap dalam
lubang persembunyiannya

     Dari situlah muncul kebutuhan untuk membangun terowongan
yang lebih panjang, dengan banyak pintu rahasia; sehingga memung-
kinkan gerilyawan keluar-masuk di tempat berbeda. Yang mengagum-
kan, terowongan itu dibikin dengan alat-alat sederhana: cethok
dan ekrak. Tangan-tangan kecil, gotong royong petani dan gerilya-
wan, mengorek tanah itu sekepal demi sekepal, dan membuangnya
tanpa menarik perhatian musuh. Selama periode 1961-1965, lima
desa di Kecamatan Cu Chi menyelesaikan tulang punggung dari
terowongan itu. Selanjutnya, satuan-satuan tentara dan pemerintah
memperluasnya, hingga tercipta rangkaian terowongan yang begitu
kompleks.

     Tahun 1967, ketika Amerika melancarkan operasi Sedarfall,
jaringan terowongan telah membentuk kota bawah tanah sepanjang
200 km. Terowongan itu tak terlampau dalam di bawah tanah, tetapi
cukup untuk menahan tembakan kanon, menahan beban tank dan truk-
truk militer yang hilir mudik di atasnya. Uniknya, terowongan
itu, tak hanya dibangun untuk pertahanan, tetapi juga untuk
menyerang. Seperti laba-laba yang bertahan di mulut lubang per-
sembunyiannya, mereka akan masuk bila ada serangan, tapi sekejap
kemudian keluar lagi untuk menyerang, kata seorang penduduk Cu
Chi.

     Tentara Amerika bukan tak menyadari keberadaan terowongan Cu
Chi. Sejak awal, mereka melakukan berbagai usaha untuk menghan-
curkan terowongan itu. Tahun 1966, misalnya, Amerika menurunkan
3.000 tentara di Cu Chi. Mereka didukung dengan tank dan altil-
eri. Pasukan itu menyemprotkan air ke dalam lubang-lubang yang
diduga menjadi pintu masuk terowongan. Di tempat-tempat yang jauh
dari Sungai Saigon, Amerika mengerahkan helikopter untuk mengang-
kut air. Tujuannya: membanjiri terowongan itu. Tapi usaha itu
sia-sia belaka. Ujung terowongan Cu Chi terletak di perbukitan
tinggi, sehingga tak cukup air untuk menenggelamkannya. Usaha
penyemprotan, akhirnya dihentikan.

     Dalam Operasi Sedarfall operasi membumihanguskan Cu Chi
Amerika mengerahkan 12.000 pasukannya. Segitiga besi basis perta-
hanan Vietnam dengan jantungnya di perbukitan Cu Chi menjadi
sasaran utama. Amerika memutuskan wilayah itu sebagai daerah
bebas untuk dihancurkan. Setiap pilot yang terbang, dan masih
memiliki bom di pesawatnya, sebelum balik ke pangkalan, boleh
menjatuhkan bom yang tersisa di daerah itu. Dalam operasi ini,
Amerika juga mengikutkan 600 tentara berbadan seukuran orang Asia
dijuluki pasukan tikus, untuk masuk terowongan, dan meledakkan-
nya.

     Pasukan tikus, biasanya bekerja dalam tim-tim kecil berang-
gota empat orang. Dua orang masuk terowongan dengan badan teri-
kat, dua lainnya memegangi tali dari luar. Mereka memakai masker
anti gas, senapan untuk di dalam air, alat menggali, lampu senter
dan peralatan lengkap lainnya. Tapi, perlengkapan modern itu,
ternyata tak mampu mengalahkan ranjau-ranjau sederhana yang
dipasang tentara Vietnam di lorong-lorong terowongan. Ratusan
serdadu Amerika mati dalam usahanya menembus pertahanan rakyat Cu
Chi itu. Operasi tikus gagal.

     Amerika mencari cara lain. Mereka kerahkan 3.000 ekor anjing
Altasian untuk mengendus lubang-lubang persembunyian Vietkong.
Gerilyawan menjawab serangan baru itu dengan menaburkan bubuk
cabe dan lada di mulut terowongan, sehingga membuat anjing-anjing
Altasian itu batuk-batuk dan malas mengendus lagi. Menurut data
Amerika sendiri, 300 ekor Altasian mati dalam operasi itu. Ketika
foto-foto anjing yang mati itu dipublikasikan, masyarakat Amerika
marah. Matinya anjing lebih menimbulkan amarah orang Barat ketim-
bang korban manusia, kata seorang peserta tur. Mungkin, ia ber-
lebihan, tapi operasi Altasian itu memang dihentikan.

     Frustrasi dengan kegagalan-kegagalan itu, Amerika mengerah-
kan ratusan buldoser untuk mengeruk perbukitan Cu Chi. Lubang
terowongan yang ditemukan, segera disemprot gas beracun. Namun
usaha ini pun sia-sia. Terlalu banyak bagian rahasia dari sistem
terowongan itu, yang terpisah dari mulut-mulut terowongan, dan
menjadi persembunyian aman. Bebas dari semprotan gas beracun.
Amerika akhirnya, mengakui keunggulan kota bawah tanah Cu Chi
itu. Mereka menyerah, seperti nantinya mereka pun mengaku kalah
dalam perang total di Vietnam.

     Perlawanan heroik dan cerdik rakyat Cu Chi, bukannya tanpa
korban. Sekitar 28.000 rumah diperbukitan itu hangus dibakar.
Lebih dari 50.000 penduduk Kecamatan Cu Chi tewas selama perang
melawan Amerika. Hingga suatu kali, daerah itu dijuluki daerah
tanpa laki-laki. Karena hampir semua laki-lakinya tewas.

     Cu Chi, sekitar dua jam perjalanan bis dari Ho Chi Minh
City, kini menjadi monumen keteguhan rakyat Vietnam ketika mengu-
sir agresi Amerika Serikat. Berbagai gelar kepahlawanan dianuger-
ahkan untuk kecamatan itu. Penghormatan yang pantas, agaknya.
Orang Vietnam membanggakan mereka, sebagai satu bukti keunggulan
semangat dan cita-cita mengalahkan uang dan teknologi. Amerika
yang berperang tanpa motivasi jelas dan menghabiskan 60 milyar
dollar, akhirnya harus mengakui ketabahan dan tekad pasukan
sandal jepit yang dibakar oleh semangat membebaskan negerinya
itu.

     Kalangan pergerakan di Indonesia, yang kini menghadapi
tantangan dengan logistik dan peralatan yang tak sebanding terha-
dap pendukung status quo, mungkin bisa bercermin dari pengalaman
Cu Chi. Mengandalkan semangat dan cita-cita yang benar, sambil
bekerja bersama rakyat, adalah kekuatan yang bisa menaklukan
modal dan senjata. Kekuatan manusia mengalahkan peralatan.

Posted by : Infolahta Ditziad

J & S Franklin – Barrier Walls dan Struktur

Posted in RINTANGAN on Januari 30, 2009 by zeniad

1s dc lodgehillModular adalah desain yang fleksibel dan fleksibel, yang memungkinkan berbagai ukuran untuk digabungkan untuk meningkatkan perlindungan dan tugas-tugas tertentu, dan alam tampilan pada bahan memungkinkan penghalang untuk segera paduan ke sekitarnya. Telah diuji terhadap ballistically amunisi sampai 25mm meriam, termasuk APDS dan pengusut, serta multi-shot, dan memberikan perlindungan yang sangat baik.  Ia sangat ideal untuk digunakan di lapangan tembak konstruksi, integritas struktural untuk memberikan garis dinding dan peluru perangkap.

Modular KENDARAAN BARRIER

3s defencellDefenCell dapat digunakan untuk menyediakan penghalang efektif untuk lalu lintas dan digunakan untuk membangun pemeriksaan, dan menjaga chicanes posting. Kendaraan yang DefenCell penghalang telah diuji terhadap 7.5t truk di 42mph dan berhasil dihentikan dalam hal 3m. Berat dari Defencell dan kecepatan pengisiannya membuat cocok untuk operasi yang berdiri sendiri atau untuk sementara meningkatkan keamanan yang ada.

2s bew cropDefenCell adalah benar-benar fleksibel dan produk ini juga cocok untuk berbagai pilihan sipil nusa dan keamanan aplikasi. Panel sel-sel bahan yang dapat digunakan untuk Stabilisasi tanah, dan untuk mempersiapkan roadways bangunan hardstanding daerah untuk kendaraan dan gerakan pesawat terbang. Penghalang dinding dapat dibangun untuk memberikan perlindungan banjir, baik untuk melindungi infrastruktur yang sudah ada atau untuk meningkatkan levees sementara dalam keadaan darurat.

 

 

J & S Franklin
Franklin House Franklin Rumah
151 Strand 151 Strand
London WC2R 1HL London WC2R 1HL
United Kingdom Inggris

 

 

Posted by Infolahta Ditziad

Terowongan Cu Chi yang Bikin Tentara Amerika Kewalahan

Posted in RINTANGAN on Januari 26, 2009 by zeniad

vietnam

Tunel Cu Chi merupakan jaringan besar yang menghubungkan lorong-lorong bawah tanah di daerah Cu Chi, Vietnam.
Pada mulanya tidak ada perintah langsung untuk membangun tunel ini, tapi tunel timbul sebagai jawaban taktik perang untuk menghadapi serangan yang dilakukan tentara Perancis dan kemudian USA.
Tahun 1948 tunel mulai dibangun sehingga mereka bisa menghindari serangan udara dan darat tentara perancis.
Setiap desa membangun rute tunelnya sendiri dan lambat laun rute-rute tersebut berhasil dihubungkan satu sama lain lalu diperkuat.
Tunel juga digunakan oleh tentara NFL “National Liberation Front” ( Viet Cong) untuk menghadapi tentara Amerika dalam perang vietnam.
Pada tahun 1965 sudah terdapat tunel yang terhubung dengan panjang lebih dari 200 Km dan itu pun semakin berkembang , rutenya menjadi lebih komplex, sehingga tunel juga dilengkapi dengan berbagai macam sarana seperti kamar tidur, dapur , tempat perawatan/rumah sakit.
Peralatan banyak didapatkan dari hasil rampasan perang yang diimprovisasi, seperti listrik dihasilkan dari mesin motor curian.
Bidang kedokteran juga banyak mengalami improvisasi, dari bangkai pesawat disulap menjadi alat-alat bedah, sehingga dokter dapat melakukan transfusi darah.
Air dan makanan menjadi barang langka, tidak jarang para pejuang ini harus tinggal berhari-hari lamanya di dalam tunel untuk menghindari pemboman yang dilakukan tentara Amerika.
Selain kalajengking, semut , laba-laba ,nyamuk, penyakit malaria juga menambah susahnya kehidupan di tunel.
Keberadaan tunel akhirnya dicium Amerika dan mereka melancarkan operasi untuk menghancurkan tunel dengan mengirim pesawat B52 dan menjatuhkan sebanyak 30 ton bom di daerah Cu Chi.
Pasukan darat juga dikirim untuk menemukan dan menghancurkan tunel.
Walaupun demikian Amerika tidak pernah bisa menghancurkan kekuatan dan kehebatan tunel.

Perang Vietnam membuat frustasi tentara Amerika , banyaknya korban dan kerugian materi menyebabkan Amerika tahun 1975 menarik mundur tentaranya.

Sekarang tunel telah dialih fungsikan sebagai tempat atraksi bagi turis.

vietnam
vietnam

vietnam

Tunel Rat
Tunel rat adalah nama pasukan elite yg dibentuk khusus untuk memerangi dan menghancurkan gerilyawan yg bersembunyi di tunel dng cara masuk ke dalam tunnel.
Pasukan elite tsb umumnya tentara yg bertubuhkecil, kebanyakan berethnik Puerto rico atau Mexico.
Persenjataan yg dibawa pisau, pistol , lampu senter.
vietnam
 

 

sumber : seputar Indonesia.com

posted by Infolahta Ditziad

Indonesia, Konvensi Ottawa dan Ranjau Darat

Posted in RINTANGAN on Desember 31, 2008 by zeniad

ranjau

“AWAS…!!!” Betapa terkejutnya ketika tiba-tiba badan Kompas ditarik ke belakang dengan begitu kencang. “Lihat, beberapa inci lagi kakimu menginjak ini,” kata seorang petugas sambil menunjukkan sebuah ranjau darat antipersonel yang berada hanya beberapa inci dari ujung kaki.

Bila benar-benar terinjak dan meledak, minimal satu kaki akan melayang, begitu kata mereka. Masih jelas terbayang peristiwa beberapa waktu lalu itu, ketika Kompas bergabung dengan Cambodian Mines Active Center (CMAC) atau Pusat Ranjau Aktif Kamboja, dalam upaya membersihkan ranjau darat di Battambang, Kamboja.

Kekhawatiran menginjak ranjau di Kamboja memang begitu tinggi. Setelah mengalami serentetan pertikaian, di Kamboja setidaknya tertanam sekitar enam juta ranjau yang tersebar di seluruh wilayah negeri berbentuk mangkuk tersebut.

Lebih parah lagi, penanaman ranjau di Kamboja tidak mengikuti aturan konvensi, karena sebagian besar ditanam secara acak oleh penduduk sipil. Fungsi ranjau pun bukan semata-mata untuk kepentingan militer dalam menghalangi atau menghalau musuh, tetapi kadang bahkan digunakan untuk melindungi sawah dan ternak. Kondisi ini semakin menyulitkan pembersihan ranjau.

Untuk lebih mendalami masalah itu, awal minggu lalu, Departemen Luar Negeri (Deplu), tepatnya Direktorat Organisasi Internasional (OI) mengadakan seminar tentang ranjau darat antipersonel yang lebih dikenal dengan sebutan APL (Anti Personel Landmines). Selain para diplomat, seminar juga melibatkan pihak militer dan para akademisi. Diharapkan seminar ini mampu memberi masukan perlunya Indonesia meratifikasi konvensi yang secara menyeluruh melarang ranjau darat antipersonel tersebut.

“Aduh, keringat saya segede-gede jagung,” komentar seorang peserta seminar yang juga pernah bertugas di Kamboja. Ia bercerita, saat berjalan menelusuri suatu wilayah, kakinya menginjak sesuatu yang berbunyi mirip logam. “Dan ternyata itu ranjau antitank,” ujarnya.

***

INDONESIA memang tidak terkait secara langsung dengan masalah penggunaan ranjau darat. Selama ini, Indonesia tidak pernah menggunakan ranjau, dalam setiap konflik yang ada, misalnya, dulu di Timor Timur, lalu Aceh, Irian Jaya, maupun Maluku.

Namun, pada tanggal 4 Desember 1997, Indonesia menandatangani Konvensi Ottawa yang pada prinsipnya melarang ranjau darat secara total. Keputusan itu lebih didasari pada komitmen Indonesia pada tujuan pokok Konvensi, yaitu mengakhiri penderitaan dan korban akibat penggunaan ranjau darat antipersonel, terutama rakyat sipil. Selain itu, Indonesia mendukung sepenuhnya kenyataan penggunaan ranjau darat antipersonel telah menghambat usaha pembangunan ekonomi dan rekonstruksi. Penggunaan ranjau juga menghalangi kembalinya para pengungsi ke wilayah mereka karena khawatir wilayahnya masih dipenuhi ranjau. Yang lebih parah, penggunaan ranjau darat ini menimbulkan akibat buruk selama bertahun-tahun, bahkan jauh setelah konflik bersenjata berakhir.

Langkah Indonesia itu bisa dimengerti, karena setiap tahun, ranjau antipersonel melukai setidaknya 26.000 orang. Sebanyak 90 persen di antaranya adalah penduduk sipil dan hanya 10 persen personel militer. PBB memperkirakan, diperlukan 1.000 tahun untuk membersihkan 110 juta ranjau yang diduga sekarang tertanam di seluruh muka Bumi. Itu pun dengan asumsi tidak ada ranjau baru. Untuk setiap 5.000 ranjau yang dibersihkan, diperkirakan ada seorang pembersih tewas dan dua luka-luka.

Repotnya, dalam waktu 25 tahun terakhir, ranjau darat yang diproduksi tercatat mencapai 255 juta. Sebanyak 190 juta di antaranya adalah ranjau darat antipersonel, yang sangat rentan terhadap beban. Ia akan langsung meledak, meski hanya mendapat beban 2,5 kilogram sekalipun. Jumlah ranjau itu diproduksi oleh sekitar 100 perusahaan yang tersebar di 55 negara. Produksi ranjau mencapai 360 jenis dengan harga sangat murah, yaitu antara satu dollar AS hingga 10 dollar AS, tergantung tingkat kecanggihannya.

Dari jumlah itu, diperkirakan antara 85 juta hingga 110 juta telah tertanam di seluruh muka Bumi, dengan tempat terparah di Afganistan, Angola, Kamboja, Mozambik, dan bekas Yugoslavia. Kondisi itu diperparah dengan kenyataan telah ditanamnya dua juta ranjau APL baru.

Demi alasan kemanusiaan, Indonesia mendukung upaya pembersihan ranjau darat (demining) dan rehabilitasi korban ranjau darat di beberapa wilayah. Bahkan tahun 1996, setahun sebelum dilanda krisis moneter, Indonesia masih mampu menyumbangkan 40.000 dollar AS untuk pembersihan ranjau di Kamboja. Meski baru menandatangani, namun Indonesia telah ikut berperan aktif dalam setiap pertemuan konferensi negara-negara yang telah meratifikasi Konvensi Ottawa.

Persoalannya, hingga saat ini Indonesia belum meratifikasi Konvensi tersebut. Konvensi itu sendiri terbuka untuk ditandatangani tanggal 3 Desember 1997 dan diberlakukan sejak tanggal 1 Maret 1999. Hingga tanggal 10 Oktober 2001, Konvensi itu telah ditandatangani 142 negara dan diratifikasi 122 negara.

Dari 142 negara penanda tangan itu, justru negara-negara produsen dan pengguna ranjau darat terbesar belum bersedia menandatangani. Misalnya, Amerika Serikat, Rusia, Cina, India, Pakistan, Kuba, Korea Selatan, dan Korea Utara, serta negara-negara ASEAN seperti Singapura, Laos, Vietnam, dan Myanmar. Indonesia dan Brunei Darussalam merupakan negara yang telah menandatangani, sedang Kamboja, Malaysia, Thailand, dan Filipina adalah negara-negara ASEAN yang telah meratifikasi.

Pada prinsipnya, Konvensi Ottawa berisi larangan mutlak pada penggunaan, produksi, simpanan, ekspor, dan transfer ranjau darat antipersonel. Dan meratifikasi Konvensi Ottawa, berarti harus bersedia melaksanakan kewajiban yang ditimbulkan. Karena, negara yang sudah meratifikasi Konvensi Ottawa atau yang disebut negara pihak, harus patuh dan setia pada ketentuan Konvensi.

Yaitu, negara pihak harus menyerahkan piagam ratifikasi kepada Sekretaris Jenderal PBB sebagai pihak depositor. Setelah itu, negara pihak tidak diperkenankan menggunakan, mengembangkan, memproduksi, menyimpan, mentransfer, atau membantu pihak lain untuk melakukan hal-hal tersebut.

Setiap negara pihak harus menghancurkan seluruh simpanan ranjaunya dalam waktu empat tahun sejak meratifikasi Konvensi tersebut, kecuali untuk sejumlah ranjau yang boleh disimpan guna mengembangkan dan melatih teknik mendeteksi, membersihkan, atau menghancurkan ranjau. Negara pihak harus menghancurkan seluruh ranjau yang ada di wilayahnya atau masih menjadi wilayah yurisdiksinya dalam waktu 10 tahun.

Negara pihak juga berkewajiban mengambil langkah seperlunya untuk melindungi pihak sipil sampai tugas pembersihan ranjau selesai dilakukan. Namun untuk negara pihak yang di wilayahnya terdapat banyak ranjau, berhak meminta bantuan negara pihak lain untuk membersihkan ranjau bila negara tersebut tidak mampu melakukan. Kecuali itu, negara pihak harus membuat laporan tahunan tentang upaya yang dilakukan dalam melaksanakan kewajibannya.

***

DENGAN menandatangani Konvensi Ottawa, Indonesia memang secara otomatis hanya menghadapi implikasi yang terbatas pada ikatan moral pada prinsip dan tujuan Konvensi, yaitu mengakhiri penderitaan dan korban akibat penggunaan ranjau darat antipersonel, terutama rakyat sipil.

Namun, Indonesia tetap perlu meratifikasi, sebagai bentuk pengukuhan dari komitmen suatu negara dalam melaksanakan kewajiban Konvensi secara lebih bertanggung jawab. Selain itu, juga memperkuat ikatan moral yang telah dimiliki sebelumnya terhadap semangat Konvensi tersebut. Tidak hanya itu, meratifikasi berarti sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam meningkatkan upaya menciptakan perdamaian dunia.

Walau begitu, ratifikasi memiliki dampak positif maupun negatif. Ditinjau dari segi politis dan substansial, dampak negatif yang ditimbulkan setelah ratifikasi bagi Indonesia adalah keterikatan untuk melaksanakan seluruh kewajiban yang ditetapkan Konvensi, termasuk menghancurkan seluruh ranjau darat antipersonel yang dimiliki, serta memberi klarifikasi bila ada permintaan dari sesama negara pihak untuk memastikan kepatuhan Indonesia.

Harus diakui, menghancurkan ranjau ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dalam catatan Kompas, estimasi PBB untuk menghancurkan satu ranjau memerlukan biaya puluhan kali lipat dari harga ranjau itu sendiri.

Meski tidak pernah digunakan dalam konflik internal, namun Indonesia memiliki sejumlah ranjau yang seluruhnya aktif. Angka yang pernah disebutkan selama ini mencapai 15.000 ranjau. Jumlah yang terlalu kecil dibanding dengan luas wilayah Indonesia yang terdiri dari 17.580 pulau. Karena itu, bisa pula dikatakan, angka itu tidak menghalangi upaya RI untuk meratifikasi Konvensi.

Dampak negatif lain, Indonesia tidak dapat menggunakan ranjau antipersonel sebagai salah satu senjata dalam sistem pertahanan nasional. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17.580 pulau dan seribu di antaranya berpenghuni. Sementara dari segi pertahanan, ranjau merupakan salah satu senjata yang paling strategis dan murah dalam menggiring musuh.

“Terutama karena kita ini memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Hampir semua pantai bisa didarati amfibi. Kalau dijaga dengan personel dan senjata butuh berapa banyak? Nah, ranjau merupakan salah satu bentuk rintangan buatan untuk menghalangi musuh,” kata salah satu peserta. Namun, kenyataannya, hingga saat ini, Indonesia tidak pernah sampai menggunakan ranjau untuk mengatasi segala persoalan yang ada, bahkan untuk mempertahankan wilayahnya.

Selain itu, Indonesia tidak diizinkan merancang, memproduksi, atau menimbun ranjau antipersonel, kecuali sejumlah kecil untuk kepentingan pelatihan militer. Harus diakui, dalam konferensi ketiga di Managua, Nikaragua, 18-21 September 2001, masih terjadi perdebatan tentang jumlah yang diizinkan untuk pelatihan tersebut. Dengan kata lain, belum tercapai kata sepakat tentang jumlah minimal yang diizinkan. Swedia menghendaki jumlah minimum yang bisa disimpan adalah 11.120, Brasil meminta 16.500, dan Italia 8.000, lalu Argentina yang semula mengatakan 3.049 beralih menjadi 13.025 ranjau antipersonel.

Selain dampak negatif, dengan meratifikasi, Indonesia pun juga akan memperoleh dampak positif. Antara lain, citra Indonesia sebagai salah satu pendukung perlindungan nilai-nilai kemanusiaan akan meningkat. Indonesia pun ikut menciptakan saling percaya di kalangan negara-negara pihak, terutama di kawasan, memperoleh akses informasi yang berhubungan dengan teknologi penyapuan ranjau dan teknologi lain yang berhubungan dengan kepentingan kemanusiaan.

Keuntungan lain, sistem hukum nasional Indonesia akan semakin kuat, karena harus membentuk peraturan perundangan baru mengenai hukuman bagi orang atau warga negara Indonesia yang terlibat dalam kegiatan yang tidak sesuai dengan ketentuan Konvensi Ottawa.

Walau begitu, ratifikasi itu tetap harus dikaji dari empat sudut pandang, yaitu politik luar negeri (diplomasi), politik dalam negeri, dalam arti dukungan dari seluruh masyarakat, hukum, dan operasional. Dari sudut pandangan politik luar negeri, Indonesia perlu menegaskan landasan pemikiran dan keputusan ratifikasi adalah kerangka pertimbangan kemanusiaan.

Sedang dalam kerangka regional, Indonesia perlu memperhatikan citranya sebagai negara yang konsisten memajukan upaya membina saling percaya, menciptakan stabilitas dan perdamaian untuk kepentingan pembangunan, serta kesejahteraan rakyat. Dalam kaitan ini, perlu pula mengkaji posisi negara-negara ASEAN dan ARF terhadap ranjau antipersonel (APL). Bahkan perlu pula menjajaki kemungkinan mengembangkan gagasan ASEAN APL-free zone.

Selain itu, ratifikasi tidak boleh melemahkan keandalan Indonesia dalam memperkuat pertahanan nasionalnya. Untuk itu, perlu diimbangi dengan meningkatkan kemampuan alternatif, terutama dalam menunjang ketahanan dana pertahanan strategis.

Dalam hal ini, Indonesia berkepentingan membuat norma-norma konvensi menjadi komitmen yang juga dianut oleh negara-negara di kawasan. Terutama karena ada kebutuhan bekerja sama dalam mencegah ranjau antipersonel menjadi perdagangan gelap atau jatuh ke tangan separatis.

Terlepas dari persoalan yang masih tersimpan, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak segera meratifikasi. Sekarang atau nanti setelah sama sekali terlambat.

sumber : http://www.kompas.com